Skip to main content

Genting Highland 2012 - Part One

From Buddhist Temple to Theme Parks,
All Above The Clouds

At the peak of the 1800 meter Gunung Ulu Kali
lies the wondrous world of Genting Highland.
Shrouded in mist and refreshingly cool weather,
far from the hustle of everyday pressures.
A land of perpetual entertainment,
fun games and rides,
amazing shopping and a fiesta of feasts.

It is a place of smiles and happiness, a retreat
where magical moments are created and imprinted
upon your mind as lasting memories.

(A poem found at the back cover of our photo in Cork Screw ride)


Sungguh bagai johan –  jodoh dari Tuhan, ketika beberapa pekan lalu sebuah kesempatan manis datang ke lini masa twitter saya. Kesempatan untuk menyambangi dataran tinggi Genting, Malaysia. Soalnya, terakhir kali saya ke negeri jiran ini dalam rangka mengajar, saya cuma punya satu hari bebas dan itu berarti saya harus memilih. Ke Genting atau ke Melaka? Saat itu saya memilih ke Melaka *another hutang tulisan*. Maka ketika kesempatan untuk ke Genting ini datang, ahayyy, sungguhlah pas!

Wiwit taught
Dee Linn
bahasa ABG,
"Cius? Miapa?"
and we bursted
into thundering
laughter..
Kami pergi bersepuluh, 8 blogger dan 2 jurnalis yang tidak saling kenal sebelumnya. Ketemu dan kenal pertama kali di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta menjelang boarding. Keren kan :) Mana tau salah satu dari mereka adalah pembunuh berdarah dingin? *lirik seseorang*

Selepas subuh, naik angkot ke terminal Pasar Minggu, lalu naik Damri ke bandara. Travelling bag saya hanya terisi separuh, tapi terasa cukup gembil dengan jaket tebal yang saya sumpal paling atas. Just in case sweater saya masih tembus dingin, saya gak mau kejadian Gunung Gede terulang lagi, ketika Schoffel sekalipun gak mampu menahan udara yang bikin saya jadi ice carving.


Landed di LCCT, hal pertama yang dilakukan adalah: beli kartu perdana GSM. Hahaa. Bloggeerrrr.. Salah satu yang paling saya nikmati dari dua negara tetangga terdekat adalah sinyal GSM dan GPRS yang kuenceng dan stabil, dan.. murah. Harga kartu perdana berkisar RM20-30, dengan jumlah pulsa RM15-25. Begitu kartu masuk, seketika semua setting terinstal otomatis dan hp siap digunakan untuk nelpon maupun internetan. Yihi, ngetwit duluuu, check-in foursquaaare... nista deh pokoknya :D

...Christine pronounced
durian as "duren",
took me by
surprise...
Mobil dari Maxims Hotel sudah datang  menjemput, kami berkenalan dengan Christine dan Dee Linn, dua perempuan cantik lagi menggemaskan yang akan membawa kami menikmati segala sesuatu yang asik-asik di Genting Highland. Dalam sekejap mobil sudah berlari di atas jalan hambatan yang betul-betul bebas hambatan. Meaning: no macet-macet! Sorry, Jakarta, not loving you for this, and reality hurts sometimes :)


Jalan menuju Genting Highland membelah bukit, sehingga kami disuguhi pemandangan tebing-tebing tinggi nan cantik di kiri dan kanan. Ketika mulai naik mendaki, pemandangan khas pegunungan pun terhampar di depan mata. Lembah, rimbun pepohonan, jalan melingkar menyusuri punggung bukit, kabut, kabut dan kabut. Dua mobil membawa rombongan yang hampir semuanya jatuh tertidur dalam 2 jam perjalanan KL-Genting. Begitu tiba di Goh Tong Jaya, sebuah area pertokoan kecil di Genting Highland, yang dituju jelas dan pasti: makan siang!

Kari Kepala Ikan dan Musang King Durian di Goh Tong Jaya

Salah satu highlight perjalanan ini adalah, what else, the fabulous food! As a foodie myself, I will never let this element slip off my notes. Lunch today was kari kepala ikan di sebuah resto India di Goh Tong Jaya *cari aja ruko nomor 20*. Beuhhh, secara diri doyan kepala ikan, that lunch was like a perfect grand opening. Dan.. ada Papadam! Papadam itu kerupuk India yang digoreng tanpa minyak, enaaaakkk...

Lunch @ Goh Tong Jaya

Gerimis yang merinai turun sore itu mengingatkan saya akan salah satu teman baru kami yang namanya sungguh indah: Rain. Hujan. Tapi dia gak bakal nengok kalo dipanggil, "Jan!" Hihihi..

Sambil nunggu gerimis pergi, makan duren lutjo kaliiii! Christine and Dee Lyn took us to a durian stall, masih di kawasan ruko yang sama, yang jual Musang King Durian! By the way, Christine pronounced durian as duren, took me by surprise :D And by this time, Wiwit already taught Dee Lyn bahasa ABG yang lagi ngetren mampus sekarang ini. So now and then we could hear Dee Lyn blurted, “Cius? Mi apa?” and we bursted into thundering laughter :D.

Musang King Durian

Durian Malaysia, adalah durian Medan versi disempurnakan. Selezat durian Medan: manis, legit, harum, sedikit pahit, silky soft flesh, disempurnakan dengan tebalnya daging durian yang konsisten from one chamber to another. Kualitasnya pun sama pada semua buah yang dibuka. Oooh, bloated.. bloated..

Dan.. memang ya, seolah dewi hujan ngasih restunya yang paling romantis. Begitu duren tinggal kulitnya *dipake sama saya dan Leila untuk minum air putih dari lekukannya*, gerimis pun hilang, meninggalkan langit putih adem yang syedep banget buat bertani di.. Strawberry and Lavender Park!

Strawberry dan Lavender Park

Strawberry Park 1
Left: Rain | Right: Gricia

Lagi-lagi ini adalah sebuah versi penyempurnaan dari kebun strawberry yang banyak bertebaran di kawasan Lembang, Jawa Barat. Letaknya hanya sepelemparan biji duren dari ruko Goh Tong Jaya, walking distance. Kebun strawberrynya tertata rapi, tanahnya ditutupi plastik sehingga gak mengotori tangan pemetik, kebersihannya terjaga, strawberrynya besar-besar, bagus-bagus dan banyak. We roamed around the park, metikin strawberry dengan sangat nyaman karena kebersihan dan kerapihannya ini. Masuknya gratis! Sedep kan? Kalo metik strawberry, akan dicharge 6RM saja per 100 gram.

Strawberry Park 3

Strawberry Park 2
Wiwit & Cia. Mismatch prewed, hihihi..

Selain strawberry, ada kebun lavender di bagian atas. Kebun yang cantik! Pagar kayu putih dan toko souvenir bergaya country yang cakeeepp.. Kalo gak inget space di rumah yang udah gak ada lagi buat nyimpen properti motret, udah saya angkut tuh segala macem hiasan lavender yang berjejer bikin hati cekat-cekot. Ada bunga-bungaan lain juga di beberapa kavling kecil di bagian belakang Lavender Park. Juga ada penjualan madu alami serta pembudidayaan jamur di bagian bawah menjelang pintu keluar. Lengkep!

Lavender Park

Fungi Cultivation

Saya buru-buru keluar dari toko souvenir lavender setengah panik takut ngeborong *hihihi*, melewati sarang lebah raksasa yang dipajang dekat counter penjualan madu, masuk ke ruang pembudidayaan jamur, motret sebentar di situ, lalu masuk mobil,.. off to Chin Swee Temple!

Chin Swee Temple

Chin Swee Temple 2

Chin Swee Temple 3

Klenteng Buddha ini berada lebih ke atas lagi dari Strawberry dan Lavender Park. Ada shuttle bus terjadwal yang akan mengantarkan pengunjung dari First World Hotel Terminal ke kuil dan sebaliknya secara gratisss.. Backpackers, note that. Kawasan Chin Swee Temple seluas 11,3 hektar ini terdiri dari pagoda, ruang-ruang altar dan tempat sembahyang, diorama, anjungan untuk melihat pemandangan, dan ada resto vegetarian. Sayangnya saya gak sempat naik ke puncak pagoda, aarrgghhh.. next time harus!

Chin Swee Temple 4

Chin Swee Temple 5

Sebenernya kepingin berlama-lama nongkrong di anjungan, memandangi kabut yang turun perlahan bagai awan di bawah kaki saya, mengagumi menara pagoda, patung Dewi Kwan Im dan Sidharta Gautama yang menjulang di antara awan, menikmati suasana spiritual di ketinggian 1,402 mdpl. But we gotta check in to the hotel before the night really came.

Chin Swee Temple 1

So off we go, to the top of Genting Highland, where laid the starred hotels, indoor and outdoor theme parks, shopping center, altogether in one gigantic integrated entertainment complex we were about to explore and ultimately enjoy!

Resorts World Genting

We checked into Maxims Hotel, a five stars hotel at Resorts World Genting, mandi-memandi, and got ready for dinner. Before we hit gastronomy area, Christine and Dee Lyn took us to Visitor's Galleria near the lobby, where everything about the place were laid out, recorded and exhibited like a modern museum. History, awards, memorabilia, were spread out all over the walls. There's a scale model of the whole area in the middle of the room. I spotted the cable car heading down to Chin Swee Temple and promised myself to get into one the next chance I'm here. The cable car was undergoing maintenance process when we came, so we missed that chance this time. Must be a lot of fun riding one down to the temple.

Visitor's Galleria

Kawasan Resorts World Genting pada awalnya dibangun oleh almarhum Tan Sri Lim Goh Tong dan Tan Sri Haji Mohammed Noah bin Omar pada 1965 di atas lahan seluas 2,800 acres atau 11,331.6 kilometer persegi atau 1,133 hektar *udah ngitung pake sempoa nih sayah*. Kawasan yang terletak di dua negara bagian Pahang dan Selangor ini terus berkembang menjadi apa yang sekarang dikenal dengan Resorts World Genting, sebuah tempat hiburan terintegrasi dengan 6 hotel, indoor and outdoor theme parks, convention hall, shopping center, theater, yang saling terhubung satu sama lain. Ini masih ditambah Strawberry Park, Lavender Park dan Chin Swee Temple. Barusan saya ngintip ke websitenya Awana Resorts, ada aktifitas jungle trekking sama birdwatching juga! Aaah, mawuuuu..! Balik lagi!

Bubbles and Bites

Dinner @ Bubble & Bites

Dinner tonight was at Bubbles and Bites, a restaurant with a concept I like. Homemade stuffs, no MSG, low sodium. All fresh, all natural. I had this lovely pumpkin salad with goat cheese, olive oil and balsamic vinegar dressing, sprinkled with toasted sunflower seed for the entree. Homemade potato gnocci with four cheeses for the main course and I couldn't be happier. The salad was garden fresh and in perfect balance with greens, softness and crunchiness. The pasta brought me to heaven, me the all cheese and nothing but the cheese chick. We took turns tasting other dishes my friends ordered and they got more delicious each turn. The desserts were classic delights: Bread and Butter Pudding, Sticky Dates Pudding, and the irresistible Italian trifle: Tiramisu. As sweet tooth as I am, these are a glorious way to close the day.

A Diner with an Attitude

Desserts @ Bubble & Bites

Hats off to the Chef!
1st row, L-R: Rara, Bradley, Arie, Chef Azwar, Rain, Ariy, Leila
2nd row, L-R: me, Lucky, Wiwit, Gricia, Zai the wine guy

Don't worry, postingan hari-hari berikutnya saya jamin akan highly disturbing with stories of food, oh-so-glorious food. What can I say, I'm a foodie in a food journey to nirvana.

To be continued.. Theme Park!


Comments

  1. aaaargh aku ngiler sama foto2nya. btw mbak, siapakah pembunuh berdarah dingin itu? bukan roommate gw kan?! *merinding*

    ReplyDelete
  2. aaah...saya kangen makan di samping "foodpedia" favorit sayaaa :). Top markotop kakaks

    ReplyDelete
  3. Kyaa mbak Riana, selalu bikin ngiler nih jurnal jalan-jalannya. Dulu aku pergi ke Singapore gara2 cerita jalan2nya mbak Riana, sebelumnya boro-boro kepikiran kekeke. Thanks for always inspiring. Btw, aku kemaren sempet main ke The Beatles Story di Liverpool, dan waktu liat Pennylane, langsung teringat blogsome nya mbak Riana yang sudah almarhum, pindah kemana sekarang pennylanekitchen?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Really? Eh, jalan ke Singapore itu kayaknya aku gak nulis jurnalnya deh.. *puzzled*.
      Aku yang terimakasih, bersyukur kalau bisa jadi manfaat.
      Duuuh, you're so lucky!!! I'm dying to get my feet on the land of the fabfour..
      Iya Blogsome.com-nya tutup, aku pindahin dapurnya ke sesama wordpress sebagai arsip aja, terus aku bikin baru di pennylane-kitchen.blogspot.com. Link ke arsip di wordpress ada di situ.
      Thank you for staying around! *terharu*

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…