Sunday, June 12, 2011

About A Bird

Songs:
"Free As A Bird" - The Beatles
"Blackbird" - The Beatles
"Falling Slowly" - Lee Dewyze and Crystal Bowersox, written by Glen Hansard





Free.. as a bird
it's the next best thing to be
like a homing bird I fly
like a bird on wings..

"Free As A Bird" - The Beatles
*Menulis ini sambil merasai kupu-kupu menggelitiki perut sayaaaaa..!*

Gini deh tiap kali abis bertelur album. Perasaan campur aduk semacam es campur disiram madu liar organik. Segar menyehatkan!

Banyak hal yang bikin saya jumping over the moon bikin album ini. 

Pertama: lirikanmu. Eh, salaaaah.. itu donk lagunya Rafika Duri jaman almarhum Ayah saya masih mudaaaa! Ulang!

Pertama: dia berbentuk burung. Hihihi.
Saya gak pernah bikin album yang bentuknya spesifik kayak gini. Ostosmastis si burung jadi the hero of the dish donk *Masterchef kali, cuy*. Maksudnya, saya gak bisa ngaco seenak puser seperti biasa. Kalo albumnya berbentuk burung, mosyok saya tempelin gambar petinju sih? Which by the by, jadi ngingetin saya sama chipboard frame tema sport yang belom  saya pake. Bakal nanti nyecrap foto-foto waktu sekeluarga nonton bola Indonesia lawan Malaysia. Sembari gak ada yang nanya. *Eh, bentar, lagian ngapain nempelin gambar petinju?* *juling*

Thursday, June 09, 2011

Les Classiques, 1 Mei 2011


Ulang tahun saya bulan lalu sungguh hari ulang tahun yang amat sangat kelewat unik sepanjang hidup. Hari itu saya habiskan dengan.. menulis cerita pendek bersama Kef! *pingsan sebentar*

Kurang lebih sebulan sebelumnya, di suatu malam tanpa bintang, SMS dari Kef saya terima. Itu aja udah bikin saya deg-degan luar biasa. Waktu itu project terjemahan belum lagi kelar. Bayangan duet menulis dengan Kef terasa seperti too good to be true!

Saya "he-eh" dulu aja, sembari gak yakin plus setengah bengong. Terus ketakutan sendiri. Kesempatan ini mengerikan, namun saya tak mau ia lepas dari genggaman. Menulis cerita pendek secara tandem, tanpa ada konsep maupun rancangan apapun yang dibawa dari rumah. Harus segar tercipta saat itu juga. Dan harus pula selesai hari itu juga! Exciting, heh? Ya-ha! Sekaligus, ngeriiiiii...

Maka ketika terjemahan selesai dan Kef menagih janji, saya hanya bisa gemetar antara excited dan jeri setengah mati. Aaah, bagaimana mensejajari seorang Kef? Pasti setengah huruf pun gak akan keluar! Hadeeeeh..

Pilah-pilih tempat, salah satu gua batman paling cihuy: kafe bergaya Eropa kuno yang buka mulai 6.30 pagi hingga jam 2.00 pagi (setiap hari!). Les Classiques. Belum-belum saya udah berasa psychedelic duluan, hihihi..

Pagi-pagi sekali saya turun dari bajay *haha, ngerusak setting*, tepat di depan kafe. Matahari pagi putih seperti seprai habis dicuci, dengan susah payah berusaha menembus mendung tipis yang menggantung tanggung. Saya lihat Kef baru memarkir mobilnya di halaman.

Membuka hari dengan jus jeruk dan coklat panas, serumpun sedap malam disodorkan Kef ke hadapan saya, "Ini untuk mengharumi hari ulangtahunmu, dan menemani kita menulis. Ia akan mewangi sepanjang malam nanti."

"Sepertinya kamu akan menulis, sementara aku merecoki saja sambil menghirup earl grey dan mengudap kue manis.” Hidung saya mengerut cemas.

Saya memang membayangkan hari yang sulit. Bukan hanya penuh perdebatan alot, bahkan lebih buruk lagi: saya gak akan mampu memproduksi sebuah kata apapun. Lalu kalaupun akhirnya mampu, akan lambat tersendat, lalu buntu di sana-sini. Diskusi mampet. Kecanggungan menyatukan dua gaya dan keinginan, plus saya minder. Pasti melelahkan sangat. Gak akan kelar. Tapi janji kami harus tunai, bahwa cerita itu harus kelar dalam sehari. Harus. *pikiran itu sungguh gak nolong deh, sumpah*

Saya salah besar. 

Tuesday, June 07, 2011

Good Lighting, Good Life



Suatu hari di jaman dahulu kala, ketika Friendster adalah Facebooknya hari ini, saya terkejut melihat foto profil seorang sahabat. Halah, kok cakep? Gak mungkin! Hahaha. Sahabat saya hanya tertawa ketika saya tuduh dia operasi plastik bareng Krisdayanti, “It’s all about lighting and angle, Ri.”

Ah, couldn’t be truer! Betapa saya selalu takjub melihat wajah-wajah di cermin kamar mandi hotel dengan lighting yang cantik, lalu seketika berubah lagi ketika lighting ruangan berubah lagi. It really is about good lighting!

Karena saya yang sering menyamar jadi food photographer, lighting is everything, of course. Kami melukis menggunakan cahaya. Seolah cahaya dapat melakukan apapun. Membuat bayangan, mengubah mood, menciptakan imaji, menerjemahkan ekspresi, hingga merangkai cerita.

Ketika menjadi fotografer, saya adalah pengejar matahari. Cahaya matahari adalah yang tercantik! Tapi ketika harus menghadapi sesi foto yang panjang, matahari yang tidak ada remotenya itu pun mau tak mau harus digantikan oleh cahaya buatan yang bisa meniru semirip mungkin cahaya indahnya. Sebaran yang rata, warna putih lunak, pancaran yang tidak menyilaukan.

Ini juga terjadi ketika saya kembali ke identitas asal sebagai home baker alias bakul kue rumahan. Penerangan yang memadai sangat mempengaruhi kenyamanan mengaduk adonan, menilai warna, tingkat kematangan, dari urusan teknis proses produksi hingga pengendalian mood ketika bekerja di dapur. Terlebih lagi ketika hasil baking pun menuntut direkam dalam bingkai gambar. Dapur harus bisa berfungsi ganda sebagai studio foto odong-odong. Yang artinya hanya satu: mutlak memiliki pencahayaan yang baik.

Sunday, June 05, 2011

Lebih Indah


mungkin, udara Yogya wangi setanggi. atau,
kubah langitnya meneduhi candi.
bahkan kit 18-55 tunduk menghamba,
memuja lumut hijau coklat tua
sepanjang tembok pemandian permaisuri.
duhai, mengapa segalanya
terasa lebih indah di Yogya?


February 2nd, 2011

Related Posts with Thumbnails