Skip to main content

Menderitalah, Lalu Berkaryalah

Mint Tea
Resto Abu Nawas, end of November 2008

Saya tinggal di sebuah kawasan padat penduduk di Selatan Jakarta, tepat di samping sebuah universitas swasta tertua di Indonesia. Sudah bisa diduga, bisnis yang ramai berkembang di pertetanggaan (neighbourhood) adalah bisnis foto kopi, kos-kosan, warung makan, jasa cuci kiloan, dan... warnet.

Yang terakhir ini jadi berkah untuk saya dan tentunya orang-orang lain yang periuk nasinya mengepul dengan mengandalkan komunikasi via internet. Berbagai model warnet dengan beragam tingkat teknologi dan jangkauan tarif tersedia dalam jarak jalan kaki. Dari yang paling "bronx" --smoking area, non-AC-- sampai yang paling mewah --kursi nyaman, full AC, ruangan bebas berisik, minuman tinggal ambil di kulkas. Dari teknologi paling sudra dan paling trondol **bahkan gak ada USB drive di CPUnya**, sampai yang paling canggih dan paling kumplit-plit --LCD 24 inch wide, webcam, headphone keren dan bening suaranya. Dari harga 2000 rupiah hingga 10.000 rupiah per jam.

Sehingga suatu hari, ketika saya sudah betul-betul fed up berpindah dari provider mahal-tapi-dodol satu ke mahal-tapi-dodol lainnya (baca: MyNet ke Speedy Telkom), dengan senang dan ringan hatilah saya rela berpisah dari si broadband, karena warnet 3000an-tapi-kenceng baru saja buka di sebelah rumah. Belek masih menempel di mata, saya sudah bisa cek email. Mantaps.

Beberapa bulan lalu, The Patch buka di dekat rumah saya, bergabung dengan belasan warnet lainnya, meramaikan perang tarif bagai operator telepon seluler berlomba melacur adu murah hanya untuk mengeduk account-account baru. Ujung-ujungnya tentu menguntungkan konsumen (baca: saya). Warnet franchised ini dengan segera memimpin sebagai yang ternyaman, tercanggih, tercepat, terkeren, terbesar, in the area. Dengan segera jadi favorit saya, "Paket 10 ribu, mas!" Saya anteng tiga jam.

Akan tetapi, entah bagaimana, walau mata dimanjakan dengan LCD 24 inch wide setajam warna aslinya, headphone canggih bening stereo, bilik sejuk nan lega berkaca foggy, bagai kubikal kantor mewah lagi artistik di kawasan segi tiga emas, kursi ergonomis yang serasa memijat sendiri, saya tidak pernah bisa menghasilkan tulisan yang layak upload ketika bekerja di warnet ini. Sebagian besar tulisan, yang dengan narsisnya saya publish dengan rasa puas diri yang memalukan, saya hasilkan ketika berada di warnet yang kecil, panas, buruk, trondol, sudra. Selain tentunya di kamar saya sendiri, yang sudah pasti dengan biasnya saya nilai sebagai "super duper nyaman", walaupun sarang laba-laba kadang menggantung di langit-langit lupa saya bersihkan, dengan alasan, "Jangan diusir, nenek moyang mereka kan yang menyelamatkan Nabi Muhammad dan Abu Bakar dari tentara kafir Quraish waktu ngumpet di gua Tsur." Halah.

Beberapa tulisan favorit saya lahir di warnet sebelah rumah yang kian hari kian panas saja, kian gelap saja, kian lambat saja, dan kian bau saja! Tulisan lain terlahir di warnet koperasi yang tidak hanya lambat, tapi juga makin banyak virus dan makin bikin sakit punggung **kursinya sering dapet yang gak ada sandarannya. Oh, teganya**

Lantas di The Patch yang laksana surga? Nothing. None. Zero. Nihil. Gak ada. Saya harus menulis dulu di rumah sebelum membawanya ke sana untuk dipost.

Padahal... bukankah teorinya semakin nyaman kondisi kerja, semakin deras energi kreatif mengalir? Karena itu pula para karyawan berprestasi diberi insentif ini itu bukan? Nah, sesudah ini, saya pasti habis-habisan dimusuhi para karyawan kantor. Karena saya baru akan bilang dengan keras dan yakin, "Gak juga!!"
Baby I want you, like the roses want the rain
You know I need you, like the poet needs the pain
(Bon Jovi -- "In These Arms")
So the poet needs the pain! Ya, ya. Semua juga tau sejak dulu. Hanya saja tidak pernah saya sangka bahwa faktor pain tersebut saya dapatkan dalam wujud sebuah bilik warnet busuk, dengan kursi yang bikin sakit punggung lantaran tidak ada sandarannya.

Well, meski begitu, sekarang ini saya masih gemar nongkrong **duduk denk** di The Patch. Walau dengan konsekuensi harus menulis dulu di rumah, atau di waktu lowong di sela-sela seminar seperti sekarang ini. Tidak bisa on the spot, wong kenyamanannya bikin jari kelu dan otak buntu. Kreativitas berhenti, lalu terukirlah seringai dungu. Tapi sekali waktu, bolehlah saya kunjungi warnet-warnet busuk itu lagi --dengar-dengar sekarang sudah turun lagi tarifnya jadi 2000 rupiah per jam-- sekedar untuk menguji teori sok tau saya, yang kalau menurut professor Wijaya Herlambang, namanya hipotesis. **No, prof, itu namanya sok tau**

Jika memang teori itu terbukti benar, maka sepatutnyalah manusia bersyukur ketika derita mendera. Karena derita ternyata mengasah rasa dan estetika, menajamkan nurani dan kejujuran hati. Menggerakkan manusia menghasilkan karya-karya berarti, membuat perubahan, menciptakan peradaban. Maka bersyukurlah atas derita, karena derita bisa berarti mahakarya!

Ritz Carlton Ballroom - Pacific Place, suatu waktu di awal 2008
:di sela bosannya seminar dan dinginnya AC durjana

Comments

  1. Ditampar adalah hal yang paling nikmat di dunia, karena pada saat tangan menempel di pipi kiri kita harus menengok ke kanan dan pada saat kita di tampar ke kanan kita harus menengok ke kiri, lalu menunduk karena kesakitan lalu mendongak sambil berfikir dan menjawab untuk membalas menampar...lalu lalu lalu dan lalu

    ReplyDelete
  2. Enak ya baca tulisannya.....
    Bagus, enjoy membacanya dari awal sampai akhir.
    Pilihan kata yang apik dan tepat.

    Mengenai sarang laba-laba, jangan sering-sering dibersihan, karena laba-laba makan nyamuk, jadi dengan adanya laba-laba di rumah kita, at least bisa ngurangin jumlah nyamuk yang berseliweran.

    Dulu pernah baca ada pepatah: "untuk bisa dipakai dengan hebat, sesuatu harus dilukai dengan berat." ngeri ya? tapi ada benarnya juga.
    Senada dengan tulisan Riana kali ini.
    Tapi apakah harus terus seperti itu?
    Adakah cara lain yang lebih elegan?

    Regards,

    Nurdin

    ReplyDelete
  3. orang "susah" biasanya jadi lebih kreatif ;)

    ReplyDelete
  4. haha... bisa jadi teorinya bener mbak..
    saya juga kalo dapet kondisi enak bin nyaman bawaannya nyantaiiiiiii mulu... males2an... mulu :)

    ReplyDelete
  5. Tuch keren kan..kalo lagi suntuk jadi gue ikut di hibur dengan crita mu yang konyol2 tapi super-duper menghibur..he..he..

    emang tempat yang nyaman bikin bumpet ya..he..he..

    ReplyDelete
  6. Hampir semua karya2 besar & orang2 besar,terlahir dari situasi keterdesakan, karena materi atau karena terhina, sehingga ada keinginan kuat untuk membuktikan kemampuan,menghasilkan suatu karya. Ibarat sebuah pensil,supaya tulisan yg dihasilkan bagus,dia harus diraut dulu,bahkan sampai habis,tapi,yg tertinggal tulisan yg indah. Bravo,for your short story,kayak makan brownies,enak nge-bacanya.(-Ade-)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…