Friday, July 02, 2010

A Week In The Life

Story About A Week That'll Never Come Again



Project: A Week In The Life, 8-14 May 2010
Deadline: June 26th, 2010
Song: "A Day In The Life” – The Beatles
Sanity Level Status: split personality caused by disbelief


Jadi gini. The idea of "A Week In The Life" itself udah jenius banget. Ngerekam kehidupan kita selama seminggu, as it is, terus dibikin albumnya. Jadi ketika Ria Nirwana --guru saya, scrapbook artist yang super cool itu-- memanggil semua scrappers untuk bikin ginian, meloncatlah tante loe nih ngacung tangan tinggi-tinggi: ikutan!

 

What started as a fun thing jeprat-jepret foto selama seminggu, turned into nightmare: gak tau mau diapain ini foto-foto segunung! Dalam tenggat satu bulan, gak punya cukup waktu buat belanja tools dan supplies, sebagai syarat utama untuk bisa nyolong waktu ngerjainnya dikit-dikit. Singkat cerita, dua minggu terakhir baru mulai bergerak, dan album ini kelar pada hari deadline: 26 June 2010 at exactly 10.00 am. Tepat di hari gathering project ini, yang mana pada jam itu harusnya tante loe udah di Black Canyon Coffee, dalam keadaan wangi dan cantik, anteng-anteng duduk ngeteh, sembari ngebuka album para scrappers lainnya. Juuuh, gak dulu gak sekarang, system kebut semalem always!


 

 

Tepat di jam 10 pagi itu, in the state of kusut masai belom mandi mirip Mariam Blok M, saya memandang album itu in disbelief. Personality mulai kepisah satu. Beuhh, kelar juga?? Really?? Lili?? Mosyok sih? Beneran kelar nih? *yah, gitu lah, tanda-tanda Peggy Lou mulai mengambil alih Sybill*


 

 

 

Album itu berantakan. Messy as hell. Gak pake design-design-an *gak bisa*. Serba terlalu.
Terlalu gendut sampe jilidannya nganga.
Terlalu banyak konten.
Terlalu banyak yang mau dimasukin.
Sungguh terlalu.
Kalo aja scrapbook bisa memuat lagu, saya sudah masukin sejuta lagu ke dalamnya *which emang tadinya mau saya lengkapi dengan CD berisi lagu-lagu selama seminggu itu, tapi gak keburu ngerekamnya*. Saya memandangnya dengan cengiran selebar muka, dari kuping ke kuping. Dari kuping ke kuping! Biar kata berantakan, I heart it so much!

  

  

Pergilah saya ke Black Canyon setelah bergegas mandi dan sikat gigi *mandi gak termasuk sikat gigi ya?* Acara sudahlah pasti sudah dimulai. Capek sangat, tapi lega luar biasa, seperti sekarung beras baru aja terangkat dari pundak. Saya duduk, ambil secangkir teh, dan mulai membolak-balik album teman-teman scrappers lainnya *juih, teman? Saya ngaku-ngaku, hahaha…*.

 

 

Sebenernya udah mau semaput lagi ngeliat album-album mereka. Tapi saya udah ada di kondisi “bodo amat yang penting album gue kelar, biar gempa sekalipun, gak penting!” yang akut sekali, sehingga yang tersisa hanya rasa santai nyaris trance seperti kalo abis direfleksi dua jam.


 
 

Album teman-teman lain, alamaaaaak.. canggih-canggih kali! Jawdropping lah. Way beyond my league. Way waaaay beyond my league. Di satu album saya bisa berlama-lama memandang, menyentuh, membaca, mengira-ngira dan membayangkan proses pembuatannya, menikmati, mengagumi, menghargai setiap kerja keras dan cinta yang dituangkan dalam detil-detil yang gak pernah terpikir sebelumnya. Sambil saya teringat album saya yang berantakan, digarap dengan teknik sudra dan skill pas-pasan. Tapi kelar!! Ha!


 
 

 

...Jangan ngolok-ngolok
saya donk,

saya lagi 
fragile nih...
Jadi ketika dimulai voting untuk memilih dua album favorit, lalu saya dengar nama saya disebut, alis kanan saya naik. Hueh? Kok ada yang milih? Ooh, mungkin satu orang lagi khilaf. Tapi kemudian nama saya disebut lagi. Alis kiri sekarang yang naik. What? Becanda? Jangan ngolok-ngolok saya donk, saya lagi fragile nih *jiahhh, kerdus kali fragile*. Tepat di kali ketiga nama saya disebut lagi, satu personality terpisah. Mulai sinting. Di penyebutan nama berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya lagi hingga genap tujuh suara, personality saya sudah pecah lima. Ada satu alter ego anak kecil umur 4 tahun dan satu nenek 77 tahun.


  

 

 

Saya gak ngerti kenapa bisa kepilih. Gak ngerti. Gak ngerti. Bahkan hingga detik ini. Just so you know, album milik Lia Sutra dengan perolehan delapan suara gak hanya artistik dan indah dan rapih dan bagus dan cakeb banget, tapi juga digarap dengan teknik tinggi dan menggunakan berbagai macam medium layaknya seniman professional. Jadi bisa dimengerti toh kalo saya masih mungkin akan split lagi sampai 17 alter ego?


 

 

 

Ketika masih ngatur napas, nyari selang oksigen, sambil berusaha tetap tampil waras di depan banyak orang, Ria mengumumkan lagi pemenang giveaway Our Journey-nya. Ya betul, saya lagi. Untuk menjelaskan kenapa akhirnya saya betul-betul pecah sampai 17 alter ego, read this desperate comment on her blog that described how bad I wanted the kit. I wanted the kit so bad. No one wanted it as bad as I did. So well, yeah, I officially split into ultimate 17 personalities.


  

 

 

Back to the album. Tentang seminggu yang tak akan pernah kembali lagi itu. Making this album turned out to be more spiritual than I thought it would be. I learnt so much, I contemplated so much. It took a lot from me, it gave a lot more to me.


 

 

...because
I kept
changing

things. You know I'm a slave for
"what-if"...
Total pengerjaan memang hanya sekitar 5-6 hari, dikerjakan dalam kurun waktu dua minggu sebelum tenggat, dan selesai tepat pada tenggat *endingnya dramatis sekali, at 10 am on the D-day!*. Walaupun dikerjakan dalam waktu relatif singkat, saya masih merasa 6 hari itu terlalu lama. Harusnya bisa lebih cepat lagi, if only saya udah tau mau ngapain sebelum ngejembreng itu foto-foto dan kertas-kertas di atas kasur.

I should’ve known what to do, how to do it, what, where, when, 5W1H1G *G-nya gila* sebelum turun gunung. I realized yang bikin lama ngerjainnya adalah because I kept changing things. You know I'm a slave for what-ifs. Everytime another "what if" popped up in my mind, I went changing things here and there. Ini juga penyebab album itu berantakan pengerjaannya, karena saya keletekin terus! Udah paten di sini, "what if itu di situ aja?," lalu keletek. Yang udah ditempel mantep keras di pojok sana, "what if kalo di sana aja?" lalu keletek lagi. Jadi bayangkan sendiri itu kertas dan foto-foto full of lekuk-lekuk nan tak sedap dipandang mata apalagi diraba. *heran kan bisa ada yang milih?* Saya jadi mikir, does this what-if exploration reflect how I live my life? Halaaaaah, jadi dalem.. No judgement, please? :D :D :D


 

  

So, here is a tiny wisdom from me. You can explore as wild as you want, or can, but always mind the limit: time, sources, energy. Don't get carried away. Because you can never be satisfied enough. Work from your current situation. Work with what you have at the present. Nah, dalem kan? *pan gue udah bilang.. spiritual cuuy..*


 

  

  

Dari semua hal that I experienced and learnt from this project, ada tiga hal yang mengisi catatan saya dengan tinta ungu *loh kenapa ungu* * kenapa gak biru* *atau kuning keju*.

One. Scrapping punya andil besar menyelamatkan bumi dari sampah. Soale itu segala bon, tag baju, karcis tol, bungkus gula, slip ATM, struk belanja, brosur, yang harusnya jadi sampah menjulang tinggi sampai monas, semua disulap jadi sampah indah nan artistik. Cenggih tak? Gak perlu mesin daur ulang mahal-mahal, scrap aja :)


  

  

"Exhibit A,
your honor:
scrapbook." 

And justice will be served
beyond reasonable doubts...
Two. Scrappers adalah sahabat para CSI officer. Karena semua bukti-bukti mentah terdokumentasi dengan sangat baik dan acid-free! Lengkap dengan robekan, sidik jari, bekas tumpah, DNA, semua hal yang akan membuat para petugas forensik makan gaji buta. Don Flack dan Mac Taylor bisa liburan ke Karibia sebulan penuh, Sara Sidle dan John Grissam bisa ngabur ke hutan Amazon seminggu tiga kali. Semua bukti udah jadi satu paket, tinggal di bawa ke pengadilan. I dream that someday I will see seorang petugas pengadilan bilang, “Exhibit A, your honor: scrapbook.” And justice will be served beyond reasonable doubts.


 

 

Three. And this is the ultimate one.
Betapa saya sangat ingin merekam setiap detail hari demi hari. Gak hanya cerita, tapi more to the feel and experience for real. I want anyone who sees the album can also menjalani, mengalami, membaui wangi udara, merasakan setiap lonjakan hati dan perosotan jiwa. Saya ingin semua hal bisa saya capture, saya tulis, saya abadikan. But you see, I couldn’t. Karena ternyata, momen paling indah adalah ketika saya tak sanggup mengangkat kamera untuk menangkapnya. Rasa paling menggetarkan adalah ketika saya tak punya kata-kata untuk menggambarkannya. Sehingga ketika kita melihat album masing-masing dan mengatakan, “Betapa indahnya!”, that means our real life is million times better. And that's the truth.


  

  

 

  

Mata saya membasah menyadari hal itu. Menikmati rasa syukur yang tumpah ruah meluberi sekujur molekul tubuh saya. Karena foto, cerita, prosa indah hari ini, tak akan sanggup mewakili seujung kuku keindahan yang tercurah sepanjang hari. Ya Sang Maha Tinggi, saya memiliki segalanya. Segalanya.


 

*Cerita ini berhenti di sini. Selanjutnya, selamat melihat-lihat foto-foto album saya, yang sudahlah pasti tidak seberantakan aslinya. Let me know if you are crazy enough wanting to see the live show. We can have an afternoon tea and talk about how this wacky world is round and therefore we never know if we're right side up or upside down. I'll bring the album.*


    

  

one week
when time
stood still
- opening page -


 

 

  

I am inviting you to my world.
'Coz I love you.
And my love is abundant.
- opening page -



 

 

  

this is for the day that 
started with the same ritual
: a slice of lemon
squeezed into a glass of water
- day 2 -


 

  

  

sebuah hari yang tidak selesai
dituangkan dalam kata-kata
dan aku belum lagi
bercerita tentangmu
- end of day 2-


 

  

The Cranberries menemani membelah malam
bau tanah sehabis hujan
malam pekat tanpa bintang
suaramu tertinggal di ujung ingatan
berdering berulang
seperti kutukan
- day 3 -


  

  

 

closing the day with a long talk
with a dear old friend
will we still be talking this long
to each other
when we got older?
- day 4 -


  

  

pulang naik kereta
seperti biasa berkhayal
sedang naik Trans Europe
menuju Wina
- day 5 -


  



the road was empty
i was cruisin' like
bocah kecil main sepeda lepas tangan
di jalanan menurun curam
- day 6 -



*other mumblings are exclusively available in the album. ask me nicely, we'll talk :)
...

19 comments:

  1. jujur...gw termasuk satu dari tujuh itu...heheheeh...jadi Nana tinggal tebak2 buah manggis lagi deh yang 6 lagi tuh siapa...ahahahaha...
    kenapa gw milih? soalnyaaa....pada dasarnya bukan karena teknik kok suatu album jadi indah...tapiiiii...karena foto2 yang ada di dalam albumnya Nana yang banyak bercerita..n menurut gw untuk orang yang "baru" di scrapbook, teknik elo udah lebih kok dari lumayan, daaaan..fotonya itu looooh ...keren abis...
    semoga semua week in the life berikutnya Nana ada dan adaaaaa terus yah...keep up your good work... :)

    ReplyDelete
  2. Jadi main jujur2an nih ceritanya?
    siapa takut......huahahhahaha.....
    Ada yang ngacungin tangan di balik macbook yang putih dan pagi yang basah ini, jadi tinggal Nana kira2 yang 5 orang lagi.........*AHA moments pasti.

    Setuju dengan isur.....*kok main gampang aja ya, setuju2 aja. (maap, Sur....muah muaaaah)
    Karena ini project personal......tidak pake keharusan teknik dan detail2 ilmu scrapbook memberatkan yang ngga perlu, hasil yang keluar pasti dari hati banget (kalo selesai.....nah, untung khan, albummu selesai......eh, masih ada lho yang album week in the life tahun lalunya ngga selesai juga..., no question ask)

    Jadi keliatan banget khan, yang hatinya 'ruame' sama hatinya sepi.....hahahahahaha.......you know what I mean.......

    Jadi......kesimpulannnnn........ *lho, comment kok pake kesimpulan?
    Siapa bilang yang bisa nulis comment sepanjang cerpen cuma di situ doang.....ciaaaah......*ngga terima.
    One : Album ini saya pilih karena berhasil menangkap CERITA satu minggu yang tidak akan terulang kembali. TERLALU berhasil merangkum semuanya (meskipun tanpa CD).
    Two : Ternyata ada yang menemani ketabahan saya dalam mengupload foto2 sebanyak ini ke dalam satu post - yang tujuannya pasti sama juga, membagikan inspirasi untuk orang lain, syukur2 kalo diterima. Paling apes dibilang sombong dan sok pamer.
    Three : Karena pembuat album ini bisa split personality 17 kali, barangkali nyawanya juga melebihi kucing yang cuma 9, jadi bisa dipastikan orangnya bisa salto di udara dan selalu mendarat dengan selamat, tahan ditempa tantangan berat (karena dengan enaknya dia bisa membagi beban dengan rata ke 16 orang temen2nya), ngga pernah kesepian di dalam hati (perlu dibahas lagi yang 16 orang temennya itu bisa dipanggil kapan aja buat nemenin dia nyanyi?),
    dan tentu saja, cerita 17 orang itu akan lebih PADAT BERISI (meskipun penampilan luar fisiknya masih seperti anak SMA dan bikin sirik ibu beranak dua), daripada kalau di dalamnya cuma ada 1 orang saja.

    Jadi, bersyukur.............
    Punya album yang jadi dan ruame dan berhasil.
    Punya 16 orang temen di dalem.
    Punya lebih banyak lagi temen di luar (Me!Me!)
    Punya hati yang indah.
    Punya hidup yang ajaib.
    Punya segalanya.

    ReplyDelete
  3. (sttttt....I'm the one who has wrote ur name on that tiny paper...ngakuuuu!)
    Dari sebelum masuk kedunia per-scrapbook-an, aku udah tahu, kamu udah lulus ujian2 sebelumnya: 1. jadi narator yang ciamik (yang nggak takut ditangkap kamtip..LHO?)..ya, bahasamu enak, n ga ada beban..2. jadi potograper wokeh..(huhuhu..ajarin dong!..U promise me!)3. ya itu tadi yang udah diaku sendiri punya temen2 lain (..aku suka bgt buku Sybil itu..)soooo..dgn masuknya scrapbook in ur life itu memang klimaks dari 3 poin td..
    I told U..you are an awesome..and I'm happy that I'm one of ur friend..(don't say that i'm too kind..!xixixi)

    ReplyDelete
  4. huahhhh...pengen lihat ..pengen lihat!!!!
    eh situ , enak bener ye dapet give away nya, bagi dikit dong ke ane...
    hihihihihihi

    ReplyDelete
  5. Ah, kalian orang2 ajaib. Walaupun posting ini jauh dari melow, kok mata gw basah. Rianaaaaaa, tanggung jawab!

    ReplyDelete
  6. pengen liaaaaaaaaaaaaaaaaaat...ayo bu cit...mari kita atur jadwal ngeteh sambil ngarsiknyah...

    ReplyDelete
  7. Hi, salam kenal...
    Dapet blog ini dari seorang teman, katanya mungkin aku suka, soalnya aku juga scrapper, meski sekarang dah pindah ke digital. Baca posting ini, aku cuman punya satu comment, WOW. Warna2 yg dipakai sangat artistik dan terkesan dramatis. Foto-fotonya top dan journalnya...'Karena ternyata, momen paling indah adalah ketika saya tak sanggup mengangkat kamera untuk menangkapnya...' Oh, how true..

    ReplyDelete
  8. ya ampun, ya ampun, ya ampuuuun.. betapa beruntungnya aku punya teman-teman kalian semua.. *hug*

    @ Ria: huaahahaha.. tabah is the right word! i am sooo relieved to know that i'm not alone myself :) phewh..
    Kayaknya perlu bikin dibikin game menghitung jumlah foto yang ada di post ini, hihihi..

    @ mbak Ami: maksudnya "kamtib"? hiahahaha...

    @ Citra & Ina: loh, ngarsik? pake nasi kecombrang ya?

    @ Shirley: my angel friend.. *hug* .. hatimu selembut salju. salju beneran, bukan salju dari royal icing..

    @ FunkyMami: salam kenal juga *hug*
    udah berkunjung ke blognya, really nice..! Thank you for coming by, jangan kapok yaaaa... Kok pas ya, semalem aku baru pake kaos Bayern Munchen, hari ini dikunjungi seseorang yang tinggal di Bayern :)

    ReplyDelete
  9. O eM Ge..(baca: Oh My God...)...makin tenggelam aku dalam kecemburuan..betapa banyak di sekelilingku orang-orang yang ajaib..yang bisa mengekspresikan diri dengan indah...kepengen..sumpah!!..kendalaku satu: minderrr :-)

    ReplyDelete
  10. @ Dina: tapi yang sanggup bikin kue tag heuer tanpa edible print hanyalah dirimu..!

    @ mastermind: eh siapa nih, kayak kenal deh :)

    ReplyDelete
  11. Riiiii..asik asikk ada nama gw disitu wkwkwkwkwk :P..kerennn buuu *jempoll 1000*!!...jadi pengen bikin juga..hihihi buat temen gw :D, tinggal nyari toko scrapbook nih ... terutama buat nge binder nya, beli dimana Ri ?

    ReplyDelete
  12. @ Elsye: bindernya sekarang udah gue ganti tali kulit, Sye. Kalo mau ring besi kayak gitu, ada di toko buku, atau toko scrapbook. Toko scrapbook ada di Citos, Kemang, Sency, FX, Penville. Tinggal keliling aja deh :)

    ReplyDelete
  13. salam kenal...

    just want to say hi and i adore you mbak... :-)

    ReplyDelete
  14. @ tesza: hi Tesza, salam kenal juga. Thank you, but you shouldn't adore me, I don't save the whole mankind or rescue people from fire or sit with the greenpeace for a better earth policy. I would do that though, hahaha...

    ReplyDelete
  15. wah .. ini keren bangeeeetttt .. beneraaan ..

    aha .. kreatif banget sih .. Scrapbooks .. 5 harian ya? .. hihihi .. foto-fotonya keren-keren .. weee, jadi inget suka ke toko scrapmania di kemang ... hehehehe ... :D

    10 jempol nih hasta karyanya ... :D

    ReplyDelete
  16. Ini 7 hari, mas Helmi. Huah, suka ke scrapmania juga? kok gak ketemu? hihihi...

    ReplyDelete
  17. iiiih!! Ngiriii, pingin bisa juga!! Tapi sadar dirilah, 'prakarya' has never been my thing. Wah, Mbak Riana rendahin diri ninggin mutu nih kayaknya. Hehehe... I'm sure the real thing is awesome. Yes, I'm one of the crazy person that would like to see (and feel) the scrapbook.

    Geez! You make me wanna scrap!

    ReplyDelete
  18. krisna.dewanti@gmail.comSunday, April 10, 2011 2:57:00 PM

    Heloo....salam kenal Mbak..
    memang cantik banget karyanya..
    sepuluh jempol klu bisa :)

    saya senang banget lihat scrapbook tp ga yakin bisa bikin, karena ga sabaran banget...hiks..
    Saya mampir kesini karena lagi cari teman yang bisa ngajar bikin scrapbook buat anak-anak+ibu2 dsekolah anak saya.
    Bisa tolong bantu rekomendasi? mauuu dong tolong..

    ReplyDelete

Related Posts with Thumbnails