Skip to main content

Ricky, the Tall Cat

Ricky came to our house about two years ago. He was tall, dirty and skinny when he came, and meowed a lot. When seeing him my hubby yelled,"Look, there's a tall cat!"
He was tall, alright, and full of mucles. We fed him, and he became part of us ever since. My hubby called him, Ricky, the Tall Cat.

Now he's quite clean, except for the ocassional dust on his fur when he spends the whole day sitting on the porch. He also gained weight. But because he's tall, he doesn't look fat, he looks big! When you rub his body, you'll still feel the muscles he got from living on the street. He still meows a lot, though.

...

Tecnorati tag:

Comments

  1. hiks..persis banget kayak kucing gw dulu..kangen mo punya lagi, tp gak boleh....:( kucingnya ganteng mbak..hehe

    ReplyDelete
  2. ini to simpenannya mbak Ri... hehehe... kucingnya seru banget, ngegemesin...

    ReplyDelete
  3. lutuunaaaa!
    ternyata namanya ricky.
    keren juga ;D
    kirain namanya abu.

    ReplyDelete
  4. Fenny:
    Abu kabur dari rumah, Fen. Yang ini datengnya setelah Abu pergi. Kebetulan warna bulunya sama :)

    ReplyDelete
  5. Duuuh, lucu bgts! Blum bisa piara di dalem rumahkandangburung kayak di sini, Ri. :(

    Met menyambuk Ramadhan, Ri. Maafin gue, yah.

    ReplyDelete
  6. cerita ricky, the tall cat mengingatkan gue sama penyanyi rick springfield yg juga jangkung..ahakahak...

    jahat lo..berarti blog gue ngebosenin dong ya? *mikir2 sih, iya juga* :D

    ReplyDelete
  7. waaaahhh.....luttuuuuuuu
    Boleh dong buat aku. :D
    Salam kenal sesama bloger, Namaku romadhoni. aku punya 2 situs satu exblopz.blogsome.com yang satunya catataniman.blogspot.com

    ReplyDelete
  8. aduh, kewl banget kucingnya..! Aku copy gambarnya ya... Jadi inget kucingku dulu.. (hiks)..
    Oya.. selamat berpuasa ya..

    ReplyDelete
  9. psstt...
    itu lagi dihukum ya si Ricky.
    boboknya harus menghadap tembok!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? …