Skip to main content

Sang Maha Lucu

Suami saya memiliki seorang tante yang sangat dihormatinya. Bukan saja karena beliau yang membiayai kuliah suami saya hingga ke negara paman sam, tapi karena, entah mengapa, beliau menyayangi suami saya secara berbeda dibanding keponakannya yang lain. Secara khusus, beliau datang sewaktu acara lamaran di rumah saya, memberikan hadiah khusus untuk kami berdua, tidak pernah lupa nama dan wajah saya, dan menaruh perhatian terhadap keluarga saya [dengan mengejutkan beliau datang melayat waktu Ayah saya meninggal dunia]. Hal-hal yang tidak pernah ia lakukan terhadap keponakan lain. Beliau memang dingin dan untouchable.

Sejak muda, sang tante adalah seorang business woman yang sangat sukses, demikian pula almarhum suaminya. Saat ini seingat saya beliau memiliki kurang lebih 12 perusahaan di Indonesia, sebuah real estate di Amerika, beberapa rumah dan apartemen di Amerika, kenal baik dengan Donald Trump. Yang pasti, tiap kali suami saya apply visa Amerika, nama tantenya [yang selalu bertindak sebagai sponsornya] adalah nama sakti yang dengan mulus membuahkan visa 5 tahun, bahkan di masa krisis hubungan baik seperti ini.

Sewaktu beliau menikahkan salah satu anaknya, Tantowi Yahya yang pernah mengklaim dirinya tidak pernah mau mengambil job mc di hari Minggu, mengorbankan hari 'keramat'nya itu untuk jadi mc pesta pernikahan tersebut di ballroom Hotel Mulia Jakarta.

Satu waktu ibu mertua saya mencari-cari info mengenai kapal pesiar.
"Ada apa cari info kapal pesiar, Mam?"
"Biasa, inang tua mau beli 'mainan'."

Pendek kata, kaya raya lah. Tidak mungkin kelaparan.

Suatu hari saya tengah berbincang dengan ibu mertua saya. Beliau bercerita bahwa inang tua itu makannya sedikit sekali, atau boleh dibilang sama sekali tidak suka makan. Oleh adiknya yang seorang dokter senior, beliau didiagnosa kurang gizi. Saya tersenyum sambil mengerutkan dahi, merasa lucu sekaligus aneh, inang tua yang kulkas super gedenya selalu penuh terisi makanan, menderita kurang gizi.

Beberapa hari yang lalu, suami saya membawa kabar sedih. Inang tua yang dihormatinya itu masuk rumah sakit. Saya ikut sedih.

"Inang tua sakit apa?"
"Busung lapar."
"Hah???? Beneran???"
"Iya, betul. Dokter bilang busung lapar dan harus dirawat. Kan memang dulu amang tua mendiagnosa dia kurang gizi. Sekarang dokter bilang sudah busung lapar."

Ya Allah. Dalam kesedihan, saya merinding seketika. Seseorang yang berada dalam timbunan uang, makanan, harta berlimpah, menderita busung lapar. Betapa lucunya humorMu. Begitu lucu hingga menetes air mata ngeri.

No matter how much money we have, we're still the same person inside . We just have more stuff and nicer shoes. Our being remains the same.

..

Comments

  1. halo mbak.... daku member NCC yg sekaligus juga penggemar + pengagum 'dapur'mu yang cantik.... :) salam kenal yah....

    niwei, masalah kayak gini juga pernah terjadi di keluargaku, walaupun keluargaku (tante jauh maksudku...) itu blm sekaya penggambaran mbak ttg tante mbak tsb.cuma, dia kena sakit aneh i.e. busung lapar :( tsb.
    Gak tahu deh mbak kok bisa ya mereka yg justru berkelbihan gitu kena penyakit yg notabene hrsnya gak terjadi di kasta atas.... naudzubillah min dzalik.....

    ReplyDelete
  2. Mbak, aku baru mampir nih ke sini.... tp langsung jatuh hati sama gaya penulisan mbak... dan ceritanya yang menyentuh...Mudah2an bisa jadi inspirasiku....

    ReplyDelete
  3. Hm... memang aneh. Mungkin karena sudah saking seringnya mencoba berbagai makanan yang mewah - mewah akhirnya yah... bosen juga :)

    ReplyDelete
  4. alo mbak, blognya keren banget. Biarpun keluargaku gak termasuk kasta atas,alhamdulillah rezeki ngalir terus ... tapi adekku ya ada yg kaya gini juga, diperiksa ama dokter katanya kurang gizi ... padahal ya hrsnya sih cukup untuk melewati level kurang gizi

    ReplyDelete
  5. aduh... memang 'lucu' ya Ri..
    miris banget dengernya..

    ujian, nggak pernah berhenti selama kita masih hidup.. ya kan?

    ReplyDelete
  6. aku selalu percaya harta yg paling aku syukuri diberi Allah SWT adalah kesehatan yg prima. ikut prihatin dg tante suamimu, ri. is she alright now?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?