Friday, January 14, 2011

Awal dan Akhir


Puisi Awal Tahun
Kurnia Effendi

Kepada cahaya yang pulang ke sangkarnya, kutitipkan
rasa sedih terakhir. Ini lagu gugur tahun.
Kubayangkan: seorang lelaki tua, mungkin diriku, tekun
menghimpun reranting yang luruh di pengujung pikun.
Ia akan membakarnya bersama kenangan yang
ingin dihapus. Ini juga lagu tumbuh tahun.
Kuangankan: jendela yang terbuka perlahan, memperlihatkan
lanskap pagi dengan pepucuk daun damar dimandikan
embun. Aku tak mengucap janji apa pun selain
ingin setia pada persangkaan baik

Taman Kuliner, 1 Januari 2011

Kesadaran itu meruyak sore hari yang penuh berintik hujan. Teh hitam gunung dempo dengan madu saya seruput hangat di bibir. Sungguh ganjil kesadaran ini muncul justru ketika saya tengah bersyukur atas hidup saya yang sederhana. Kecil, namun indah. Dan tahun Muharram yang berlalu dengan penuh kepuasan.

Tahun Muharram 1431 H berakhir hampir bersamaan dengan tahun masehi 2010. Dalam keduanya, saya mensyukuri sama banyaknya. Di tahun ini, saya belajar banyak. Saya bepergian, tertawa dan menangis. I traveled a lot, learnt a lot, been through a lot. Semoga saya juga sudah memberi banyak. Sebuah tahun hijrah, di mana saya menyelesaikan banyak hal. Karena saya sudah selesai dengan segalanya.

Saya selesai dengan segala yang menjadi diri saya. Semua hal yang saya tekuni, saya cintai, dan menjadi identitas yang mendefinisi jati diri saya. Saya selesai dengan semua itu. Seperti Oprah dengan farewell seasonnya, atau Simply Red dengan farewell tournya.

Saya juga menyelesaikan hal-hal yang sebelumnya tak kunjung sudah. Hubungan yang buruk, urusan yang tidak bermanfaat. Saya meminta maaf, mengucapkan selamat tinggal. Menyingkirkan banyak hal demi sesuatu yang lebih baik di ujung lorong waktu, yang kian hari terasa kian pendek saja.

Pikiran ini menghantam wajah saya bagai jarum air menyakiti pipi ketika mandi hujan. The thing is, saya tidak pernah menyangka akan tiba di titik ini. I thought I'd still be doing all those things 'til the day I die. I know I am always changing and growing, but those passions are my thing. The thing that I am, I will die as that. I was wrong. That very core of me is changing. I am no longer attached to those that have been defining me as a person. I don't know who I am becoming and I'm not scared even one bit.
Someone once said, what we are never changes, but who we are, never stops changing.
-- Gil Grissom
Ultimately, saya ingin meninggal di tahun ini. 1432 H, atau 2011 M. Ini adalah saat yang tepat untuk saya pergi. Saya merasa tugas saya sudah selesai. Atau mungkin tepatnya, sebagian besar tugas utama saya, sudah selesai. I have passed along all my torches. Saya tidak sedang bersedih apalagi putus asa. Justru sebaliknya, saya sedang di puncak rasa syukur. Entahlah, saya tidak dapat menjelaskannya. Namun jika Allah membolehkan saya memilih, sekarang inilah saya ingin pergi menghadapNya. Lagi pula, saya sudah terlalu rindu padaNya, juga pada Ayah dan Mama.

Teh hitam saya tersisa sedikit. Berintik hujan seperti tak ingin berhenti.


Pejaten, 15 December 2010

6 comments:

  1. Mbak Riana, membaca paragraf terakhir mbak, saya sungguh merasa diingatkan. Betapa banyak yang masih harus saya bereskan sebelum saya bisa berkata saya sudah selesai.

    Betapa perjalanan kembali menghadap-Nya sepatutnya merupakan hal indah yang dinanti-nanti. Sungguh saya ingin mencapai titik itu mbak. Terima kasih sudah diingatkan kalau sudah saatnya saya mulai berbenah.

    ReplyDelete
  2. Mbak Riana, saking terpesona, sampai lupa mau minta ijin. Bolehkah mengcopy paste paragraf terakhir? Thank you.

    ReplyDelete
  3. @ Chiquita, the honor is mine, I thank you :)

    ReplyDelete
  4. Eaaaah.... kutipannya pake omongan Grissom. :-)
    Wah!! Jadi mikir, ri... Harus jauuuuuh lebih baek di tahun 2011 ini. Masih banyak PR. Thx dah mengingatkan.

    ReplyDelete
  5. @ Retma:
    bwaaahahaha, gak bisa copooot... i miss that man so much :)

    ReplyDelete
  6. Singkat kata:
    JANGAN PERGI DULU.
    Masih banyak yang membutuhkan kamu tanpa kausadari. Meski kadang hanya butuh senyummu. Atau doamu.
    Dia yang akan mengatakan tugasmu selesai atau belum. Bukan kamu, sayangku.
    *Peluk hangat di tengah hujan.

    ReplyDelete

Related Posts with Thumbnails