Biar teman-teman lain saja yang menulis tentang kepergianmu ya, Rur. Karena nanti-nanti, aku akan mengenangkan kamu dengan ceria dan penuh canda, sama seperti kamu menjalani hidup. Aku tidak mau menulis tentang kamu dengan bersedih-sedih. Sudah cukup waktu itu aja *kalo kamu tau aku nulis itu, pasti kamu ngomel-ngomel. "Apa-apaan sih, Ri???"*

Tadi aku tertunduk lemas waktu tanah mulai menimbunimu, lalu aku pegang nisanmu. Seperti tidak percaya namamu yang tertulis di situ. Tapi aku ikhlas, Rur, insya Allah. Sebentar lagi juga namaku ada di papan yang sama. Dan nama kita semua kan?

Di obituari Inong yang kutulis dulu, aku pernah bilang kan, bahwa orang baik selalu dipanggil lebih dahulu. Selalu dikasih cobaan yang berat-berat. Itu kamu, Rur. Waktu kamu bilang, "Ini bukan cobaan, ini hadiah." Ya, betul, itu kamu, Rur! Kamu orang baik yang cepat dipanggil pergi, meninggalkan kami yang masih berjuang membenahi tabungan akhirat kami yang masih saja defisit.

Oh, aku cuma boleh sedih sampe tiga hari saja bukan? Aku janji deh, besok-besok nulis tentang kamu pasti ceria dan penuh canda. Persis seperti kamu!

Moekti Ichtiarini
11 September 1970 - 5 Agustus 2008

Ruri's Blogs & Photos:
Related posts:

Photo by Magira