...
Dulu, saya punya seorang teman. Eh, dia masih teman saya denk, hingga sekarang. Hanya saja kita kehilangan kontak sejak kurang lebih 6 tahun lalu. Jadi kalimat pembuka tadi lebih baik saya ubah sedikit.
Saya punya seorang teman, inisialnya S. Nanti kamu akan tahu kenapa saya menggunakan huruf depan saja, dan bukan nama lengkapnya. Untuk saat ini, biarlah begitu dulu.
Si "S" ini teman SMP saya. Secara umum, dia tidak beda dengan teman-teman lain. Yang membedakan pertemanan kami adalah bahwa kami suka saling mengirim atau bertukar "karya seni". Saya bingung mencari kata yang tepat untuk benda yang sering kami saling kirimkan ini. Kami membahasakannya begitu, karena tidak tahu bagaimana menyebut benda ini.
Karya seni yang saya maksudkan bukan lukisan, patung, atau benda lain yang sungguh-sungguh bernilai seni. Nilai seninya hanya berlaku buat kami berdua selaku pembuatnya. Benda ini adalah apapun yang kami buat sendiri sebagai bentuk ekspresi komunikasi antara saya dan dia. Bisa berupa macam-macam, di atas media macam-macam. Suatu hari saya mengirim laporan lengkap perkembangan musik pop dalam setahun, di atas kertas kalkir tanpa sambungan, bermeter-meter panjangnya. Saya tulis tangan menggunakan rapido, lengkap dengan ilustrasi warna warni sekehendak hati. Lain waktu, dia mengirimi saya sebuah buku berukuran setengah A4, terbuat dari kertas coklat roti yang dijilid dengan tali karung. Tiap halaman buku itu bertanda huruf dan angka, pinggirannya digunting seperti buku telepon, sehingga halamannya mudah dibolak-balik sesuai huruf atau angka yang tertera di pinggiran halaman. Di halaman pertama, ia menulis sebuah lirik lagu. Kemudian di akhir lirik lagu, tertulis:
Who's Crying Now by Randy Crawford --> Go to R
Maka saya akan membalik halaman yang bertanda R. Di halaman bertanda R ini, ia menggambar komik cerita tentang hari-hari kuliahnya. Ada potongan serbet kertas, dari restoran di mana ia dan teman-temannya sering "ngamen". Potongan serbet itu hanya menempel sedikit pada buku, sehingga kalau saya angkat sedikit potongan itu, akan tersibak tulisan di baliknya:
Kalo elo ke sini, gue traktir!
Kemudian ada perintah lagi untuk melanjutkan ke halaman lain lagi. Demikian seterusnya. Buku ini disertai dengan kaset, yang harus diputar mengiringi proses saya membaca buku. Karena urutan lagu-lagunya sudah direkam sesuai dengan urutan isi buku itu. Seperti soundtrack film mengiringi di belakang adegan saya membalik halaman. Ha ha ha.
Itu hanya dua contoh dari banyak karya yang kami saling kirimkan. Saya tidak ingat persis apa saja, saking banyaknya dan saking sudah lamanya. Ada pesan pendek berupa puzzle, yang harus disusun dulu dengan benar sebelum pesan bisa terbaca, poster buatan sendiri, kartu-kartu lebaran unik-unik. Dia memang paling jago bikin kartu lebaran yang super duper unik. Kartu buatan dia selalu keren, bercita rasa tinggi, sekaligus nyeleneh, gabungan
Picasso dan
Gondry yang menjelma dalam satu bentuk mini di tangan saya.
Ketika dia menikah, hanya beberapa bulan sebelum saya, kartu undangan yang sampai di tangan saya tidak istimewa. Saya telepon dia sambil tertawa terbahak-bahak.
"Yaaaaah, kok basi sih kartunya?" Waktu itu, istilah 'basi' sedang di puncak popularitas.
"Itu gara-gara bokap gue! Gue udah bikin desain artistik banget, halaaah,kena veto!" Mati-matian ia menjelaskan dan membela diri.
"Well, ok. Paling gak, elo gak dapet cewek basi kan? Sebasi kartu loe?" Dia bersekolah dan langsung bekerja di luar kota, sehingga saya tidak sempat mengenal pacar-pacarnya. "Yang bakalan cemburuan sama temen-temen perempuan loe?"
"Nggg....."
"Don't tell me you got one of them!"
"Nggg....."
"Hah, payah deh. Basi."
"Ternyata gue butuh juga yang basi-basi kayak gitu, tauk!" Suaranya keki sekali.
"Huahahaha...!" Saya tertawa seperti raksasa.
"Email elo apaan?" tanya saya kemudian.
"Nggg....."
"Buseeeet, email dipatroliin juga?"
"Nggg..., pokoknya jangan deh."
Itu percakapan terakhir saya dengannya. Sekarang sudah tahu kan, kenapa saya sebut dia dengan inisialnya? :)
Anyway, saya sebetulnya hanya ingin say hi kepada dia. Saya tidak tahu dia beredar atau tidak di internet, sepertinya tidak. Tapi barangkali saja dia baca, well, elo tau, elo yang gue maksud. Come say hi back to me. Just so I know you're still there. And still keep the music playing.
Untuk seorang teman entah
di mana dan tidak saya cari :)
...