Skip to main content

Jiffest: "99% Honest" and "Coffe and Allah"

What a beautiful, soulful, groovy documentary. You only wished a documentary could be this enjoyable.

A documentary about United Minorities, a hip hop group in Norway. The film focused on 4 youngsters: Amina (Uganda), Assad (Pakistan), Haji (Iraq) and Emir (Bosnia). They got what it takes: talent, dedication, brain, maturity, and... Islam.

Beautiful music, beautiful voice.
Highly recommended.

"Coffee and Allah" was an elegant short story with a charming ending: a cup of coffee whose froth spelled "Allah". How can it go wrong.


Film Info:




99% Honest (99% Aerlig)

Synopsis:
Emir, Amina, Haji and Assad are all members of the hip hop group Forente Minoriteter (United Minorities). The film follows them through their musical process, with its ups and downs. The film crew has followed the band for two years, resulting in an intimate encounter with some very charming and open young people. They are all different but still find common ground through their passion for music and, not least, in finding their own space and identity amid conflicting demands from friends, family and Norwegian society.

Info:
Forente Minoriteter, the main subject of this documentary, are a group of people from different backgrounds who strive to raise awareness and promote cultural diversity in music, dance, film, theater and writing.

Director: Rune Denstad Langlo
Country: Norway
Year:2008
Genre: Documentary
Duration: 70 min.
Language: Norwegian (with English subtitles).

Awards:
Nominated for Best Documentary and Best Score at the 2009 Amanda Awards, Norway.





Coffee and Allah

Synopsis:
A young Muslim woman's appetite for coffee, Islam and a good game of badminton. When Oromo Ethiopian Abeba Mohammed moves to suburban Mt Albert, she has nothing but her faith in Allah, a taste for Ethiopian coffee, and a zest for life to sustain her. From behind her purdah, and no knowledge of English, Abeba struggles to make a connection with the people of her new homeland.

Info:
Coffee and Allah is not her only award-winning short film. Her 1996 short O Tamaiti won an award from New Zealand Film and TV Awards in 1996, while her 2001 short Still Life was awarded First Prize for Short Films at the 2001 Montréal World Film Festival.

Country: New Zealand
Year: 2007
Genre: Short
Duration: 14 min.
Language: English

Awards: 
Best Short Film at the 2008 Hawaii International Film Festival

Comments

Popular posts from this blog

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? …