Tuesday, September 27, 2005

The happy and healthy me, DH Season 2, Gudeg Ceker Bu Kasno

I'm back home, all tan and healthy. And happy :)

poolI swam every morning (and day, and whenever I had chance),

had a big pile of fresh fruits every morning for breakfast,

no work,
no computer,
no nagging emails.

I feel oh so good!

Back with my computer again, checked Travis' site and found that Desperate Housewives Season Two episode 1 is ready for downloading! Oh, Travis, may God bless you with everything that's good and pure.. You're such a soul saver..

Now I am downloading like crrrrraaaazeeehh, rrrrroarrrrr..!

Anyway, from the whole of our food adventure (me and my siblings') , what impressed me the most, and surely will get me craving from now on, is Gudeg Ceker Bu Kasno! The Krecek is oh so savory, and the best part is the Ceker itself. It fell off the bone so easily, just stick it to your mouth, chew, then pull the bone. All the juicy savory Ceker's flesh will be left in your mouth, leaving you with only the bone in your hand. Without realizing it, you had finished probably 20 Cekers already :)

The 'ritual' before the stall is open, was even more interesting. Man, I should've brought my digicam! Picture will speak more than words, especially right now when I'm soooo lazy to type. Two words-lah: MUST HAVE. Enough said.

Gotta go. I have a meeting tomorrow morning. Damn, I hate meetings.

Friday, September 23, 2005

This wedding thingy

travel

My bag is packed. I'm ready to go tomorrow morning.

I just don't understand people having wedding receptions where families have to wear kebaya uniforms. Why should we? It's a fuss and it is a waste. Waste of money (big big time), waste of time, waste of energy. Just for a wardrobe we hardly even wear twice in our life.

If people wanna know who's who in that reception, ask someone (for heaven's sake!). I never see this uniform thing became useful to identify families anyway. In a reception, people just head off to the food right after, or even before, they congratulate the happy couple.

Uh well, a lot of people like to fuss and being fussed, what are you gonna do.

Anyway, I'll use this trip to refresh myself, disconnect myself from all daily routine. Although I really wished I could attend tomorrow's baking class (international chef, hotel quality desserts and cakes,... ow my..)

Gotta go. Can't be late tomorrow. The flight is 08:25 and I have to pick up my brother first.

Thursday, September 15, 2005

Today's Desktop

Desktop Vai.com
  • My old friend Avin of Voices in My Head wrote a nice post about me and him having this mild peter pan syndrome (not the band, for heaven's sake).
  • Hubby made me watch Married with Children. My Gosh, it blew me! He's so attached to this series the way I'm attached to Friends. He said, humorwise, Married With Children is like Conan O'Brien while Friends is Jay Leno :)
  • The Practice is back. With James Spader and Sharon Stone! Christine Hakim, you're lucky thing you..
  • Another project is waiting. Welcome back, red-eye.
    This time it's a research project for my loyal client, a.k.a my former boss. Wow, just about time I was gonna cut my internet cable subscription. It's too expensive for such a slow speed.
  • Hari Minggu ada pesta kawinan sodara. Duh, pegimana ini secara diri udah gak mungkin pake baju kutung lageh? Kudu improv dunk yeh. Lagi pelit nih gak mau beli baju baru..
  • Minggu depan ke Solo, ngelamarin kakak :)
    "Kita berenang aja di hotel, gak usah jalan-jalan ya. Bosen nyolo." Hubby agreed in a second. Tapi mpo' gue nih pasti nyap-nyap nyuruh gue ikut jalan ke sana kemari. Pura-pura gila aja deh..

Tuesday, September 13, 2005

Muntahan hari ini

  • Dan Brown, buku anda jeleknya gak alang kepalang! Tapi riset anda gue perlukan!

    Dan Brown ini nulis buku dengan di kepalanya penuh pikiran,"Ini buku harus difilm-in." Gitu. jadi dia bikin adegan demi adegan persis kayak film-film sampah Hollywood. Dia gambarkan tokoh-tokoh yang mirip penghuni berita Entertainment Tonight.

    Duileeee... iye de, iyeeee... bakal dipelmin, nyang maen nikol kitmen, anjelina joli, sama harison fort (yang ini kagak kesampean, secara si Langdon bakalan diperanin sama Tom Hanks).

    Tapi risetnya itu.... yang bikin pecinta teori konspirasi kayak gue mantengin bukunya mulai dari yang paling pasaran (yang sampe ada tournya tuh..., ampe malu nyebutnya saking udah jadi barang dagangan abis-abisan) sampe Digital Fortress, sampe..... gak tau sampe kapan dia berenti riset.
    • Ribetnya ngurus KTP. Secara gue statusnya pindah rumah. Nyogok emang bisa. Tapi sambil 'neg gitu. Terpaksa jadi bagian dari sistem yang korup. Grmblll...
      • Joey started to become more and more like Friends. Well, hey, works for me :) And I love Bobbie!

      • Demo kemarin nyaman sekali suasananya. Secara pesertanya gak banyak (7-8 orang), jadi lebih santai dan fokus. Materi diskusi juga bisa lebih banyak.

        Emang sih idealnya peserta jangan lebih dari 10 orang. Dulu-dulu juga dibatesin sampe maksimal 15. Tapi belakangan jadi makin gendut sampe 20-25 orang. (Hmm... mungkin musti dipikirin untuk balik ke jumlah sedikit ini.)
      • Marty Casey, you're the man!
      • Reality Stars Fear Factor will be on Star World next Monday.
        Oh, Ryan Sutter,
        my love!

      Saturday, September 10, 2005

      Pada Sebuah Angkot

      Suatu hari, 2003

      Sebuah angkot, berjalan di jalanan panas berdebu Kali Malang, sekitar pukul 5 sore, hari kerja. Angkot berhenti mengambil penumpang. Masuklah seorang ibu, usia 30-an, duduk tepat di belakang supir. Mereka mulai mengobrol.

      "Bang..."
      "Eh bu, mau kemana?"
      .......... ngobrol gak penting....
      "Gimana suami?"
      "Yah, gitu deh, Bang. Suami gak bisa kerja yang lain."
      "Emang gak bisa kerja lain selain jadi tukang sepatu?"
      "Gak bisa."
      "Ya situ mesti cari duit juga."
      "Iya, saya sih mau."
      "Mendingan buka warung rokok. Modalnya lima ratus ribu udah cukup. Asal rajin belanja ke pasar tiap hari."
      "Iya gitu, bang?"
      "Kalo warung rokok kan enak, tiap hari nungguin ya di situ aja. Tidur, makan di situ. Bisa gantian sama suami. "
      "...."
      "Yang penting tiap hari belanja ke pasar, beli rokok, permen, kacang. Nanti yang dipajang sih rokoknya macem-macem, tapi belanjanya yang sering dibeli orang aja. Palingan bayar preman tiap hari, atau kasih dia rokok."
      Si ibu terus mendengarkan sambil sesekali menimpali dengan pertanyaan dan persetujuan.
      "Nanti saya bikinin warungnya. Sekarang cari dulu lima ratus ribu, jadi dah tuh warung. Lumayan hasilnya."
      "Iya, ya."
      "Atau jualan kaca mata juga lumayan. Tuh banyak orang cirebon yang dapet banyak, jualan kaca mata," sambil menunjuk pedagang ceng-dem di pinggir jalan.
      Si abang angkot meneruskan penjelasannya,"Beli kaca matanya di Tangerang tuh, bawa ke sini. Lumayang untungnya. Banyak juga yang beli."

      Seorang wanita bekerja, duduk di samping supir, matanya berkaca-kaca. Tadi malam ia masih mengeluh: gaji kurang gede, kantor terlalu jauh. Kalau saja ibu dan bapak supir itu tau, berapa yang ia peroleh dengan pasti dalam sebulan (yang jumlahnya kemarin ia rasakan begitu kecil), hanya dengan melakukan pekerjaan yang bisa ia lakukan sambil merem. Tanpa keringat, karena ruangan ber-AC. Tanpa usaha terlalu serius. Mungkin mereka sudah menempeleng kepalanya atau mengusirnya keluar dari angkot.

      Tempeleng saya, ibu yang baik. Usir saya, bapak supir. Itu masih terlalu ringan untuk keserakahan hati saya. Keserakahan hati manusia yang tidak mampu bersyukur.

      Mysterious Way

      Energi Yang Paling Tinggi bekerja dengan cara yang sangat misterius. Sebuah benda bernilai sangat tinggi bagi suami saya menyerahkan diri hari ini, dan sekarang tergolek di kamar saya. Walaupun pernah bercita-cita memilikinya (man, it's Dave's gear!), memandangnya tergantung tinggi di dinding Guitar Center, namun tidak pernah jadi tujuannya. Berlebihan. Ridiculuos. Such a waste. Sekarang si Ridiculuos ada di samping meja komputer saya. Nyaris tanpa keringat. Tiba-tiba datang hanya karena ikhlas (amin). Setengah tidak percaya saya berujar, "Seperti Ahmad Thomson, si Kelana Pencari Illahi, 60 Poundsterling sampai di Mekah, hanya dengan ikhlas."

      Subhanallah. Karena cerita itu baru semalam dibaca suami saya. Bagaikan kata pengantar sebuah episode, Sang Maha Penulis Skenario menulis dengan enaknya.

      Ijinkan suami saya menghasilkan amal darinya, wahai Sang Maha Meminjamkan. Seperti Ahmad Thomson yang bekal enam puluh Poundsterlingnya tidak pernah sia-sia..

      Ihwal Sepotong Kain (1)

      Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

      Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

      Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

      Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

      Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? Menggurui sekali. Saya tidak enakan.

      Seorang teman bertemu saya untuk mendapatkan pencerahan. Pencerahan apa yang bisa saya berikan? Saya tidak punya petuah bijak dan pemahaman yang dalam untuk dibagi. Saya hanya tau saya penuh dosa. Pada orangtua, pada suami, pada saudara, pada orang-orang yang kenal saya. Dan cuma bisa sesunggukan menyesal (dengan tololnya) tiap ingat itu semua. Bahkan penyesalan itupun belum sanggup menggerakkan jiwa kerdil saya untuk mendatangi mereka satu persatu untuk minta maaf.

      Secarik kain ini memang bagaikan naungan. Tidak hanya melindungi kepala saya, juga sontak meneduhi hati saya. Namun apa yang bisa saya jelaskan?

      Tuesday, September 06, 2005

      Today's desktop

      Still Life on my desktop
      • Desktop hari ini menggambarkan persis apa yang gue rasakan terhadap si klien setia. Doi masih pengen revisi lagi!! Ya ampyuuuuuuuuuunnnn....

        That's it. Selama ini doi emang gue kasih privillege untuk revisi tanpa bayar. Next time gag lagi dakhhh... Hey mister, ente kudu bayar tiap kali revisi, okeh?

        [Ah, ngomong doang. Liat aja, next time imel kerjaan dateng lagi dari dia, yang ada malah gue kirimin email "This is an automated message. I am on vacation for the next two years. Please come back again never". Phlegmatic me.]
      • Ok, kartu ATM dua-duanya udah beres. Tinggal KTP. Oh, malasnya.
      • Pesenan kue buat lebaran udah mulai berdatangan, dan gue bete. Asisten yang sekarang, alamaaaak, pemalas dan gak mo' belajar sama sekali! Yang paling juara sih kalo dia dikasih tau kesalahannya atau diajarin sesuatu dengan baik-baik, hobinya tuh NYAUT.

        "Gus, lain kalo kalo ada orang cari saya, jangan langsung dibilang gak ada kayak tadi ya. Cari dulu saya ke dalem, saya tuh tadi ada di kamar."

        "Tapi tadi saya gak ada."

        Nah bingung kan loe?

        Pokoknya prinsip hidupnya dia tuh Menyahutlah sebelum kamu disahuti!

        Oh, betapa gue merindukan asisten gue yang dulu, yang sekarang dicuri kakak gue dan diboyong ke Surabaya. Semua tinggal instruksi, gue tinggal cemplang-cemplung, panggang, beressss. Hiks..

        Help Wanted!
        Dicari: Asisten tukang kue. Kualifikasi: rajin, mau belajar. Bisa nyiapin bahan kue sesuai resep. Pendidikan tidak diperhatikan. Pengalaman, kalo ada sukur. Jam kerja 5 jam saja sehari. Gaji memuaskan, plus diajarin bikin blog. Internet 24 jam.

        Dicari: Tukang antar kue. Kualifikasi: punya motor dan henfon sendiri. Rajin, jujur, mau belajar. Gesit nyari alamat di Jakarta, tapi gak hobby ngepot (soale bawa kue jek!). Bensin, rokok, pulsa henfon, dibayarin.

      • Pengen berenaaaaang........

      Sunday, September 04, 2005

      DVD Bajakan dan Raja Roti

      Kalo malem udah craving masakan Manado, besokannya kudu' kesampean. Jadi bener, besokannya kita ke kantin Manado di mal Ambasador.

      Sebelom pulang, ngelongok bentar ke pusat DVD bajakan seluruh dunia: lantai dasar. Tiga puluh enem ribu perak, udah dapet serial Joey, season 1 lengkep.

      Sedih, tapi gak berdaya.

      Sesungguhnyalah kalo ada ori-nya, mendingan beli ori-nya (semua VCD gue original).

      Gue benci cover burem bajakan, gue benci gambar buremnya (banding sama yang ori), gue benci gak bisa appreciate pembuatnya dengan ngasih uang gue ke kantong yang layak nerimanya. Ini paling kerasa sakit kalo terpaksa beli game bajakan. Secara gue tau banget kerasnya para game developer bikin PC game, terutama genre pure adventure. Pake survey ke lokasi sesungguhnya, pake riset, pake voice actor, pake orkestra philharmonic! Makanya waktu ada kesempetan ke Singapura waktu itu, bahagianya bisa beli game original! Bahagia bisa register game original ke situs publishernya. Bahagia liat credit title di penghujung game, knowing gue udah bayar ke orang yang berhak. Biasanya sesek banget ngeliat nama-nama crew yang jumlahnya segubrak, para jenius, yang gak nerima sesenpun uang yang gue bayarkan.

      Mendingan bayar 300 ribu (Sing$ 49) perak untuk game original, daripada 60 ribu perak game bajakan bercover burem pake kemungkinan game gak jalan.

      Anyway..
      Toko roti yang baru itu enak juga. Kalo gak salah namanya Bread King. Design tulisan Bread Kingnya jelek banget deh :) hihihih...
      Dengan naifnya gue nanya,"Halal gak nih, mbak?" Yeee, biar kata isinya daging manusia juga doi gak bakalan ngaku dyonk. Tapi cuma itu yang gue punya, pertanyaan. Mudah-mudahan selebihnya dosa dia. Hmm.

      Items recommended:

      • something...Tokyo (toppingnya puff pastry dihias poppy seed (or wijen itam?), isinya ayam & jamur)
      • something...Chocolate (wadahnya cup aluminium foil, toppingnya polo style pake coklat beras)

      Thursday, September 01, 2005

      Jujur itu enak

      Pertanyaan klise:
      Apa yang bisa kamu tawarkan untuk kami?/Apa yang membuat kamu istimewa dibanding kandidat lainnya?

      Jawaban klise:
      Saya berdedikasi tinggi, setia, bersedia kerja lembur. Saya memberikan 110 persen diri saya kepada apa yang saya kerjakan.

      Jawaban jujur:
      Bronis.
      Iya. Bronis buatan saya belom ada yang ngalahin sampe sekarang. Nanti saya bawain untuk anda, terutama kalo lagi perlu sesuatu buat nendang suntuk. Kandidat lain mana ada yang mau bikinin? Kalopun mau, gak bakal seenak bronis saya. Gih tanya mereka.

      Pertanyaan klise:
      Kenapa kamu pengen profesi ini? / Apa sih motivasi kamu?

      Jawaban klise:
      Karena profesi ini dinamis sekali. Membuat saya terus up-to-date dan tidak berhenti berkembang. Profesi ini juga pelayan masyarakat. Saya ingin bisa memberikan kembali apa yang saya punya kepada masyarakat.

      Jawaban jujur:
      Waktu kecil saya nonton film serial tv yang judulnya "Shoestring". Tokohnya seseorang yang berprofesi ini. Dia kelihatannya asik banget kerjanya. Saya lantas bercita-cita jadi profesi ini.

      Pertanyaan klise:
      Di mana kamu lihat diri kamu 5 tahun dari sekarang?

      Jawaban klise:
      Lima tahun dari sekarang, kondisi ekonomi saya sudah stabil, punya karir yang bagus dan aman, sudah mencapai semua goal jangka pendek saya.

      Jawaban jujur:
      (sambil meringis 'neg) Mencontek jawaban temen saya, lima tahun dari sekarang saya udah jadi master atas segala hal yang saya eksplor, atau tinggal di got. Mungkin dua-duanya!

      Pertanyaan klise:
      Apa kekuatan dan kelemahan kamu?

      Jawaban klise:
      Kekuatan saya, saya orang yang jujur, berdedikasi, menepati deadline, senang belajar, berjiwa pemimpin, logis, problem solver, pengambil keputusan, berkembang di bawah tekanan, tidak suka bergosip, blablabla...
      Kelemahan saya, sering mengharapkan orang bekerja sebaik saya (yah gila).

      Jawaban jujur:
      Saya pelupa. Jadi agenda saya penuh sama things-to-do sampe ke urusan beli garem segala. Saya juga gak ontime. Tapi kecepatan kerja saya 2-3 kali orang biasa, jadi emang gak perlu ontime. Saya hobby tenggo. Karena menurut saya, manusia sehari cukup kerja 5 jam aja, kayak orang Eropa. Toh sisanya juga dipake buat imel-imelan.

      Pertanyaan klise:
      Kamu bersedia kerja di hari libur besar/hari raya?

      Jawaban klise:
      Selama itu diperlukan dan untuk urusan yang masuk akal, saya bersedia (sambil tertekan jawabnya, soalnya ngibul).

      Jawaban jujur:
      Begini ya. Kalo sampe karyawan diperlukan kerja di hari libur besar, berarti manajemen anda buruk sekali. Tapi untuk menjawab pertanyaan, saya bukan hanya bersedia, tapi berharap sangat! Karena: satu, saya gak suka acara keluarga. Dua, saya seneng suasana kantor yang sepi. Tiga, jalanan gak macet. Empat, dan lain-lain yang terlalu panjang untuk saya ceritain.

      Pertanyaan klise:
      Kamu akan menjalani masa percobaan 3 bulan. Setelah itu hasil evaluasi akan menentukan apakah kamu layak lanjut atau tidak. Ok?

      Jawaban klise:
      Ok, ok (sambil manggut-manggut wise-loser).

      Jawaban jujur:
      Gak hanya perusahaan yang menilai saya donk. Saya juga akan ngeliat, cukup asik gak perusahaan ini buat saya? Dalam tiga bulan saya juga akan memutuskan apakah perusahaan ini layak memiliki saya.

      Based on true story

      Client Setia dan Mesjid yang Dilindungi

      Ampyuuuuun! Gila nih, client satu! Bolak balik itu kerjaan dilempar balik ke gue. Gak ada abisnya, gak ada puasnya, tapi gak kapok juga 'make' gue. I have a feeling he's probably sent by somebody to, slowly but sure, cold bloodedly kill me.. You know, like they did to the pope.

      Bukannya nolak rejeki, alhamdulillah banget masih dipercaya orang. Tapi kalo udah gak cocok, mendingan kita pisah baik-baik aja de…

      -----oo000oo-----

      Kemarin seorang temen melihat ada gedung terbakar. Gedung itu jadi satu dengan mesjid. Seluruh bagian gedung terbakar habis, gak bersisa. Tapi mesjidnya utuh, gak cacat sedikitpun.

      Jadi inget kakak yang pergi ke Aceh untuk tugas dokter. Ketika seluruh daratan hancur porak poranda rata dengan tanah, mesjid-mesjid tetap tegak berdiri. Allahu akbar... (dan air mata menitik lagi)


      Related Posts with Thumbnails