Skip to main content

Kerlung Pelangi

Namanya Kerlung Pelangi. Saya menerjemahkannya demikian. Karena terdengar lebih indah daripada Pelangi Ikal, ataupun Pelangi Melingkar. Dia saya kenal beberapa tahun berselang, ketika ia menyapa saya di suatu siang berawan namun terik memanggang. Sejak itu, diam-diam, dia menjadi malaikat pelindung saya. Guardian angel yang entah mengapa selalu ada ketika saya butuh oksigen pengusir racun bosan dan iblis basi. Kamu tahu betapa sulitnya menemukan seorang trekkie sekarang ini? Dia adalah salah satunya. Meski semestinya saya sudah mengira, tak urung saya senang sekali bahwa spesies kami belum sepenuhnya punah.

Ketika saya terjebak alur hidup muggles, dia akan datang di waktu-waktu yang tidak terduga. Mengirimi saya benda-benda sihir yang sangat menyenangkan. Mengingatkan saya lagi akan jati diri dan suara kebenaran yang mulai sayup tertelan riuh kesibukan dan gegas waktu. Selalu harus ada ruang untuk khayalan!

Hingga kini, dia tetap menjaga saya. Lewat mantera-mantera di timeline. Terakhir, ia menciptakan rumah manis untuk tempat saya berkicau. Tempat siapapun bisa berkicau dari dapur saya yang hangat, wangi jeruk dan kayu manis. Sebuah kado berpita yang meletup melontarkan confetti berkilau-kilau. Saya bertepuk tangan kesenangan, pipi saya menghangat, bola mata mengerjap bintang.

Dia Curly Rainbow. Saya memanggilnya: Kerlung Pelangi.
...

Comments

Popular posts from this blog

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? …