Skip to main content

An Afternoon To Remember

Balkonku Tercinta


26 Juli 2008, 19:16 WIB

Sebuah SMS masuk, dari seorang sahabat:
I wish hari ini tanggal 19
Saya balas:
Gosh, yes. And I thought I was the only one being this nostalgy freak..

Ah, sore itu memang mistikal. Seminggu lalu, 19 Juli 2008, di SMP 88 Kemanggisan Jakarta Barat. Sore yang serupa mimpi.

Apa yang bisa saya ceritakan? Ada lagu Himne Guru menggaungi udara, terlantun setengah bergumam, setengah hening, mengiringi ciuman di pipi, bunga di tangan dan pemberian tanda sayang untuk para guru kami. Apalah yang bisa kami lakukan? Sedari purba dunia, tak 'kan mungkin terbalas jasa mereka.

Ada wajah-wajah yang pernah terlupa, namun sesungguhnya berdiam setia di belakang kepala. Canda tawa yang sama, betul-betul tak jauh beda, meski jeda dua puluh tahun meregangkannya. Balkon sekolah tempat tongkrongan tiap pagi, saksi bisu atas segala yang pernah terpikir, terpendam, akhirnya terjadi, atau justru tersimpan selamanya!

Ada air mata di sela renyah tawa, gumaman tak percaya, tak mengenali, belalak mata kagum, lalu tekun merunuti tiap sosok teman lama yang sudah berubah, atau tidak berubah, atau berubah sedikit. Tidakkah kita semua tetap sama? Sejatinya kita masihlah kita yang dulu itu bukan?

Oh, sore ajaib yang begitu singkat! Seperti tidak menginjak bumi, mengawang mengikuti arah pelangi, menuju tempat di mana kita semua muda kembali! Mengapa matahari harus segera pergi, malam tergesa turun bahkan sekejap berganti pagi? Saya masih rindu kalian semua! Entah kapan 'kan terlerai. Entah kapan.

Photo & video links:

Related post:



Full report di milis '88:

Mau menulis dari seminggu lalu, kok gak sempet-sempet. Apa karena gak sanggup-sanggup?

Sesungguhnya hingga hari ini pun belum sanggup menulis tentang jalannya reuni kemarin. Tapi sayang sekali kalo sore yang tak terulang itu terlewat tanpa ada catatan. Terutama untuk teman-teman yang gak bisa datang, jauh dari tanah air, atau sekedar baru tau kalo kemarin ada reuni.

Kata undangan, acara dimulai jam 15.00, selesai jam 18.00. Tapi ternyata dari jam 11 sekalipun, udah banyak yang mampir menengok persiapan panitia. Diana & Martina bahkan sudah datang dari jam dua, ikut nemenin panitia makan siang.

Balik dari bebek goreng, sekolahan sudah rame! Padahal baru juga setengah tiga! Murni mengambil keputusan untuk memulai "siaran" sore itu. Soalnya dari jam 3 sampai waktunya dimulai acara inti, akan diisi sama siaran radio Agra, aliyas Anggrek Garuda, 88.88 FM, yang dipancarkan dari ruang piket ke seantero sekolah. Hehehe.. Catatan si Boy banget dah..

Lalu sore mistikal itu pun dimulai. Wajah-wajah lama berdatangan, berteriakan, berbelalakan, berpelukan.. ditingkahi lagu-lagu lapan puluhan yang bikin hati meleleh-leleh.
Semua akses sekolah ke balkon lantai dua hingga atap dibuka. Mulailah para pengunjung lorong waktu berkeliling ke kelas-kelas mereka dahulu. Tiap pintu kelas ditempeli foto-foto dan nama-nama penghuni kelas 1. Gue tarik Rere ke kelas 2A di atas, sekedar mau liat lagi balkon kesayangan kita dulu di atas. Balkon pojok tempat anak-anak 2A biasa nongkrong tiap pagi, nontonin setiap orang yang masuk lewat gerbang di bawahnya. Lalu masuk ke kelas 2A, duduk di bangkunya. Oooh, bangku itu terasa kecil sekarang! Padahal badan gue gak melar kok! Kenapa dulu nih bangku berasanya lega ya?

Berlama-lama di lantai dua, di sepanjang balkon, memandangi keriangan di halaman bawah yang semakin lama semakin riuh rendah. More alumni, more noise, more foto-foto, dan hari semakin sore. Buru-buru turun, karena Murni udah nungguin untuk segera memulai acara inti. Masuk ruang konsumsi, yang lagi melepas rindu juga gak kalah heboh di sini. Sambil mulut sibuk juga ngunyah bakso, somay, macaroni schotel, jajan pasar, bronis kukus, kripik pedes, es buah, ngopi-ngopi, ngeteh-ngeteh..

Intro "The Final Countdown"nya Europe jadi pembuka acara inti, dimulai lebih awal dari rencana. Murni dan Atin langsung ambil posisi di depan, sementara para alumni dan guru-guru perlahan mulai tertib duduk di bangku-bangku kayu, di depan dua TV plasma dan satu giant screen.
Acara dimulai dengan mengenang teman-teman yang sudah mendahului kita semua, lewat video yang menyuguhkan foto-foto mereka. Disusul kemudian dengan video foto-foto masa jaya kita semua waktu SMP: foto-foto waktu ekskul pramuka, PMR, silat, waktu lulus-lulusan, rapat osis, perpisahan kelas, .. dan kenapa selalu ada muka Nunun ya di tiap foto itu? kekeke...

Sambutan dari guru-guru. Waktu Bu Yatmi bicara di depan, halaaah, beliau ngajak nyanyi Santa Lucia! Huaaa... inget banget kan lagu ini dulu wajib dihafal di pelajaran kesenian?
Sul mare luccica, l’astro d’argento..
Gue masih inget tuh liriknya! Santa Lucia lengkap selesai dinyanyiin, hahaha... seru, seru....

Sambutan dari ketua panitia, yang lalu memanggil seluruh crew panitia ke depan. Dengan susah payah karena terhalang tangis, Darocky menutup sambutannya dengan satu kalimat liris "Kalau bukan karena cinta, tidak mungkin ini semua terjadi..". Lalu gue yang malah nyaris mewek!! Bukannya apa-apa, inget behind the scene-nya panitia yang berdarah-darah bikin acara ini! Tapi ikhlas kooook... sangaaaat.... beneraaaaan.....

Selanjutnya, video lagi. Kali ini video "Kata Mereka Tentang Kita", aliyas guru-guru bicara tentang kita. Gue demen nih.
Kata pak Darwis, "Memang angkatan kalian itu bandel-bandel, tapi bandel sewajarnya anak-anak. Tapi otaknya, luar biasa bahkan lebih.." **lebih apa nih pak?**
Bu Shinta juga bilang senada, "Dulu Pramuka dan PMR kita ditakuti.." **loh?**

Berikutnya, sumbangan dari alumni yang diserahkan secara simbolis. Alhamdulillah, terkumpul lumayan jumlahnya. Mengingat seminggu sebelumnya, jumlah sumbangan masih amat sangat kelewat tidak signifikan, maka jumlah ini bisa dibilang mukjizat, bisa terkumpul dalam waktu seminggu plus satu hari. Subhanallah, alhamdulillah. Semoga atap sekolah bisa segera kumplit plit. Terimakasih ya untuk semua pihak donatur, yang udah ngedoain juga, terimakasiiih... Semoga Allah membalas berkali lipat, amin.

Penyerahan tanda mata dari alumni untuk guru-guru. Sambil menyerahkan buket bunga dan bingkisan kepada bu Sanyoto, pak Saprie dan guru-guru lain, Murni dan Atin spontan memimpin alumni untuk nyanyi lagu "Himne Guru". Hey, masih pada inget lagu itu?

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku


Seketika suasana jadi magis! **Nilia aja sampe merinding**
Mendadak keriuhan mereda, hening, lalu lagu Himne Guru terlantun setengah bergumam, mengiringi panitia memberikan bingkisan kepada guru-guru lain yang duduk di barisan depan. Mengiringi ciuman di pipi dan tundukan kepala hormat kepada para pahlawan tanda jasa itu. Oh, bagaimanalah pula kami bisa membalas jasamu?

Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan..
Engkau patriot pahlawan bangsa.. tanpa tanda jasa

Sudah itu, guru-guru berfoto bersama. Huah, langka banget nih foto.
Abis itu, semua alumni langsung bergabung **tepatnya, merangsek** dengan para guru di depan buat foto barengan semuanya.
Inilah angkatan '88, dua dekade kemudian! Lebih langka lagi!

Class of '88, Junior High

Ok, acara yang mengharu-ungu selesai sudah. Acara keriaan dilanjuuuut...
Pak Herly sulap! Hehehe... banyak yang belom tau kan kalo selain seorang guru matematik dan pelatih paduan suara yang asik, Pak Herly juga seorang pesulap dan MC profesional. Jadi kemarin tuh pak Herly nyulap deh, dan pake duit segala lagi nyulapnya. Coba pake sulapan iris-iris badan pake bilah baja ya, kan seru tuh kalo kita korbanin si Phillip buat dibelek-belek...

Sementara itu yang fotoan di belakang sana semakin lupa daratan. Setelah nemenin DQ dan kameraman ngambil video kesan-pesan bu Sanyoto, gue langsung ngacir lagi keluar, di mana kehebohan sesi foto mulai menjadi-jadi. Waks, Murni udah dikudeta! Sekarang kedudukan MC udah berganti Sutardi dengan Atin (yang satu ini tetep).
Pertama, sesi foto per kelas satu. 1 A, 1 B, 1 C, sampe 1 H. Pas kelas 1 A, B, C, kayaknya masih pada tertib ya? Kenapa makin ke H makin berantakan? Hihihih...

Mmm... abis itu mulai deh, otak dah pada bocor. Sesi foto mantan pacaran, mantan naksiran, kumpulan jomblo, kumpulan Big & Beautiful, huahuahuaaaaa.... Robek nih muka ketawa melulu!
Abis itu, acara masih padat. Yang ulang tahuuuuunnn... hayo maju ke depan! Dewi Yulianingsih sama Ana Juliana ulang tahun pas harinya reuni. Jangan khawatir, panitia udah nyiapin kue sama lilinnya. Nyanyi deh semuanya, happy birthday to you, happy birthday to you... Tiup lilinnya, tiup lilinnya..
Dewi, jangan terharu gitu donk, daku kan jadi ikut hiks...

Kalo gak segera diingetin, bahwa banyak hadiah yang belom dibagiin untuk games, kali bakalan balik ke sesi foto konyol tuh. Ya udah, dilanjut sama games. Siapa ketua kelas 3C? Siapa cinta terpendamnya Suprihatin? Yaelah, mana ada yang tau!! Huahua...

Akhirnya toh semuanya harus diakhiri, sebab malam semakin turun, keluarga udah sibuk SMS meminta ayah ibunya kembali ke pelukan mereka *duileeeh, emang ngapain*, dan semua perjumpaan mau gak mau harus berakhir dengan perpisahan lagi. Atin, Murni dan Sutardi menutup acara, lalu sore ajaib yang sudah gelap itu pun ditutup dengan kita semua baris bersalaman sambil pulang.

Sebagian yang masih pada males pisah **ta'elah**, nerusin hang out di ruang makan, sampe kelar tuh petugas catering bebenah, bungkus-bungkus. Sampe petugas dekor udah mau selesai beberes. Sampe akhirnya perut jejeritan minta diisi sama yang lebih nendang lagi.
"Makan yuk!" Halah, alesaaaaan.... Bilang aja mau nerusin ngumpul..
Lanjut ke Bright Cafe di Gatot Soebroto, makan, becanda, basically ngelanjutin ngumpul. Sampe akhirnya ada juga yang berani bilang, "Udah yuk, pulang." Huah! Back to reality, huh?
Akhirnya dibubarkan dengan paksa oleh kenyataan, pada jam 02:30 pagi, WIB.

Sampai jumpa teman-teman SMPku tercinta. Berjanjilah untuk tidak membiarkan 20 tahun lewat lagi tanpa silaturahmi di antara kita. Mau kan?

Pejaten, 27 Juli 2007, 19:13 WIB
:sesungguhnya masihku belum sanggup. karena menuliskan ini, berarti menutup dan meninggalkannya di belakang. dan aku belum lagi ingin.

Comments

  1. Udeee..., Ri. Jangan sedih terus, yah?
    Insha Allah kite semua bisa kumpul2 lagi. Kalo gk di dunia ya di padang mahsyar.

    Anyway, makasi banget ya ude kamu abadikan (setori maupun poto2na), gue sukaaa banget (kurang panjang, ya?). Gue sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..........., banget!!!
    Temen2 lain yg pada kage ade waktu (kaya gue), pasti pada seneng dengan Masterpiece-mu ini.

    Gue nyesel banget, Ri. Pas ntu hari gue nglayang2 1/2 sadar di SMP88 krn demam, jadi blom puaaaaaaas ketemu kamu (ketemu semuanya, maksudnye).
    Insha Allah kite semua bisa kumpul2 lagi. Kalo gk di dunia ya di padang mahsyar.

    Tapi, alhamdulilleh, gue walau 'tepharr' masih diberi kekuatan ame Allah buat nikmatin "secuil" moment di 88 tercinte...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…