Skip to main content

Kutitipkan Namamu dalam Doaku - Dari Suriah untuk Indonesia

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR. Muslim)

Ini adalah sebuah cerita perjalanan tim Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) ke tanah di mana sayap malaikat-malaikat Allah terbentang untuknya. Negeri Syam, tepatnya Suriah. Di mana peperangan akhir zaman dimulai sudah.

Buku ini berpindahtangan usai kajian oleh salah satu penulisnya, Muhammad Pizaro. Khas catatan jurnalis, fakta-fakta disajikan lugas, just as it is.

Ada wawancara dengan beberapa ulama Suriah. Ada kisah interaksi dengan saudara-saudara muslimin. Anak-anak Suriah. Mereka semua.. mendoakan Indonesia.

Dengan langkah agak cepat dia berusaha menghampiri kami. "Akhi,.. Akhi,.. (saudaraku)," serunya. Dia menjabat tangan dan memeluk kami. "Semoga Allah menjagamu, wahai saudaraku. Semoga negeri kalian dalam keadaan damai dan dijauhkan dari mara bahaya. Semoga kita bisa berjumpa lagi, kalau tidak di dunia, in syaa Allah di akhirat nanti, aku tidak akan melupakan kalian dalam doaku," kata-kata terakhir darinya.
...
Dokter Romi mengajarkan sebuah untaian doa yang diikuti anak-anak pengungsi, "Allah hayyi Indonesia!! Allah hayyi Indonesia!! (semoga Allah memuliakan Indonesia)
Kami dengar beberapa dari anak-anak itu mengucapkan doa, "Semoga Allah memberkahi Indonesia." Yang lain mengatakan, "Semoga Allah menjaga kaum muslimin Indonesia."

Jika tanah Syam hanya dan hanyalah perkara kemanusiaan untukmu, dan gerakan boykot hanyalah semata gerakan moral dalam pemahamanmu, sebaiknya kamu sering-sering piknik ke kajian, atau mengetuk sendiri pintu hatimu yang rapat tertutup untuk sebungkah kecil ilmu yang mungkin bisa menyelamatkanmu dari kebodohan sekarang maupun nanti.


Comments

Popular posts from this blog

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? …