...


Oding teman saya, sebentar lagi ulang tahun. Tepatnya besok, tepat di Hari Kartini. Sebagai tribute untuk Oding, karena sesama Taurus, saya mau menulis tentang Hari Kartini. Bukan tentang Oding. Karena saya sudah kenal dengan Oding, tapi belum kenal dengan Kartini.

Yang saya tau, Kartini menulis buku. Oops, bukan. Ia menulis surat-surat. Surat-surat kepada teman-teman Belandanya, yang kemudian dikumpulkan orang menjadi sebuah buku.

Kartini mengajar di rumahnya, dan menulis surat-surat yang isinya mendambakan persamaan perlakuan antara pria dan wanita. Karena pada zaman itu, di lingkungannya, wanita dipingit, dan rakyat kasta bawah tidak boleh sekolah tinggi.

Terlepas dari masalah berarti atau tidaknya Kartini buat saya, yang mana jawabannya adalah tidak, sore tadi peringatan Hari Kartini diperingati juga oleh kaum waria, saya lihat di televisi. Apa hubungannya ya? Maksud saya, apa hubungannya dengan kewariaan mereka?

Karena sama-sama memperjuangkan persamaan perlakuan barangkali. Atau karena para waria itu merasa diri wanita, lalu kepingin ikut berkebaya.

Nah ini juga.

Apa hubungannya berkebaya di Hari Kartini dengan makna Hari Kartini ya? Bukankah malah bertolak belakang dengan jeritan hati Kartini yang meminta dilepaskan semua belenggu? Bukankah kebaya membelenggu gerak wanita dari ujung kaki hingga ujung rambut? Menjadikannya boneka seksi penuh lekuk molek namun tak kuasa berlari dan bergerak bebas? Apalagi membela diri!

Kartini, mungkin ibu harus mencantumkan pula dalam surat-surat ibu, bahwa wanita semestinya dibebaskan juga dari belenggu kebaya. Agar peringatan hari lahir ibu, yang seyogyanya menjadi perayaan kebebasan wanita mengenyam pendidikan, tidak dihiasi dengan kontes di mana wanita berjalan terserimpet-serimpet dengan kepala pening karena belenggu yang dipasangnya sendiri dengan sukarela.

Ah, mungkin ini hanya karena saya sentimen dengan kebaya dan sanggulnya yang menyakitkan kepala. Kenyataannya toh banyak yang gemar memasang belenggu ini demi sebuah gambaran diri wanita rekaannya sendiri, dan mereka bahagia.

Kembali ke para waria tadi. Jika mereka hidup dan muncul pada jaman Kartini, dan tinggal di lingkungan beliau, apakah Kartini akan juga membela hak mereka dalam surat-suratnya? Apakah mereka ikut terpikir ketika ia menyebut "kaumku" atau "kaum wanita"? Hanya sekedar ingin tahu yang tak penting.

Walaupun Kartini tidak mengesankan saya dibanding Dewi Sartika dan Cut Nyak Dien, tapi Oding adalah teman saya. Dan untuk beliau saya persembahkan tulisan ini.

Selamat ulang tahun, Oding.
Hajatan "Turning Thirties" kita belum kesampaian ya?

...