Skip to main content

PTD: Tembok Kota Batavia

...
Luruskan pandang ke daratan tandus, ke petak-petak garam
Ke laut lepas, layar putih- putih, perahu-perahu bebas

O Laut Jawa di belakang desa-desa sengsara
Laut Jawa di belakang kejatuhan dan k
ebangkitan suatu bangsa

Laut adalah kita, perahu-perahu berkuasa

Dari Arafura, Selat Sunda, Selat Malaka

Demikian sejarah bangsa dalam masa jaya

Sebelum Sultan Agung dan monopoli kapal dagang bersenjata


Laut adalah kita, sebelum cengkeh dan pala
Laut adalah kita, sesudah minyak dan baja
Perahu-perahu begitu manis, kapal-kapal lebih perkasa

Luruskan pandang ke laut, laut yang merdeka

Ajib Rosidi - Pantai Utara
doeatandamata 2 trompet 20

Sebenernya
ikutan PTD kali ini cuma mau keliling-keliling kota naik sepeda ontel.

Dilepas pake trompetan saut menyaut para petugas museum Bank Mandiri berseragam ala prajurit zaman J.P. Coen, dan yang berpakaian necis ala Doea Tanda Mata.

jembatankotaintan 4 galanganvoc 3

kali-besar 9
Pemandangan
kota tua, jembatan Kota Intan, Galangan VOC, jalanan basah sehabis diguyur hujan sepagian.


Angin
masih dingin meriapi kening dan ujung kerudung.



Lumayan mampu memanggil kembali hati dan jiwa yang --waktu itu-- lagi terbang entah kemana, meninggalkan raga yang bergerak otomatis serupa zombie.

Museum Bahari

jendela-jendela 5
Museum
Bahari itu indah! Tembok kota tempat tentara Belanda nyumput sambil tetap bisa nembak, masih utuh di sana. Museum Bahari ini dulunya adalah *bentar liat kebetan dulu* gudang milik VOC, dipakai untuk menyimpan rempah-rempah yang diangkut dari Banda Neira.


Tembok Kota Batavia perahu 17

museumbahari-inside-looking 11 meriam 10

paku 14 paku-teks 15

kakisepeda 8Pak Andy Alexander --yang di PTD Museum BI dulu bikin gue terlongo-longo melototin hasil super-impose peta kuno ke peta aktual masa kini-- ngejelasin peta lain lagi, lukisan-lukisan lain lagi, yang lebih asik-asik punya.

Terus ada Meneer Nico van Horn yang cerita everything about VOC. Oooh, ternyata yang punya VOC itu adalah.. Ternyata asal nama kota Batavia tuh dari..

Btw, itu bukan kaki gue!!

kacapatri_better 7

Ok lah. Seperti biasa tante loe setor foto-foto aja, ngedongeng tugasnya Adep.



Adep mendongeng:

PLESIRAN TEMPO DOELOE: Tembok Kota Batavia
Minggoe tanggal 15 boelan Juni tahon 2008 djam poekoel 07.30 sampe klaar djam 12an

Kota Batavia (tjikal-bakal kota Djakarta) diberdiriken oleh Gouverneur-Generaal J.P.Coen pada tahon 1619. Ini kota doeloenja orang kerap seboet sebagi Djajakarta, namoen di hari 30 Mei 1619, pasoekan VOC kassie serangan itoe bilangan, sehingga achirnja bole didoedoeki oleh olang walanda selama ratoesan tahoen, jakni sedjak tahon 1619 hingga tahon 1942 tatkala Tentera Dai Nippon masoep ka Noesantara.

Ini atjara jang saban saboelan sekali diadaken SAHABAT MUSEUM, boeat ini tempo aken kassie tjerita perkara itoe Tembok Kota jang dibikin oleh pedagang-pedagang VOC oentoek lindoengi diri dari pasoekan perang Banten, Cheribon, Mataram, dan pasoekan laen-laennja. Moengkin toean dan njonja sadikit bertanja perihal misih adanja itoe tembok.

Riwajat tentang orang-orang Belanda jang notabene pedagang ini, ditjeritaken oleh Pak Lilie Suratminto, saorang doktor di bidang batjain nisan-nisan Belanda (dduh apa sih istilahnya? yang pasti Pak Lilie ini jago bahasa Belanda, kebetulan beliau juga seorang dosen Sastra Belanda di UI). Lantas ada Pak Andy Alexander, saorang pemerhati sedjarah dan dojan oprek-oprek peta djadoel, laloe ditibanken ke peta sekarang, yah teknik super-impose gitu deh, sehingga kita bisa dapet ketahui secara persis dimana letaknya Kastil Batavia, Pertempuran VOC melawan Mataram, bahkan letak persisnya rumah J.P.Coen !!!

Oh iya di tempat ini juga pernah terjadi sebuah kisah cinta yang memilukan sebab-sebab bitjaraƤn jang manis jang kaloear dari montjong saorang lelaki, sahingga satoe gadis misti terdjeblos dalem djoerang kasangsarahan.Yah, kisah ttg Sarah Specx, jang di-straf (hukum) tjamboek kerana soeda bikin J.P.Coen terbakar amarahnja tatkala katahoei itoe kisah asmara jang ada betoel soeda terdjadi di roemahnja. Sang Gouverneur-Generaal Jan Pieterszoon Coen achirnja lakoeken soewatoe tindakan jang kedjem, djahat, soeka kaniaja (aniaya) orang dan kamoedian dirinja djadi soesa dan sengsara. Lantas djoega ada Meneer Nico van Horn jang toeroet bertjerita tentang VOC. Tenang aja Pak Nico ini jago berbahasa Indonesia, Belanda apalagi (yah iyalaaahhh!)

Koempoelnja di Museum Bank Mandiri jang pernahnja (letaknya) di Jl. Pintu Besar Utara, atawa kerap diseboet Jl. Lapangan Station, kerna locatienja precies diseberangnja station trein. Kitaorang djoega tjeritaken perkara nama Pintu Besar, jang terambil dari satoe pintoe jang besar bernama: Niuewpoort, jang diboeka saban hari hingga djam poekoel 9 malem, jang didjaga oleh schutterij (pasoekan milisie), poela ada jang bernama Pintoe Ketjil, jang sekarang mendjadi nama bilangan jang loemajan kesohor di bilangan Djakarta Kota. Kamoedian kitaorang kassie tjerita tentang pertempoeran jang soeda betoel terdjadi pada tahon 1629, tatkala pasoekan VOC soeda tiada poenja amoenisie boeat kassie bales itoe serangan pasoekan Mataram jang beringas, lantas marika kassie lempar itoe marika poenja kotoran kepada orang Java jang lagi semangatnja mandjatin tembok koeboe pertahanan bernama Hollandia, sakoetika kedengeran oempatan kasar dari moeloet orang Java jang treak: "O Seytang orang Ollanda de bakkalay samma tay!". walah!

Makanya Kota Batavia, sempat disebut sebagai Kota Tahi pada masa penyerangan Mataram ini. Nah dimana letak kubu Hollandia ini? Pak Andy Alexander kasih liet lokasi itu benteng secara tepat, yang sekarang telah menjadi pusat perdagangan yang rame di Glodok!
...

Comments

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?