Mumpung secara ajaib saya mendadak punya waktu kosong pagi ini, saya mau nulis sedikit sebelum keinginan menulis itu lenyap lagi bagai asap ditelan udara. Saya juga gak tau sejak kapan selera menulis saya sering mendadak mati. Well, saya tau denk. Sejak saya menemukan bahwa ternyata beberapa tulisan saya sangat mengganggu stabilitas nasional. Aaahahaha. Kadang saya masih gak percaya, tulisan-tulisan buruk di blog yang sepi pengunjung ini --itu kalo diukur dari jumlah komennya--, ternyata ada yang baca juga. Dan dimasukin ke hati lagi. Halah, udah deh. Jangan pernah ambil pusing saya nulis apa. Saya tuh suka setengah trance gitu kalo pas nulis, saya sendiri lupa saya udah nulis apa. Seringkali saya baca-baca lagi terus bingung sendiri, "Ini siapa yang nulis?" Nah.
Saya sih sering sekali menghadapi pertanyaan tentang tulisan-tulisan saya. Seorang pembaca blog yang saya gak pernah kenal sebelumnya bahkan secara khusus mengajak saya ketemu makan siang, hanya untuk bertanya, "Tulisan-tulisan loe itu beneran apa gak sih?" Hadeeeh. Lucunya hidup ini! Jawaban saya klasik, "The author is dead." Kalo gak mudeng, google aja deh kalimat itu. Tapi saya senang kok, karena kemudian saya berteman baik dengan pembaca blog saya itu. Beberapa kali kami melewati sore hari dalam riuh tawa sambil menghirup wangi kopi.
Tapi jangan dikira saya betul-betul melarikan diri dari tanggungjawab seorang penulis. Khusus masalah ini, saya sempat konsultasi dengan seorang teman yang saya nilai tingkat kedewasaannya di atas saya beberapa level-lah *jiah*. Teman yang sangat saya sayangi ini bilang, "Tulisan sebaiknya bermanfaat untuk orang lain. Kalo kamu pikir bakalan ada pihak yang merasa terganggu, lebih baik gak usah dipublikasikan." Ah, bijaksana sekali teman saya ini!
Repotnya, konsep saya menulis adalah untuk diri sendiri. Bukan untuk orang lain. Kalau memang saya post di ruang publik, semata karena saya memang gak pernah keberatan tulisan saya dibaca orang. I'm practically naked in my writing. Tapi kan, tapi kan, the author is dead! *manggil ojek, kabur!*
Nah, untungnya saya yang sekarang beda dengan saya 10 tahun lalu. Yang gak peduli pada siapapun dan apapun as long as I didn't break any rules. Sekarang ini, surprisingly, saya dengan senang hati menahan diri tidak lagi sebebas merpati, demi menjaga stabilitas nasional itu tadi. Surprise, surprise. Ternyata saya grow up juga loh. Alhamdulillah...
Saya masih menulis dan akan terus menulis sampai saya mati. Banyak yang saya biarkan tersimpan saja dalam buku sakti, tapi biasanya semua saya publish juga eventually, meskipun tidak melulu di sini. Karena buat saya, menulis berarti penyembuhan diri. Sebuah penutup untuk sejuring episode hidup yang berlari sependek titian waktu. Jika ternyata orang suka membacanya, Allah maha baik. Kalo ada yang terganggu, mohon beritahu bagaimana saya meminta maaf.
*sebuah tanda terimakasih untuk salah satu blogger favorit saya: Nyonya Sepatu. kamu tidak pernah tau seberapa besar jasamu terhadap kewarasan saya.*

0 comments:
Post a Comment