Monday, August 25, 2008

Kembali ke Desa

Ah, kembali lagi ke Mekarjaya, Kuningan. Wajah-wajah familiar, mudah-mudahan masih menyimpan semangat dan harapan yang sama berkobarnya seperti tahun lalu.

Hard at Work 1 Hard at Work 2

Hard at Work 3 Hard at Work 4

Sedih, kalo inget tahun ini adalah tahun terakhir program di Mekarjaya. Abis ini, siapa yang membina mereka? Siapa yang memotivasi? Mereka akan bisa mandiri gak setelah dilepas? Duh.. kok jadi kepikiran sih..

Home Work Time!

Pemandangan paling menarik buat saya, ya si adik kecil ini. Bikin pe-er di kolong meja, selagi ibunya kerja bikin kue dan nungguin oven. Subhanallah.
Sekolah yang rajin ya, dik. Bikin bangga ibumu.

Lumpang

Nginepnya di Cirebon Plaza lagi. Oh, how I love this humble hotel. It's cozy, it's pretty, and it provides hotspot :)

Setting tabletop cuantik-cuantik ini letaknya di taman kecil berkolam kemricik yang berada persis di depan kamar saya dan Nadrah. Lengkap dengan sofa rotan super nyaman, halaaah.. udah gak pingin ke mana-mana lagi. Kalo gak kudu kerja sih udah ngejeblak aja di situ sampe sore..

Pretty Table

Salah satu yang bikin saya terkuplai-kuplai sama hotel kecil nan bersahaja ini adalah, mereka majang foto-foto binatang lucu-lucu dengan shot-shot yang keren di mana-mana. Close up macan loreng putih yang lagi bercumbu sama anaknya, kupu-kupu, capung, dan hewan indah lagi lucu-lucu lainya. Shotnya sophisticated, super macro, .. Duh, makanan jiwa banget.

Pretty Trio

Foto-foto tabletop ini udah dari taun kemarin ngejepretnya. Waktu kemarin ke sana lagi, gak sempet motret-motret, padahal settingnya udah berubah lagi tuh. Tapi lumpang ini kayaknya masih tetep ada.

Balai Desa 1
Barengan crew Bank Indonesia

Morning!
Pagi, abis sarapan, just about to leave for Mekarjaya


Related post:

Membangun Desa

Saturday, August 16, 2008

A Night To Remember

A Night To Remember

Langit Jakarta,
obrolan yang lama tertunda
Cerita-cerita yang baru terungkap,
penjelasan demi penjelasan
yang tidak (terlalu) penting lagi
Jarak dan waktu, oh begitu menipu!
Kamu, teman-temanku,
sesungguhnya tak pernah beranjak pergi
Dan jangan pernah pergi lagi ya?

Old Friends
Mita, Rere, Riana -- after 2 decades
Comedy Cafe Pasar Festival, 21 July 2008
(Re, settingan jam di kamera elo ternyata masih WITeng!)

And we were so young
one for all and all for one
just as sure as the river's gonna run..

..through the years and miles between us
it's been a long and lonely ride
but if I got that call in the dead of night
I'd be right by your side!


:: Blood on Blood -- Bon Jovi ::

Wednesday, August 13, 2008

Yummy Desktop

food desktop

  • Empat hari di Matraman, training lagi, freshen up yang dulu dipelajarin di kurikulum lama. To my surprise, not all the magic's gone. I still have my touch, alright. I thought I lost it all. Alhamdulillah. *in fact, my roses are getting so much better. Kalo Ruri tauk, dia pasti membelalak terheran-heran. "Elo, Ri???"

    Rur, kita ngrasani kamu terus sepanjang diklat. Betapa kamu dan aku adalah duo ngeyel paling kompak dalam hal membangkangi semua instruksi Mbak Fat. Gak kayak Eka dan Uni Dewi yang manis dan patuh. Gak heran mereka berdua jauh melangit dalam urusan dekor dibanding kita berdua ya? Iyalah. Terus alasan kita apa waktu itu, Rur? Ah iya, "kalo gue sama Riana kan style ngedekornya sederhana, kalo Dewi kan extravaganza..". Paling kompak juga urusan ngeles!!


    Kamu tahu, Rur, waktu diklat kemarin Mbak Fat bilang apa? "Kalo nanti kamu dapet murid ngeyel, maka aku gak akan heran..."

    Halah, mbaaaaak, jangan gitu dwooonk! Daku ini kan orangnya kualatan! Yah.. gak ada kamu, Rur. Gak ada temen ngeles tuh aku tadi.*
  • Bros. Yaelah. Gak penting. Cowok gak usah baca point ini, wasting time.
    Jadi gini. Sebagai cewek kudungan, bros cukup vital. Secara dia menyelamatkan banyak situasi di mana batas antara emak-emak berantakan belom mandi pergi ke pasar dan wanita anggun beraroma enak menghablur dan menghadirkan dilema tak terperi. Praktis tapi jelek? Atau repot tapi cantik? Nah, si bros ini adalah dewa penyelamat. Menyekopi habluran batas itu ke satu sisi, menyulap si emak-emak slordig menjadi wanita anggun yang --kalo kaya Bu Rukayah *guru PKK saya waktu SMP*-- well groomed.

    Tapi entah mengapa, aku tak berdaya *loh, kok lagu Iwan Fals*. Maksudnya, entah mengapa, tiap kali nemu bros ca'em di toko, selalu either bobotnya cukup berat yang malah ngegandulin baju dan narik-narik kerudung, atau enteng tapi gak kokoh strukturnya sehingga sering copot dan jatuh di depan kaki saya. Kayak yang terjadi hari ini dengan si gajah Thailand.

    Si gajah adalah bros pemberian kakak ipar saya yang sangat amat baiklah hatinya, selalu memberi sanak saudara dengan hadiah-hadiah kecil cantik-cantik, jadi kejutan amat manis di zaman di mana trend bunuh diri meningkat drastis serupa harga BBM. Hari ini, si gajah Thailand jatuh beberapa kali. Copot begitu saja dari tangkringannya di dada saya. Berulangkali pula saya kembalikan lagi di ke singgasana tingginya. Namun ketika dia jatuh lagi untuk kesekian kali, di depan kedua kaki ketika saya melangkah menjauhi pintu busway yang menutup di belakang, lalu ia ketinggalan di belakang karena saya terus melangkah lantaran belum sadar dia rontok, saya memutuskan tidak mendukung dia lagi untuk tetap naik tahta. Sambil bersyukur dia tidak terinjak ribok buatan Tangerang di kaki, dia harus puas saya sematkan di resleting tas biru cangklong, hingga nanti di rumah saya kembalikan ke dalam toolbox hitam yang beralih fungsi jadi kotak perhiasan.

    Lalu saya miris. Melangkah menjauhi halte sambil melamuni betapa bros-bros mutiara air tawar yang saya beli dua tahun lalu di Lombok harus menggeletak percuma karena besi penitinya copot semua. *sis, udah pada dibenerin belom bros-bros gue ke tukang perhiasan?* Padahal, mereka favorit saya. Hiks *kecegukan*.
  • Kiriman dari bukulaela sampe ke meja dapur. "La Femme" seketika ngendon di dalam tas. Kemanapun daku pergi. Ke jurusan manapun busway mengangkut. Masih sering bingung dan gak familiar dengan gaya ingsun-ingsunnya. Tapi jadi jeda menggairahkan di sela-sela buku kuliner dan Harry Potter.
  • Poni udah sepanjang jalan kenangan. Kudu dipotong buru-buru sebelum juling.
  • PoF salah tulis judul postingan terbarunya. Kopi-peisnya kelebihan. Haha. Jadi gak serius tuh postingannya.
  • Account Flickr nyampe limit. Harus upgrade ke pro kalo mau nyambung layanan. Hm. Flat broke. No credit card. Pending situation.

Wallpaper by Wallpaperpimper.com

Wednesday, August 06, 2008

Terlalu Sedih


Biar teman-teman lain saja yang menulis tentang kepergianmu ya, Rur. Karena nanti-nanti, aku akan mengenangkan kamu dengan ceria dan penuh canda, sama seperti kamu menjalani hidup. Aku tidak mau menulis tentang kamu dengan bersedih-sedih. Sudah cukup waktu itu aja *kalo kamu tau aku nulis itu, pasti kamu ngomel-ngomel. "Apa-apaan sih, Ri???"*

Tadi aku tertunduk lemas waktu tanah mulai menimbunimu, lalu aku pegang nisanmu. Seperti tidak percaya namamu yang tertulis di situ. Tapi aku ikhlas, Rur, insya Allah. Sebentar lagi juga namaku ada di papan yang sama. Dan nama kita semua kan?

Di obituari Inong yang kutulis dulu, aku pernah bilang kan, bahwa orang baik selalu dipanggil lebih dahulu. Selalu dikasih cobaan yang berat-berat. Itu kamu, Rur. Waktu kamu bilang, "Ini bukan cobaan, ini hadiah." Ya, betul, itu kamu, Rur! Kamu orang baik yang cepat dipanggil pergi, meninggalkan kami yang masih berjuang membenahi tabungan akhirat kami yang masih saja defisit.

Oh, aku cuma boleh sedih sampe tiga hari saja bukan? Aku janji deh, besok-besok nulis tentang kamu pasti ceria dan penuh canda. Persis seperti kamu!

Moekti Ichtiarini
11 September 1970 - 5 Agustus 2008

Ruri's Blogs & Photos:
Related posts:

Photo by Magira

Friday, August 01, 2008

Big Glamorous Day


Big glamourous day today! Me and myself, cleaning the bathroom! And, and.... folding the clothes!

Sejak si Agus pergi dan tak kembali, karena dimodali mertuanya untuk jadi wirausahawan di kampungnya aliyas berdagang, aktivitas glamor ini berpindah pundak ke saya. Saya gak pernah punya asisten yang dedicated untuk saya seorang, dan saya juga bukan jenis perempuan resik **poor my husband** yang rumahnya selalu senantiasa always bersih seperti beberapa orang teman saya **to whom saya iri sangat**. Karenanya, membuat kehidupan berjalan lancar tanpa asisten, sembari tetap menjaga fungsi-fungsi utama rumah tetap nyaman, adalah perjuangan tanpa akhir. Pengabdian tanpa pamrih. Dan cinta tak bersyarat paling romantis. Paling gak, dispenser Aqua jangan pernah kosong, baju kotor, baju bersih, dan cucian piring jangan ada yang numpuk, sepre dan bantal selalu bersih, tempat tidur selalu rapi, supply toiletries gak pernah putus, teh, kopi, gula dan buah selalu tersedia. Segitu cukuplah. Sisanya, lupakan dulu kalo gak ada waktu. Sekarang, daftar itu nambah satu lagi: kamar mandi harus (baca: sebisa mungkin) selalu bersih. Dan wangi.

Sekarang ini, saya udah gak mau bersihin kamar mandi dan wese pake pembersih keramik yang bikin sekujur badan gatel-gatel itu. Pake karbol dan sabun lantai aja. Tapi memang sangat menggemaskan minta ditabok, karena banyak "gegelian" yang cuma bisa ilang pake si gatel satu itu. Jadi terpaksa si gatel keluar juga, untuk menghardik hitam-hitam yang gak mau ilang. Tapi lumayanlah, karena terlokalisasi, gatelnya cuma mampir dikit di tangan. **males pake sarung tangan karet. bikin gerah.**

Ngapain sih saya nulis tentang bersihin kamar mandi yang sama sekali gak menarik ini? Hahaha. Sebab inilah potret ibu rumah tangga tanpa asisten yang selalu sok sibuk dan banyak maunya. Keputusan yang dibuat sehari-hari adalah seputar: bersihin kamar mandi, apa meeting urusan NCC? Cuci piring dulu sebelum meeting sama klien, apa nanti aja pulangnya? Belanja groseri sekarang, apa buka laptop dulu? Kalah deh SBY.

Sesudah fancy cleaning, saya sudah ditunggu setumpuk baju yang *alhamduillah* sudah dicuci, tapi belum di setrika, apalagi dilipat. Semua ditumpuk jadi satu seperti gunung Fujiyama. "Climb me, if you dare!" I dare!

Ibu mertua saya, selalu menjemur baju di gantungan-gantungan baju, bukan disampirkan begitu saja di jemuran. Sehingga ketika baju-baju itu kering, sebagian besar tidak perlu disetrika lagi. Sudah lurus rapi berbentuk baju. Ini meminimalkan pekerjaan menyetrika saya. In fact, saya nyaris gak pernah menyetrika. Hanya folding alias melipat baju dan menyimpannya di lemari.

Nah, urusan menyimpan ini juga jadi satu ilmu manajemen sendiri. Beruntung lemari baju saya cukupan lah luasnya, sehingga saya bisa membagi-bagi baju ke dalam beberapa tumpukan sesuai kategori: bawahan, atasan, tank top dan baju rumah, pakaian dalam, kerudung segi empat, ciput dan kerudung instan. Baju suami saya tentu jauh lebih sederhana: bawahan, atasan, pakaian dalam. Di rak paling atas: seprai dan kawan-kawannya, selimut, handuk, sajadah, sarung, baju-baju yang jarang dipakai tapi masih pingin disimpen, dan.. piring. Hahaha, kok ada piring? Soalnya lemari dapur saya sudah penuh-nuh **sebab dapur saya pun super mini!!**. Dan suatu hari ibu mertua saya menghadiahi saya satu set piring cantik. Mau ditolak, gak mungkin. Ya udah, simpen bareng seprei :)

Jadi begitulah, hari glamor saya hari ini. Pagi-pagi, setel musik kenceng-kenceng sampe kedengeran ke kamar mandi **Dave Matthews Band, Matchbox 20, The Cranberries, Jewel, God knows what else**, jongkok hanya dengan tank top dan celana pendek, keluarin sikat dan sabun-sabunan, lalu mulai gosok sana, gosok sini, seiring hentakan lagu.

It won't the first heart that you break,
it won't be the last beautiful girl..

Sexy kan?

Sudah
itu lanjut langsung mandi a la spa. Berhubung kamar mandi udah bersih dan wangi, pake pengharum organik wangi cherry yang cuma dijual di Alfa deket Rumah Sakit Siaga **by the way, para produsen pembersih lantai, mbok yao, ada pembersih lantai yang aroma cherry gitu**, mandinya pake liquid body lufra keluaran Nu Skin yang mewah itu, hadiah ulang tahun dari sahabatku Emita Asril yang baik hati lagi pula pintar **Mit, dah abis neeeh. Repil dunk, repil...*

The glamorous day continues..
Sudah mandi, semprot parfum, pake turtle neck dan jeans, dandan cantik dan pake anting kiwir-kiwir **baru beli kemarin di Naughty**. Ke dapur sebentar bikin jus mangga-jeruk **udah musim mangga! what a bless!**, sarapan pagiku. Lalu matiin musik, pasang a-se, pasang tivi di Asian Food Channel. Mulailah mendaki si gunung Fujiyama. Fold, fold, categorize. Fold, fold, categorize. Sembari channel tivi pindah ke Hallmark karena ada Oprah Winfrey Show, abis itu ke Starworld karena ada Ellen De Generes Show. Selesai semua!

Masih ada banyak baju yang nunggu di belakang sana buat digotong lagi dan menjalani proses yang sama. Tapi itu nanti aja dipikirinnya. Besok lagi. Sebab sekarang perut dah dangdutan. Karedok betabur bawang goreng, ayam kremes dan kerupuk kampung menanti di meja makan buat menutup siang menjelang sore yang gemerlapan ini.

What a glam!

Photo by Andrzej Gdula
Related Posts with Thumbnails