Skip to main content

flying kite

I wrote this one almost three years ago. Still, for me, it's worth reading.

My on-air duty was finished since 3, but this inhuman sunny day kept me from going home directly. I turned on the computer instead, prepared tomorrow’s paper, and then surfed the net.

Anyway, it was 5 o’clock in the afternoon when I finally decided to go home. Took the back gate, I walked down the silent path between the grassy fields.

At the end of the path, near the security post, we have this medium size football grass court that was always full of people in every afternoon like this. What people? No, they’re not the office people, although sometimes some of us joined the crowd for an impulsive no-scores-required game. They’re local people.

In working days, they’re usually children and teenagers. But in weekends like this, the crowd members expand to parents, maybe even aunties and uncles, and an es-doger man with his cart. What were they doing?

They were simply just hanging out and having a good time. Playing footballs, walking around, and laying around on the grass, talking, running, riding their bikes, enjoying the afternoon wind, spooning their es-doger, and.… flying kites!!

Now, THIS I wanted to play too!!

Suddenly I remember those good old days when I was a little girl flying a kite with my big sister and brother. We did it on the rooftop of our house. I always got the job to hold the kite high up above my head, as high as my hand could stretch. Then at the right time, when the wind blew hard enough, my big sis or bro would shout for me to release the kite. Then they would draw the thread a little bit, let the wind work by itself, and the kite was flying!! I would be very happy, and they would allow me to hold the thread a little while.

“Ulur, dek, ulur terus, biar tinggi..!!”

My head’s thrown back; face toward the sky, big grin, the sun burned my skin, my hair. Often times it burned so bad that it smelled like frying oil.
Those were some of the very best times in my life.

Now I promise myself, next time I go on afternoon on-air duty again, I will bring a kite with me. But I wished I could bring along my brothers and sisters, too. To fly kites with me again. And we will be children again. Happy and free.
Just like the old times..

-----------
Sunday, June 02, 2002
Warm afternoon, walking along side football grass court, back gate of RCTI area


Comments

Popular posts from this blog

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? …