Skip to main content

Taman Nasional Wakatobi - More Than Coral Reefs (Bag. 2)

Wanci, Pulau Wangi-Wangi

Wakatobi 022

Ibu kota Wakatobi ini terletak di pulau Wangi-wangi. Kepulauan Tukang Besi sendiri terdiri dari 4 kepulauan besar: Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko, hence the popular name Wa-Ka-To-Bi. Saya akan ketemu dengan teman-teman di Wanci ini keesokan pagi, sebelum memulai perjalanan kami menjelajah Wakatobi.

Ojek membawa saya ke Penginapan Lamongan *loh kok Lamongan? Katanya di Sulawesi :D* di Jl. Merdeka, gak jauh dari pelabuhan. Saya tau penginapan ini dari Riri, ketika dia tau saya cari penginapan murah hanya untuk numpang tidur satu malam sebelum bergabung dengan grup Explore Indonesia esok hari.

Tempatnya bersih, kamarnya cukup luas untuk ukuran backpacker yang biasa umplukan di homestay, dan ya, ..murah :) Dengan 65 ribu Rupiah per malam saya mendapatkan kamar seluas 3x3,4 meter persegi *saya beneran ngukur nih :D*, double bed, TV dan kamar mandi di dalam. Bersih, nyaman, muat 4 orang kalo yang 2 lagi bawa sleeping bag.

 
Saya ketemu Ibu Rubina, pemilik penginapan, yang tanpa kata-kata langsung ngasih kunci dan mengantar saya ke kamar yang terpisah dari rumah induk. Ketika keesokan paginya saya keliling mau jemur handuk, baru lihat di bagian atas kamar saya berjejer kamar-kamar dengan kamar mandi dan TV di luar, 45 ribu per malam. Plus dibikinin teh manis pagi-pagi. Sedep kan?

Mas Mahrun dari Explore Indonesia jemput saya sekitar jam 9 pagi, lalu kami ke Hotel Wakatobi untuk bergabung dengan Indhi yang baru tiba dari Bau-Bau, P. Buton - *yup, ada Wangi-Wangi dan ada Bau-Bau, more story to this later :)*, naik kapal kayu kayak yang saya tumpangi tadi malam, dan Titi yang naik Express Air dari Ujung Pandang. Kami akan menjemput 2 orang lagi, Boetje dan Ciwi, di dermaga kecil gak jauh dari penginapan. Mereka datang naik kapal reguler dari Tomia, karena udah sampe duluan di sana beberapa hari sebelumnya untuk diving. Saya sama Indhi mewek kepengenaaaan..
Wakatobi 011
Grup kami hanya 6 orang termasuk mas Mahrun. Grup kecil yang menyenangkan. Boetje bawa buku mengenai Wakatobi yang langsung kami kerubuti. Foto covernya sungguh-oh-amat-mencengangkan: pemandangan bawah laut terumbu karang warna-warni, dengan centerpiecenya sebuah karang raksasa berbentuk spade berwarna merah menyala! Bagai monumen raksasa yang dipahat sempurna langsung oleh tangan-tangan malaikat atas kehendak Sang Khaliq! Masya Allah..

Sepanjang jalan keliling Wanci, saya, Indhi dan Titi asik menikmati foto-foto diving mereka di Tomia dan langsung setuju untuk diving di Pulau Hoga.

Suku Bajo dan Suku Daratan

Suku Bajo dan Suku Daratan adalah dua dari banyak suku penduduk Wakatobi. Mereka berasal dari satu suku, yaitu suku Bajau. Hanya saja suku Bajo memilih untuk tetap berumah tepat di atas laut, sementara suku Daratan bergerak lebih ke darat.

Ketika menjemput Boetje dan Ciwi di dermaga kecil dekat penginapan, kami melewati perkampungan suku Daratan di dekat dermaga. Perkampungan suku Daratan bisa dibedakan dari bentuk dan lokasi rumah mereka. Meski sama-sama di pinggir laut, rumah suku Daratan lebih menjorok ke darat dan sudah menggunakan fondasi permanen dari beton. Berbeda dengan suku Bajo yang benar-benar di atas laut dan mengandalkan karang untuk fondasi rumah panggung mereka.
Wakatobi 013 Wakatobi 014
Saya kesenengan mengamati anak-anak dan penduduk hilir mudik mendayung perahu di antara rumah-rumah mereka. Anak-anak berenang dan bermain air, di laut bening biru yang menjadi halaman belakang rumah mereka.

Satu hal langsung menarik perhatian saya. Penduduk Wakatobi sangat ramah, terbuka dan terbiasa dengan pendatang. Anak-anak Bajo langsung berpose dengan kenes dan gagahnya setiap kali lensa saya arahkan kepada mereka. Mereka tertawa, merespon dan sangat menyenangkan diajak berkomunikasi. And they seemed sooo happy, their smiles were contagious!

Wakatobi 012 Wakatobi 015

Pertanian Rumput Laut

Dengan laut yang yang demikian luas dan kaya, selain ikan, rumput laut pastilah menjadi salah satu sumber daya alam yang diandalkan penduduk setempat. Kami melewati pertanian pantai ini dan langsung teriak-teriak panik minta berhenti :D. Look at that color of the sea! Oh, so beautiful!

Wakatobi 017Wakatobi 071Wakatobi 019Wakatobi 002
Beberapa petani rumput laut tengah bekerja mengurus lahannya masing-masing. Merapikan batas-batas, memeriksa hasil panen, memilah rumput laut. Saya melihat ibu yang cantik ini dan segera mafhum melihat kemiripannya dengan tokoh Tayung yang diperankan Atikah Hasiholan di film The Mirror Never Lies.

Wakatobi 020
Para wanita di Wakatobi mengenakan bedak dingin ketika mereka beraktifitas di laut untuk mencegah kulit wajah mereka terbakar *raba muka sendiri*. Jadi waktu kami ke Desa Sama Bahari, desa suku Bajo yang di atas lautan itu, kami rame-rame pake bedak dingin ini, gak cewek, gak cowok, hihihi.. Dan, bener lohhhh! Kulit muka gak item dan gak kebakar sama sekali! Padahal berjam-jam kami terpanggang matahari laut Indonesia Timur yang super cerah, di atas perahu tanpa tudung! Beuhh.. Nivea gak bakal laku di sini!

Benteng dan Masjid Liya Togo

Benteng Liya Togo merupakan salah satu benteng pertahanan terluar dari kesultanan Buton yang melindungi benteng Wolio di P. Buton dari gangguan yang dapat merusak stabilitas benteng Wolio sebagai pusat pemerintahan kesultanan Buton. Seperti halnya Benteng Wolio --benteng terbesar di dunia (!!) yang mana saya sangat napsu ke sana-- benteng ini tersusun dari batu-batuan dan karang yang direkatkan dengan agar-agar dari rumput laut dan putih telur.
Wakatobi 021
Dibangun pada abad 16, benteng ini sudah mengalami pemugaran. Di kompleks benteng ini terdapat masjid tua Liya Togo yang juga berumur sama dengan benteng, dan beberapa makam keluarga kesultanan Buton. Konon dari masjid inilah Agama Islam pertama kali menyebar di kepulauan Tukang Besi dan sekitarnya, sehingga saat ini seluruh penduduk Wakatobi beragama Islam.

Kami keliling dan motret, saya nyari-nyari meriam peninggalan kerajaan Buton kok gak nemu ya????

Goa Mata Air Kontamale

Di Pulau Wangi-wangi terdapat 12 goa alam yang merupakan sumber mata air tawar. Whoaaa..! Uh-huh. Gak cuma bawah lautnya aja yang spektakuler yaaa ternyataaaa... Bahkan ada sebuah pantai yang dinamakan Pantai Moli Sahatu, atau Pantai Mata Air Seratus. Di pantai ini terdapat ratusan mata air tawar menyembul kecil-kecil sepanjang pantainya. Lucuk banget kan?

Kami hanya sempat ke Kontamale di akhir pelayaran hari terakhir, itupun sudah menjelang maghrib, sehingga udah gak bisa motret lagi karena gelap. Kalo ke sana siang-siang, tentu bisa motret airnya yang biru beniiing..

Pantai Cemara dan Pantai Waha

Wakatobi 024
Kami cuma sempat ke dua pantai ini. Well, satu lagi ke pantai di Patuno Resort sih. Tapi tempat mewah itu, yang biasa digunakan para pejabat untuk raker, meeting, dan sejuta alasan untuk liburan, sumpah gak asik. Indah, tapi gak asik. Beton semua, gak ada kehidupan penduduk asli. Ya iyalah, resort :D

Di Pantai Waha terutama, rumah-rumah penduduk berbaris, bapak-bapak nelayan melepas lelah dan ngopi di bale depan rumah, anak-anak bermain bola di pantai, main perahu di laut. Beuhh.. mana mereka semua seneng banget lagi saya fotoin.
Wakatobi 023
Wakatobi 073Wakatobi 074
Kami menikmati senja yang turun perlahan sambil mengamati anak-anak Wakatobi main perahu, mengagumi warna Laut Banda yang keperakan seperti foto infrared, langit senja biru-jingga-silver, lambaian ombak laksana kain beledu.

to be continued..

Comments

  1. it is my hometown...thanks for you information...so interesting

    ReplyDelete
    Replies
    1. I love your hometown. Thank you for coming by my blog.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…