Skip to main content

Refugee

My house was flooded yesterday. Yes, with water. The rain was so heavy, but it was the watershed (I don't know what the English word for 'tanggul') near my house that caused the damage. People said it's broken out, so the water flooded everywhere, even to the musholla which was located on much higher land than us.


So we (me, hubby, mother in law) spent the night on refugee, at the small hotel nearby (which by the way, had a very nice garden facing the terrace).

We were lucky. The water is not that high, and it was for short period of time. I imagined all people who suffered the tsunami and other flood disaster, that was way bigger than what I had. Mine was nothing compares to them. We were lucky we can afford to go some place nice, while they don't. I imagined their sadness, frustration, worst of all: depression. God, help them.

Anyway, after the rain gradually subsided and hubby was busy checking all the damages, I took this picture of brown leaves. They were right in front of my front door. I like the color and the highlights created by the water :)


Also took some pictures of that nice garden in front of our room terrace.


The most annoying thing is, I have deadlines to meet! And this flood seriously kills my mood!

Comments

  1. ya ampuuun.. kebayang deh ngeberesinnya.. pasti ribet banget..
    duuh.. yg sabar ya mbak.. cobaan banget bulan ramadhan ya..

    ReplyDelete
  2. Ri rumahku juga kebanjiran, masuk rumah, saat itu aku dalam perjalanan dari bdg menuju jkt, di tol cipularang dah hujan deres dan aku khawatir rumah kebanjiran, ternyata benerrrr. Abis buka langsung deh beberes rumah, dah gitu kasur Nadya di bawah tanpa alas dan menyerap semua air hujan, ohhh tidak....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? …