Saonek island, Raja Ampat. First photo I uploaded just as is.
|
Gini. Masalahnya adalah tiap kali pulang ngebolang saya dilanda merana merindu hebat yang merontokkan tulang-belulang. Bikin saya gak mampu ngapa-ngapain. Padahal catatan perjalanan harus ditulis, foto-foto harus disortir dan dicompile. Tapi saya selalu gak mampu dealing dengan itu semua. Instead, saya malah nglangut nulis puisi di Google+.
5 Oct 2011
Bangun pagi dan bukan teluk,
perahu, matahari terbit
dan bocah laut
yang ada di hadapan.
Bukan pula hutan bakau hijau cemerlang,
rumah kayu, pulau karang, tebing putih
dan warna-warna alam.
Tidak ada.
Tidak ada.
{{menangis patah}}
6 Oct 2011
Assalamu'alaikum, pagi penyayat hati.
Kemana perginya bening laut dan elang pembelah langit?
Gak bisa begini terus donk, kan, iya kan? Jadi malam ini saya bertekad memutus lingkaran lemah hati itu dengan langsung mindahin foto-foto ke external hard drive. Dealing with it right away. Menegarkan diri mati-matian. Mengeraskan hati. Saya harus kuat. Saya harus kuat.
Besok saya sudah harus mulai memindahkan catatan-catatan yang berceceran itu ke dalam bentuk yang lebih bermanfaat untuk orang lain. Paling gak, foto-foto sudah harus disortir dan siap digunakan baik untuk personal use maupun stock photo. Karena Senin nanti, saya ingin sudah meninggalkan pertualangan luar biasa itu di belakang dan menceburkan diri ke penyusunan buku yang sudah nyaris sebulan terbengkalai.
*Kamu bilang, "takkan sanggup." Kamu betul.*
Pejaten, December 3rd, 2011
: when the morning sent me back from 2 whole weeks voyage in Eastern Indonesia.
Ternate - Raja Ampat - Banda Neira - Ambon.
1 comments:
*sigh
Post a Comment