Skip to main content

Another Chaos Organized!


Scrappers are a bunch of chaotic minds. when we manage to eventually organize them, we actually produce some nice things. When we don't, heck, we create pretty chaos anyway :)

Another journey album. Lots of hidden tags containing lots of photos and real time journals. I kept an acid-free notebook with me during the travel, jotted down everything I could remember before closing the day. A very convenient way of journaling since all i had to do is slipping the notebook pages anywhere in the album, and voila.. an authentic story. Journaling done, top notch.

I didn't take photos of all the album pages. As always, too many, too thick, too much. Meet me for a late lunch or afternoon tea, I'll bring the album. And we can talk about the purple sky.

I hope these are sufficient to give you the idea of the album. Click on the photos to bring you to the larger ones for detail viewing. Ask me anything, I'll surely answer with butterfly in my stomach.

Enjoy :)






 I love how the tags were curiously peeking all over from inside. Like a bunch of bad boys looking for troubles :)








 I heart postcards.
*there were two others somewhere in the album*








 Supplies:



..and this, is my favorite page :)



Comments

  1. Mba Nanaaaaaaaa!!!
    SUPERBB!!!!
    Really like this! Like thisss!!! + 1 Jutaaaa
    bagus..bagus..baguss...
    aku mau liat aseli nyaaaaa....

    ReplyDelete
  2. Aih, maluuu.. nanti kubawa pas A Week In The Life yah *loh, katanya malu* :D

    ReplyDelete
  3. Aku juga pengen liat aslinya sambil belajar bikin nyang kayak gitu juga Ri, tapi sayang kita terlalu jauh tapi mungkin jauh dimata dekat di hati yakkkk hihihi.....(SKSD mode ON)

    ReplyDelete
  4. iyaaaa, akupun merasa demikian, hihihi *hug* I admire your photos, you know, diam-diam :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?