Thursday, November 28, 2013

Menulis Perjalanan

Bromo-Ijen-Baluran 11

 وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ  
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. 
QS. Al-'A`raf [7] : 56

Beberapa teman menanyakan mengapa saya tidak menulis mengenai perjalanan-perjalanan saya. So far, saya hanya menuliskan 2 saja. Karimun Jawa dan Ujung Kulon. Sisanya berbuah puisi, kisah nelayan, dan postingan berbayar.

Tidak hanya mereka, saya sendiri heran mengapa saya tidak menuliskannya. Awalnya saya pikir sebabnya adalah sekedar keengganan akibat hilangnya catatan perjalanan sepekan menuju Raja Ampat yang saya tulis hari demi hari. Setelah catatan itu hilang, jangankan menulis, bahkan mencatat pun saya malas. Seperti orang yang patah arang, saya biarkan semuanya hanya terekam dalam ingatan yang makin lamur.

Pekan demi pekan berlalu.


Dalam sebuah perjalanan menuju desa Cibeo, saya menceritakan kepada seorang sahabat lama kisah saya dan kawan-kawan yang terpaksa mendarat malam-malam di Pulau Gam, Papua Barat, menerobos barikade laut perusahaan mutiara, dengan kapal tanpa lampu, mempertaruhkan nyawa seisi kapal.
     “Haduuh, kenapa gak elo tulis sih???”
Saya tidak menjawab apa-apa karena saya pun tidak tahu mengapa.

Bulan demi bulan berganti. Perkara catatan hilang sudah saya lupakan. Saya sudah mulai mencatat lagi. Tahun berganti. Saya masih saja tidak menulis. Catatan-catatan teronggok saja berserakan di buku dan tab. Ketika kesekian kalinya seorang teman baik menanyakan, “Ditulis donk Na, kepingin baca.” Jawab saya, “Rasanya gak sanggup, Ri.”
     “Kenapa?”
     “Setiap perjalanan itu kan sifatnya spiritual sekali.”
Teman baik saya mengangguk mengiyakan.

Spiritual dan sangat personal. Seperti bergandengan tangan dengan Sang Pencipta. Namun hal itu tidak bisa menjadi alasan seseorang tidak menulis. Bahkan seharusnya menjadi alasan utama mengapa perjalanan harus ditulis. Bukankah demikian?

Hingga seorang teman seperjalanan memberikan buku karyanya kepada saya. Kisah orang-orang yang ia temui sepanjang perjalanan. Orang-orang yang meninggalkan kesan di hatinya, yang dari mereka ia belajar mengerti, melalui mereka ia memperoleh makna lebih dari sekedar petualangan dan penelusuran.

There, my first enlightenment. Sudah lama saya ingin menulis mengenai orang-orang baik yang saya temui di setiap perjalanan. Tentang pak Hamid di Pulau Lentea dan kisah cinta backstreet dengan sang istri. Tentang Pak Narja, Sapri, Sanip, ibu Sarah yang cantik di Cibeo, Badui Dalam. Tentang Pak Meti dan mimpinya menjadikan warga lokal menjadi tuan rumah pariwisata di tanah mereka sendiri. Tentang seorang ibu yang memberi kami tumpangan mandi, lalu memberi saya sepotong batu Bacan ketika kami singgah di pulau penghasil batu alam langka tersebut. Tentang malaikat-malaikat yang menyelamatkan keberadaan kami malam itu di Pulau Gam. Orang-orang yang tetap tinggal di hati saya hingga kini.

PB233791

..tulisan perjalanan tak melulu soal tempat atau kisah dari a ke b ke c dan berakhir ke d dari pagi sampai sore. Menulis perjalanan bisa juga tentang sosok yang ditemui atau tentang apa yang dirasakan saat perjalanan. Bisa jadi menulis perjalanan adalah menulis tentang bagaimana kehidupan sopir bis yang saya tumpangi di perjalanan bukan? - Farchan Noor Rachman

Saya masih belum menulis.

Ketika booming pariwisata domestik merusak alam dengan sangat cepat, issue responsible writer merebak. Saya mengumpulkan beberapa artikel bagus mengenai itu dan berpikir bahwa seperti itulah saya akan menuliskan semua perjalanan saya pada akhirnya. Sebagai penulis perjalanan yang bertanggungjawab.

Namun masih saja saya tidak menulis.

Hingga pagi ini, saya membaca tulisan Farchan Noor Rachman, tentang lagi-lagi, responsible writer. Tak mampu menahan air mata usai membacanya. Saya temukan penyebabnya, mengapa saya tidak kunjung menuliskan semua perjalanan sarat cerita dan makna itu. Jawabnya satu: saya merasa bersalah. Ketika kembali ke Karimun Jawa setahun setelah saya menuliskan perjalanan saya ke sana, Karimun Jawa sudah mengalami degradasi besar, hanya dalam waktu 1 tahun! Kedatangan ratusan orang dalam saat bersamaan melunturkan kecantikannya. Sampah, sampah, sampah. Kelapa muda dan cumi sulit didapat. Penyu-penyu dan hiu mengalami stress, menderita dan mati.

Tentu saja masih banyak spot dan pulau lain yang tetap seindah dahulu. Pulau tak berpenghuni yang kalah populer, bertahan cantik dalam rentang detik yang bagai bom waktu. Saya sedih dan ngeri. Saya merasa memiliki andil dalam mendatangkan manusia-manusia egois yang lebih memikirkan profile picture daripada keberlangsungan alam raya. Lebih risau akan status mereka di sosial media ketimbang kewajibannya sebagai khalifah yang bertugas memakmurkan bumi. Saya merasa norak, alay, seperti mereka yang bangga berebutan mengejari hiu-hiu di pulau Menjangan Besar. Yang bertanya dengan super clueless, “Kenapa sih emangnya?” ketika saya menolak ikut menunggangi gajah di TN Way Kambas.

Ketika dikabarkan Ranu Kumbolo dan Pulau Sempu kini tertutup sampah, saya semakin kelu. Teringat jalur trekking TN Gede Pangrango yang juga sampah melulu. Teringat para penumpang kapal yang membuang sampah ke laut, edelweis yang dijual penduduk lokal, travel operator yang bangga membawa 400 orang sekaligus ke Pulau Tidung! Dan Jambore Avtech di Ranu Kumbolo yang diikuti 500 orang!

..faktanya pada beberapa kasus, pengunjung yang seenaknya dan pengelola yang mata duitan adalah faktor utama yang membuat kerusakan. - Farchan Noor Rachman

Jika saya mengenal pak Farchan, mungkin saya juga akan curhat pada beliau. Rasa bersalah ini melumpuhkan. Tak sanggup menulis satu patah katapun tentang perjalanan-perjalanan yang tak tergantikan itu. Tak sanggup. Meski berjanji akan banyak mengedukasi, meski berjanji akan mengingatkan pembaca untuk selalu melakukan konservasi.

Lalu saya teringat perjalanan ke TN Ujung Kulon dan TN Manusela. Kedua tempat ini cukup banyak dikunjungi orang, namun tetap terjaga kebersihan dan kealamiannya. Persamaan kedua tempat ini adalah kesiapannya menghadapi pendatang. Kesiapan ini meliputi semua pihak. Pengelola taman nasional, masyarakat penduduk sekitar, pelaku usaha pariwisata, dan tentu saja, pengunjung yang datang. 

Sejak semula masuk TNUK, para pengunjung umumnya sudah paham aturan dasar masuk Taman Nasional. Selain di penginapan resmi. TN tidak boleh dinodai dengan deterjen dan bahan-bahan lain yang tidak alami dan dapat mengganggu ekosistem alam. Sampah harus dibawa dan dibuang di tempat yang sudah disediakan. Para pemilik penginapan di Taman Jaya, tukang perahu dan jagawana, tidak pernah bosan menekankan aturan ini. Statusnya sebagai The World’s Heritage semakin menguatkan tanggungjawab pengunjung untuk mematuhinya.

Di TN Manusela, yang lautnya bening hingga ujung ke ujung, saya melihat seorang penduduk dewasa memarahi seorang anak yang hendak melempar bungkus makanan ke laut. 
     “Hey, laut bukan tempat sampah!” 
Perbincangan dengan Pak Cessar, pemilik penginapan di Banda Neira yang belasan tahun bekerja di TN Manusela, memberikan gambaran bahwa pengelola dan pemerintah daerah sejak awal memang bertekad melindungi alam Pulau Seram semaksimal mungkin dari gerusan komersialisasi dan pariwisata. Kawasan TN sudah diklaim untuk area yang sangat luas, agar tidak keduluan dijadikan kawasan industri. Pemilik penginapan tidak berpromosi secara berlebihan, secara alamiah menyaring yang datang hanyalah mereka yang sungguh-sungguh mampu mengapresiasi. Masyarakat menyadari keindahan alamnya dan sadar bahwa merekalah yang lebih dulu harus menjaganya tanpa harus menjadi antipati terhadap pengunjung.

Menelanjangi sebuah tempat wisata seolah semua orang harus kesana juga bukan sikap yang bijak. - Farchan Noor Rachman

Maka sebuah destinasi hanya boleh diungkap lokasinya ketika ia sudah siap. Pemerintah, masyarakat setempat, usaha pariwisata, dan pengunjung, semua siap menjaga keindahan, kebersihan dan kemurnian sebuah destinasi. 

Tidak ada kondisi ideal, tentu saja. Namun, menurut saya, Bromo adalah satu contoh mudah mengenai kesiapan. Pariwisata Bromo adalah salah satu denyut nadi penduduk sekitar. Usaha pariwisata berupa penyewaan mobil, penginapan, makan, bahkan tukang pijat, semua dikuasai rakyat setempat. Secara alamiah, mereka melindungi sumber penghasilannya. Ini tidak akan terjadi jika pemerintah daerah tidak mendukung. Mau sehiperbolis apapun saya menulis tentang Bromo dan penduduk Tengger, destinasi ini insya Allah akan tetap seindah dahulu. Amiin.

Bromo-Ijen-Baluran-01


Pak Meti menginginkan hal ini. Beliau menginginkan dive center, penginapan, dan usaha wisata lainnya di Wakatobi tidak lagi dimonopoli bangsa asing. Tapi milik rakyat setempat, yang secara resmi didukung oleh regulasi pemerintah daerah. Sementara Forkani terus berjuang melindung laut Wakatobi dari gempuran bom ikan nelayan pendatang.

Mungkin salah satu indikasi kesiapan ini adalah dominasi usaha lokal yang mengalahkan usaha milik asing. Tentu saja mereka pun perlu diedukasi. Namun usaha pariwisata yang bersifat organik memiliki sense of belonging dan tanggungjawab yang lebih tinggi. Para pemilik penginapan, tour guide, pengelola destinasi, masyarakat lokal, adalah garda depan pelindung alam dan edukator para pendatang. Dan jika tuan rumah siap menerima tamu, maka para tamu mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan aturan tuan rumah. Jangan rusak alam kami, or go the hell out of here. Merusak alam kami adalah merusak hidup kami. Hormati tata cara dan budaya kami, maka kami adalah saudaramu. Go away, or come in peace. We’ll be happy to have you.

Lalu, wahai para penulis perjalanan, menulislah. Ceritakan kepada dunia tentang apa saja yang engkau mau tentang sebuah destinasi. As long as the locals are ready. Jika mereka masih gagap menerimamu, simpanlah segalanya dalam cerita indah tanpa informasi terlalu banyak. Lindungi mereka, hingga saatnya mereka siap nanti.

“Mungkin pejalan yang paling baik adalah pejalan sunyi, menjadikan perjalanan hanya untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain. Hanya menikmati perjalanan tanpa perlu memberitahu semua orang bahwa dia sedang melakukan perjalanan.” - Farchan Noor Rachman

Untuk sementara ini, biarlah saya tuliskan perjalanan saya dalam puisi dan sepotong-sepotong kisah hikmah. Tentang nelayan dan laut yang tunduk, atau puisi tentang sebuah jalan yang terabaikan. Menjadi pejalan sunyi. Ketika perjalanan hanya untuk diri sendiri. Khusyuk mengonseni genggaman tangan Tuhan dalam tiap langkah dan derak roda kereta.

(Dan ngomong-ngomong, wisata massal memang harus diberantas dari muka bumi)


Genteng, Banyuwangi, 20 November 2013
Kamar atas rumah Ibu Salpiah




8 comments:

  1. Aaahhh, senangnya masih punya kesempatan menikmati banyak keindahan alam.
    Tulisan mbak riana selalu menginspirasi.
    Thanks for sharing, boleh ei share lagi ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kalau bisa bermanfaat, Ei. Jazakillahu khair..

      Delete
  2. Tulisan mba ri, selalu membuat saya merinding bacanya
    bagus bangeett...menginspirasi sekali.
    terima kasih sudah mengingatkan mengenai betapa pentingnya kita menjaga alam, bukan hanya sekedar menikmati apalagi sekedar mengambil moment demi socmed..
    love you mba :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Winda, you're too kind! Terimkasih sudah kembali mampir ke gubuk ini, hihihi. Alhamdulillah. Love you more.. :*

      Delete
  3. Tulisan lu selalu bagus... Foto-fotonya selalu cantik...

    ReplyDelete
    Replies
    1. walillahilhamd, segala puji hanya bagi Allah..
      thank you sudah mampir ke sini ya, Tut. Kalo gue ke Bali boleh mampir rumah elo ya, numpang makan, mwahaa.. *serius*

      Delete
    2. Ri, kalo lu ke Bali lu HARUS NGINEP di rumah gue.... *seurius banget*

      Delete
  4. artikel nya bagus, ditunggu update annya, lg :)
    salam dari karimunjawa jepara

    ReplyDelete

Related Posts with Thumbnails