Skip to main content

The So Called FC

...
Beberapa teman bertanya soal bagaimana saya bisa tetap menjalankan Food Combining (FC), secara saya doyan makan enak dan seneng bikin kue. Saya gak mau kedengeran sok tau, tapi jawabnya ternyata cukup sederhana: makanlah yang enak-enak itu, tapi secukupnya saja. Hehe.. klise! Tapi betul loh. Dan insya Allah gak menderita sama sekali kok. Kalau kita sudah memulai FC, perlahan-lahan kita gak terlalu menginginkan lagi makanan yang tinggi lemak dan gula (kecuali kalo lagi relapse! Haha!). Kita hanya akan menginginkan apa yang tubuh kita butuhkan.

Kebetulan saya pernah kerajinan, menulis tentang bagaimana pengalaman saya memulai FC secara super duper perlahan. Mungkin karena tidak ada perubahan ekstrim, maka dari awal memulai FC hingga sekarang (lebih kurang setahun), alhamdullillah saya tidak mengalami penderitaan yang berarti.

Sila di-donlod file di bawah ini. Mudah-mudahan bisa bermanfaat.

Memulai dengan Tenang, Mengubah dengan Mudah

Beberapa link yang mungkin berguna:

...

Comments

  1. tulisan elo bagus Ri. desserts itu tetap ada di hidup gue, tapi bukan sesuatu yg harus :) gimana, berenangnya masih lancar gak?

    ReplyDelete
  2. Thanks, Liz.
    Sama, gue juga :)
    Lagi bosen berenang, sekarang olahraganya yoga, hihihi... pake nungging-nungging :)

    ReplyDelete
  3. tulisan mbak Riana tentang FC aku simpen ya mbak. Semoga jadi amal jariyah buat mbak Riana. Aku dulu penganut FC trus sekarang kacau, pengen balik lagi kok berat. Makasih banyak atas ilmu dan pencerahannya.

    ReplyDelete
  4. uda donlot, makasiyyyy... manpaat banget! aku juga memulei sejak 2 minggu lalu, ngurangin gula & memamahbiak diatas jam 8malem. start hari minggu kemaren mulei ikut FC, alhamdulillah lancar, cuma satu aja sih godaannya; lauk gorengan! secara lauk gorengan used to be my cemilan wakakaka... tar kalu dua bulan jalanin FC dg smooth mo nulis juga ah...

    ReplyDelete
  5. Tengkiuh...artikelnya. Try to do it!

    ReplyDelete
  6. mbak, aku baru baca tulisan ini, tp sayang skrg kok aku gak bisa download ya, masih bisa dapet gak ya?

    ReplyDelete
  7. @ Yulis: bisa kok. Klik aja di link file di atas, lalu klik di "Click Here to Download blablabla.."

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?