
...bentuk egoisme
paling tinggi
adalah perang.
lawannya, pernikahan.
paling tinggi
adalah perang.
lawannya, pernikahan.
Mari bicara tentang hubungan dua manusia, di luar kerangka agama. Maksud saya, kalau dalam kerangka agama, saya amat sangat tidak kompeten menulisnya.
Beberapa waktu yang lalu, seorang sahabat lama menelpon saya. Ngobrol ngalor ngidul, akhirnya pembicaraan kami sampai ke soal pernikahan. Sebenarnya saya sih yang memulai, dengan menanyakan kabar suaminya.
Beberapa waktu yang lalu, seorang sahabat lama menelpon saya. Ngobrol ngalor ngidul, akhirnya pembicaraan kami sampai ke soal pernikahan. Sebenarnya saya sih yang memulai, dengan menanyakan kabar suaminya.
Satu hal yang saya suka dari teman saya yang satu ini, adalah teori-teorinya yang segudang. Teorinya mengenai ini itu merupakan hiburan buat saya. Membuat saya berpikir, tertawa geli, manggut-manggut, terbahak-bahak, sampai akhirnya mengantuk :) Tapi itulah yang selalu saya kangeni dari dia.
Sebaiknya memang kita tidak terlalu dekat dengan seseorang, ia mulai berteori tentang hubungan antar manusia. Karena semakin dekat, kita akan semakin berharap banyak. Dan semakin berharap banyak, kita akan semakin banyak kecewa. Dan menyalahkan si orang tersebut, atas ekspektasi kita yang tidak terpenuhi. Jadi balik lagi ke Khalil Gibran, bahwa gunung justru indah dipandang dari kejauhan. Dan tiang-tiang kuil tidak dibangun terlalu dekat. Dan dawai gitar pun memiliki nadanya sendiri, walaupun memainkan lagu yang sama. (By the by, saya tidak salah ketik. Yang betul memang Khalil Gibran, bukan Kahlil Gibran).
Maka yang tersulit adalah hubungan dalam perkawinan. Ketika dua orang menjadi teramat sangat dekat. Namun di saat yang sama, harus mengharap sesedikit mungkin, dan memberi sebanyak mungkin.
Bentuk egoisme paling tinggi adalah perang. Lawannya, adalah perkawinan. Sebuah bentuk pengabdian paling tinggi.
Sayang sekali, tengah asik saya mendengarkan teori-teori tersebut, kami harus segera mengakhiri percakapan. Karena kalau diteruskan, sampai pagi pun tidak akan selesai!
...
















It's the China Town that turns into a spacy outdoor eating place at night, with fortune tellers, souvenir stalls and people selling chinese gizmoz all around the place.

