Skip to main content

Bolang, Kartu GSM dan Poin Tersembunyi

Selpele Girls
Selpele girls. Selpele village, Raja Ampat.
We stopped by this humble village for fuel, on our way from Wayag to Waisai.
Look at that stunning natural backdrop!
Sewaktu melayari Indonesia Timur pekan lalu, sejak hari pertama di Ternate, saya sudah ganti kartu GSM menjadi kartu simPATI. Bukannya apa-apa, udah dikasih tau sama kepala suku Arya Sadhewa bahwa sepanjang rute yang akan kita tempuh nanti, mulai dari Ternate – Tidore – Kep. Guraichi – Kep. Bacan, lalu menyusuri kaki terbawah Halmahera hingga ke Kep. Widi, lanjut ke gerbang Raja Ampat yaitu P. Gebe, hingga ke akhirnya masuk ke Raja Ampat Papua: Wayag – Waisai – Misool, jangan harap ada sinyal apapun selain radio nelayan dan pelaut dan sinyal telepati dari perut yang kelaparan. Kalaupun ada sinyal GSM, maka itu hanya Telkomsel. Jiaahhhh... Kayaknya Telkomsel megang banget di Indonesia Timur! Soalnya waktu ke Wakatobi Oktober lalu pun hanya sinyal Telkomsel yang mentereng di sana. Tau gitu kan kartu As yang saya beli di Kendari gak saya matiin. Poinnya udah banyak tuh.. *keluh*.

Singkat cerita, di Ternate saya beli kartu perdana lagi, kali ini simPATI bukan As. Dan walaupun dengan girangnya kami gak pernah ketemu sinyal lagi hingga docking di Waisai, lumayanlah bisa diandalkan meski GPRSnya terkadang bikin darah tinggi. At least bisa ngabarin orang rumah, “Hoi, saya misi' idup neh! Barang-barang saya jangan dilego dulu!”

Nah sekarang, saya gak mau matiin kartu simPATI yang ini, karena gak mau kehilangan poin yang udah terkumpul kayak kasus Wakatobi kemarin. Soalnyaaaaaaaaaa.... ternyataaaaaaaaaaaaaa.. saya found out kalo poin-poin itu beneran laku loh! Hihihi.. underestimate banget ya saya. Bisa dipake buat macem-macem promo yang lumayan bikin saya kedip-kedip. Harap dicatat bahwa saya bukan tipe pengejar diskon, promo, gratisan dan benda-benda sogokan sejenisnya, kecuali mungkin kalo Nutella bikin promo Buy 1 Get 10. Tapi ketika semalam dikasih tau apa yang bisa saya dapet dari poin yang numpuk terancam mubazir di kartu saya, saya mulai teleng kepala juga ke kiri dan ke kanan. Err.. *batuk*

Ok gini, sesederhana kesukaan saya akan yoghurt tanpa gula, dan nyari penginapan murah meriah memabukkan buat kepentingan ngebolang, bagaimanapun offeringnya cukup berharga untuk dilihat.

Diskon hingga 25% kamar, makanan minuman, laundry dan spa di jaringan Best Western Hotel, for one thing. Ketik BWH, kirim ke 777. Eh, jangan ketawa dulu. Emang sih saya backpacker yang tidurnya di dermaga, Pos Pol Air, tenda dan rumah penduduk. Tapi carrier saya kan Deuter *loh, apa hubungannya?*. Maksudnya, sesekali jadi bolang sosialita yang nginep di hotel lucu juga, apalagi kalo dibayarin dan dikasih diskon. Program pemutihan kulit!

Buy 2 get 3 di Sour Sally. Ummm.. meski mendambakan warung yoghurt yang nyediain yoghurt tanpa gula dan nyedian madu buat disiramin di atasnya, offering ini lumayan punya prospek untuk saya abuse. Skema saya adalah membujuk dua orang teman buat mengudap di Sour Sally, dan menangguk keuntungan diam-diam makan yoghurt ketiga secara gratis. Yihi! *merasa cerdas* *ketik SOURSALLY, sms ke 777*

Diskon 50% Tiket SnowBay. Haih.. saya pasti kurang piknik karena baru tau ada tempat rekreasi namanya Snow Bay di Taman Mini Indonesia Indah. Dari hasil penerawangan, ini adalah water park besar dengan sejuta keriaannya. Tiket masuk untuk dewasa 100 ribu di hari kerja, 120 ribu di akhir pekan. Kalo diskon dari Telkomsel ini dipake, lumayanlah jadi setengah harga. Masalahnya saya kalo berenang maunya berenang beneran atau sekalian snorkeling diving ketemu Manta. Gak main air dalam mangkok raksasa ataupun disembur air pake ember ukuran Gulliver. But wait... ada hot and cold spa! Now we're talking! *buru-buru ketik SBAY, kirim ke 777* Lagian saya juga bisa bawa gank krucil saya ke sini (baca: 10 orang keponakan dari usia balita sampe skripsi), walaupun harus menseleksi 4 orang dari mereka yang bakal dapet diskon tiket 50%. Say you love your auntie? :)

Yang paling rendah prospeknya untuk saya take advantage adalah 2 offering terakhir. Yaitu bonus isi ulang voucher permainan hingga 50% di Amazone Family Entertainment (ketik AMAZONE sms ke 777) dan Disc 17% Asuransi Garda Oto (ketik GARDAOTO kirim ke 777). Kayaknya gank krucil itu jarang banget ketemu Amazone, kecuali terakhir kali ke ITC BSD nemenin kakak Ahmad beli netbook. But we'll see lah, bagaimanapun emaknya Anya sering belanja bulanan di situ. Sementara Asuransi Garda Oto ini cuma bikin saya kangen aja sama mas Fordy yang udah saya lem-gak-biru. Apa kabarnya dia sekarang? Masih se-ji'ung waktu di tangan sayakah? Saya masih ingat sekali saat-saat mesra berdua dia menyusuri Jakarta Outer Ring Road hampir tiap pekan sekali, jejeritan nyanyi lagu-lagu dari flash disk serasa lagi di freeway menuju Grand Canyon. Bersamanya, saya sebebas elang di langit Papua. Tapi gak bebas lagi begitu masuk bengkel. Huaaaaa.... Nah kan, diskon ini datang terlambat ke pangkuan saya! Atau... saya yang terlalu cepat membuat keputusan? *galau*

Jadi sekarang kebiasaan saya bertambah satu, yaitu meriksa jumlah poin di kartu simPATI: ketik POIN, kirim ke 777. Go ahead, try. You’ll be surprised of how much points you have untouched.

Moral of the story, jangan buru-buru matiin kartu simPATI sepulang dari ngebolang!

Comments

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?