Thursday, April 24, 2008

Eliza, Me, and David Cook


:: Music Of The Night from Phantom Of The Opera :: Andrew Lloyd Weber ::


He's my man too, Liz :)


:: Eleanor Rigby :: Lennon & Mc Cartney ::



:: Billy Jean, Chris Cornell's version :: Michael Jackson ::



:: Always Be My Baby :: Mariah Carey ::

A Touch Of Spice


"Pepper... is hot and scorches, just like the sun.
Salt... is used as needed to spice up one's life.
Cinnamon... is bitter and sweet, just like a woman."
Oh, what a wonderful movie!

I blessed the day I found this Greek movie. Not only for my sole purpose of paying the most respect to the profession of gastronome, but in this case, it goes a long way to respecting life, dedication, art, culture, passion, love, faith, fun, sadness, pain, happiness, enjoyment of all things human beings are blessed with. Spices are all we need. Just a touch of them.

Very very artistic pictures, beautiful music, witty screenwriting, tingling lines. Just the perfect blend.

"Don't look back, Saime. At the platform we looked back, the image remains as a promise.."
Me, sobbing painfully. Absorbing all the experience to the point where the blow of tears was inevitably destined to be. Don't look back. The image remains as a promise.

----------
Note:
Funny that I happened to be a great fan of Greek cuisine. Oh, how I miss Kafe Acropolis I used to visit often at Mal Ambasador!

Take me to a Greek resto, I will forever be your slave.

By the by, if you chew nothing else other than English speaking movie, you'll probably throw up on this. For me, it's simply a refreshment from the Hollywood junk.

Sunday, April 20, 2008

Aku Mau!

...

Ok, ok.. jangan pada muntah dulu.

Kemarin sore menjelang malam, lagi ada di sebuah pasar swalayan, ketika lagu ini mulai mengganggu gendang telinga dan mengawali misinya merusak pendengaran. Beberapa jenak berlalu, tepatnya 1 menit 14 detik kemudian, saya dengar refrainnya mencoloki daun telinga.

Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Selalu bersedia bahagiakanmu
Apapun terjadi
Kujanjikan aku ada

Dari mana asal suara nyanyian? Speaker? Bukan. Bukan dari speaker. Tapi dari mulut saya.

Gubraaakkkkk!!!

Di tengah pasar swalayan yang ramai itu, saya mulai tertawa keras-keras.

Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmu
Aku yang rela terluka
Untuk masa lalu

Tawa saya makin keras.
...

Tuesday, April 15, 2008

Kanon



:: Johann Pachelbel - Canon in D Major ::

Saya jadi ingat Sandhi, gara-gara kemarin malam tanpa sengaja menyebut Canon in D-nya Pachelbel. Tepatnya, ingat masa-masa di PSMUT, waktu saya sering menginap di rumahnya.

Ketika itu, sering sekali saya terbangun menjelang subuh, lalu mendapati dia sedang duduk memandang malam, di pintu kamar yang membuka ke arah teras sempit, menghadap Jalan Surabaya. Sinar lampu teras kekuningan jatuh di ubun-ubunnya. Lalu saya akan bergabung. Saya dan dia akan bercakap-cakap hingga subuh datang. Tentang ini dan itu. Pembicaraan paling jujur, di waktu paling jujur manusia.

Relevansinya dengan Canon in D dan Pachelbel adalah karena selalu lagu itu yang membuat saya terbangun. Sandhi selalu menyetelnya keras-keras menjelang subuh. Nampaknya bukan frekuensi yang menyebabkan saya terjaga. Sebab saya selalu terbangun di saat yang sama, hanya-dan-hanya ketika violin mulai berkanon. Bagian itu, tau kan?

"Lucu ya, kenapa elo selalu bangun ketika masuk bagian ini?" Sandhi biasa berkomentar seperti ini, dengan matanya yang sudah semakin sipit karena sejak malam tadi belum juga berangkat tidur.

Sekarang, kamar besar nan nyaman menghadap teras itu sudah tidak ada lagi. Rumah besar peninggalan zaman Belanda yang kerap jadi tempat saya dan Sandhi mempertanyakan banyak hal. Ah, lebih banyak dia yang mempertanyakan, saya bagian menimpali dan membelokkannya menjadi guyonan, terutama ketika kita berdua semakin terbenam dalam analisa rumit yang bikin suntuk.

Gambar itu tak hilang dari benak saya. Saya dan Sandhi, pintu kamar ke arah teras, menghadap Jalan Surabaya. Cahaya lampu kekuningan. Langit masih gelap menjelang subuh. Beberapa jangkrik masih mengerik. Udara dingin, harum rerumputan menerobos ke dalam kamar. Pembicaraan paling jujur, di waktu paling jujur manusia. Dan Pachelbel di belakang, dengan violin sahut menyahut. Sambung menyambung tak ada akhirnya. Kanon.
**Persis pertemanan kita kan, Sandh?**


:: Joe Satriani (accoustic) - Pachelbel's Canon in D ::


::Yngwie Malmsteen - Pachelbel's Canon in D ::

Sunday, April 06, 2008

Putih


Kerudung saya putih lagi hari ini. Kemarin terlalu berwarna-warni. Mengundang kerumitan. Memanggil keresahan. Tentu akan saya pakai lagi kerudung warna-warni. Tapi tidak setiap hari. Sekali-kali saja. Dan tidak lama-lama. Agar kerumitan tidak sempat mampir. Dan resah tidak sempat mendekat.

Alhamdulillah.

Wednesday, April 02, 2008

Cuma Dua


  • Ancur gak tuh. Desktopnya ACDC.


  • Ampun, mak! Jeleknya nih film!

    Udah tau sih, bakalan jelek. I mean, c'mon. It's Catherine Zeta Jones, what do you expect. Hanya karena mendedikasikan diri untuk nonton semua film bertema culinary art, demi penghormatan tertinggi untuk profesi gastronom, maka rela-relanya ngerusak mata dan jiwa dengan mantengin this ugly thing.

    I fell asleep the halfway through. No intention to finish it, whatsoever. Sorry, Catherine :(


  • Lucu.

    Kemarin-kemarin, ketika saya lagi feeling blue sangat, tanpa sadar saya lingkari kalender kerja dengan spidol warna abu-abu, coklat, coklat tua, ungu bluwek. Lalu penuhlah dia dengan warna-warna gelap, butek, kelabu.

    Besoknya, ketika hati saya mulai menari-nari lagi, spidol yang ikutan menari ternyata orens, ijo limelight, shocking pink, biru terang.

    Halah. Ada apa sih antara saya dan warna? Kenapa dia jadi buka rahasia gitu?
Related Posts with Thumbnails