
Saya masih ingat riap gerimis yang selalu menggerakkan jari-jemari saya di sini. Bercerita tentang hangatnya mengerlung di sofa bersandaran tinggi, ditemani secangkir coklat panas dengan kaus kaki melekat hangat. Seperti Lotta. Seperti siang ini, terasa masih terus pagi. Senja nanti, akan terasa sudah malam. Hujan, rimis air. Kelok garis fana di jendela berwarna. Kedai kopi, sapaan yang akrab di telinga, "Sudah kauseduh tehmu?" Seperti pernah mendengar ratusan kali sebelumnya. Dalam puisi pujangga tak bernama.
Langkah saya terhenti di depan sebuah mobil mungil berwarna merah. Terlalu merah. Seperti darah. Atau lipstick merk mahal yang dipakai gadis cantik dalam iklan di majalah terjemahan. Satu tarikan senyum mengembang renyah. Saya hampir bisa mendengar tawa darinya sudah. Mendadak saya mengerti, mendung dan dingin hujan, memang selalu menipu. Hangat yang menyamar menjadi ini dan itu.
Perjalanan menguak jalan-jalan kecil di tengah kota membuktikan bahwa kami masih para petualang kecil yang sama. Menjula matahari tidak berarti terbakar panasnya. Memecahkan paru-paru demi mutiara tidak berarti tenggelam lalu terlupa. Saya juga tidak tahu apa arti dua kalimat barusan. Hanya saja, saya menjadi mahfum, bahwa kembara hanya takluk pada musim. Nyatanya sesak ibu kota yang seharusnya menghambat kami hingga bodoh di atas aspal, tidak seujung kukupun berhasil menyentuh bayang si merah. Ah, dia terlalu merah!
Saya juga masih ingat rinai air yang sama, di bawah kerjap bintang yang tak teraba, pada kurun dua kitaran matahari ia. Ketika seseorang menusuk pandang mata saya dan berkata, "Kamu indah." Lalu kali lain ketika seseorang melenggang di hadapan, sepertinya tak peduli. Namun tak dinyana berluncuran kata-kata dari mulutnya. Terpatah-patah, namun bersikeras menjelaskan gundah hatinya. Sepasang mata lain memandangi gelas kopi di atas meja, mencoba mengerti lalu memberikan harapan. Banyak saat di mana dua pasang mata terbelalak tak percaya. Dan sepasang lagi hanya bisa meredup tak berdaya. Tidak menduga bahwa segala yang tidak pernah diyakini, ternyata patut diyakini.
Taksi berwarna sama mengantar kami pulang. Saya tidak terlalu suka mengingat yang kedua. Karena di dalam kabin penumpang, seseorang merasakan ngilu di hatinya, lalu pergi menghilang keesokan harinya. Saya terlanjur turun. Tidak melihat matanya terpejam setengah detik menahan luka. Tidak bisa menyentuh ringan dahinya atau sekedar berkata, "Kamu menghilang pergi. Aku tidak punya pilihan lain." Walaupun ia kembali seminggu setelahnya, di matanya terlanjur menganga luka.
Di tempat yang sama memang selalu hujan cinta. Mungkin hendak membalapi air. Seperti semalam, ketika perjalanan tidak selesai hanya di obrolan. Tapi juga radius kilometer di angka lebih besar dari 30. Sebuah malam yang hangat dalam siraman hujan. Karena saya berada di antara para sahabat sepanjang malam. Serasa berkerlung di sofa bersandaran tinggi, ditemani cokelat panas dan kaus kaki wol melekat.
Seguyur inspirasi mengantarkan saya di sini. Untuk gelisah magma yang menjelma bulir-bulir kebijakan tiap-tiap hari, saya hanya mampu menetesinya dengan hening air mata haru. Tidak banyak keinginan, selain bisa menuntaskan tumpukan manuskrip yang mengamprak tidak rampung. Ia mengotori pikiran saya dengan setumpuk adegan berarakan. Jikanya awan, maka sungguh hancur-hancuran berantakan nyaris abstrak. Mengapa benang merah penjalin cerita itu tak pernah pergi? Mereka mericuhi alam bawah sadar yang tadinya bening kemilau!
Saya tak sabar menanti dia kembali. Seseorang yang selalu riuh menulis tak berhenti di warung donat. Mudah-mudahan, besok pagi, dia mewujud kembali.
September 22nd, 2010
A birthday gift for a dear friend
...
dari mana munculnya kata2 tidak biasa ini teman...begitu meluncur, begitu seperti kau nyalakan kembang api dan percak-perciknya menyentuh relung hati
ReplyDeletebahagianya teman yang berhari jadi..