Skip to main content

Mereka Yang Tak Hendak Beranjak Dari Laut - Suatu Sore di Desa Sama Bahari (TN Wakatobi Bag. 8 Selesai)

Nama aslinya Kampung Bajo Sampela. Terletak di atas laut karena tak hendak mereka beranjak dari laut. Laut bening turkois itu adalah tanah, pekarangan, tempat bermain, ladang penghidupan, tempat mengabdi. Sak-kampung itu ya di atas laut. Jalan-jalan kampung adalah jembatan-jembatan penghubung antar rumah. Kendaraan yang terparkir di "garasi" dan hilir mudik di bawah adalah perahu-perahu sampan. Leyeh-leyeh piknik adalah mengapung-apungkan tubuh di permukaan laut bening.

Wakatobi 062

Wakatobi 058 Wakatobi 059

Kalau anda main ke kampung Suku Bajo, dengan riang gembira mereka akan menyambut sapaan anda dan membiarkan anda keluar masuk rumah mereka tanpa hambatan. Iyaaa, seriuuuuuus. Anak-anak Bajo yang antusias, ibu-ibu mereka yang ramah. Saya dan teman-teman keluar masuk rumah mereka melihat-lihat bagian dalam, peralatan menangkap ikan, dan numpang sholat.

Wakatobi 060 Wakatobi 061

Kami menumpang sholat di rumah salah satu kerabat Pak Hamid. Rumahnya lebih besar dari rumah-rumah yang lain dan berlantai dua! Wuiiih, kewrweeen.. Seusai sholat, ngeteh-ngeteh dulu sambil ikut-ikutan pake bedak dingin di muka kayak wanita-wanita Bajo, hihiy... Semuanya pake, termasuk mas Mahrun sama Boetje. Did I not make myself clear? Wanita Bajo. Wa-ni-ta. :D

Rencana bermalam di kampung cantik ini harus kandas karena ada perkembangan mendadak seputar tiket Express Air. Sepanjang pelayaran kembali ke Wanci, semua tertidur nyenyak di bawah langit yang perlahan beranjak senja. Perahunya tanpa tudung, sebuah test yang sempurna untuk bedak dingin yang masih memupuri wajah.

Wakatobi 063 Wakatobi 089

Menjejak kembali di Wangi-Wangi, matahari persis jatuh di ufuk barat. Kapal-kapal melambai tenang.


Wakatobi 064Kami sempat mampir ke Mata Air Kontamale, cuci muka dengan segarnya mata air gua tersebut. Dan benaaaar, masya Allah, setelah bedak dingin dihapus, terbuktilah kalau wajah gak terbakar! Buang jauh-jauh Nivea. We have Cold Powder aliyas Bedak Duingin :D

---

Keesokan pagi saya dan mas Mahrun mengantar Indhi, Boetje dan Ciwie ke Bandara. Lalu kami berdua ke pelabuhan untuk menumpang kapal kayu kembali ke Kendari. Saya sempatkan memotret ibu cantik penjual Kasuami gepeng di pelabuhan, yang sebenarnya cuma mau ngasih liat laut pelabuhan di belakang ibu itu yang beniiiiiing. Pelabuhan! Bening!

Wakatobi 067

Dua belas jam perjalanan menunggu di hadapan. Melewati Pulau Buton yang indah itu lagi. Nasi kucing dan dipan berangin yang lebih nikmat dari Awani Dream.

The Stunning Button Island 2 Wakatobi 066

Epilog:

Pada awal tahun ini saya dan beberapa teman mengatur perjalanan ke Wakatobi lagi, dan kali ini lengkap khatam Wa-ka-to sampai Bi. Plus mengunjungi para sahabat aktivis Forkani di Kaledupa. Plus jelajah sebagian Pulau Buton, terutama ke laguna yang ada terowongan ke lautnya. Plus main air di riam-riam Moramo yang kalo pas sepi dan bersih indahnya setara pemandian bidadari itu.

Tapi ternyata peserta yang ikut semuanya priaaaaaaa. Jadi deh saya gak ikutan, tapi rombongan tetap berangkat.

Pesan epilog ini sangat sederhana: kalo saya ngajak ngebolang, kaum hawa pada ikutlah donk.


Comments

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?