Skip to main content

4 yang Selingkuh

...
Liburan kemarin menyisakan banyak cerita. Termasuk cerita sakit gigi, kamera andalan rusak (jatuh di Ice World! Huaaaa!!!!!!!!!!!), keponakan punya pacar baru, hingga yang menyedihkan seperti teman sekolah Anya yang sering dipukul ibunya. Termasuk juga, tentang 4 perselingkuhan.

"Hah???! Na'uzubillahi min zalik.... Kapan? ........ Oya? ............ Haduuu..."
Telinga saya langsung tegak. Ada apa nih? Kok pake nauzubillahi min zalik segala sih mpok gue ini ngobrol di telpon. Udahannya langsung saya todong. Pengen tauuuu aja..

"Tommy, suaminya Alin, selingkuh!"
"Na uzubillahi min zalik...," nah jadinya saya nyebut juga. "Ketauannya gimana?"
"Si Nia keceplosan (Nia kakaknya Alin)," kakak saya langsung ambil posisi curhat. "Kan lagi pada ngumpul makan niiiih.. berlima di Plaza Senayan."
"Siapa aja?"
"Biasa deh, satu gank minus gue. Nia, Alin, Erna, Sylvie, Vera."
"Terus?"
"Naaah, Nia ujug-ujug nanya ke Sylvie, tau tempat 'orang pinter' gak, yang bisa tau apakah seseorang under spell apa nggak. Sylvie bilang, dia taunya tempat pengobatan alternatif, bukan urusan guna-mengguna. Terus kan Sylvie jadi nanya donk, emangnya ada apa. Ya udah deh, Nia terpaksa terus terang. Dia bilang dia pengen tau si Tommy itu diguna-guna orang apa nggak. Nahlo, kan Sylvie makinan nanya ada apa. Akhirnya, mau gak mau, ceritalah si Alin tentang suaminya itu."
"Alin taunya gimana?"
"Akhir-akhir ini emang si Tommy itu suka telponan malem-malem lamaaaaaa banget. Alin tidur, kebangun malem, Tommy masih telponan. Pernah nih, pas Tommy lagi telponan, mati lampu. Orang rumah sibuk ngurusin lilin dan lain-lain, Tommy tetep telponan!"
"Hmm.."
"Dan kayaknya sih udah berlangsung lama deh.. Soalnya ternyata terungkaplah, bahwa dari mulai nikah 6 tahun yang lalu, yang ngebiayain operasional rumah tangga tuh si Alin, bukan Tommy. Termasuk nyicil rumah dan sewa apartemen selagi rumah dibangun."
"Aaah...."
"Terus beberapa waktu lalu, kebetulan tagihan kartu kredit belum kebayar, Alin minta uang ke Tommy. Eeh, Tommy malah marah-marah dan bilang gak punya uang!"
"Uh-uh. Terus dikonfrontasi gak?"
"Pas ceritanya belum selesai, eh si Tommy nongol jemput Alin. Jadinya berhenti deh ceritanya. Gue juga nungguin kelanjutannya nih gimana."
"Ya Allah.."
"Gue udah cerita belon sama elo, ternyata si Erna juga pernah selingkuh?" Erna salah satu gank mereka juga.
"Hah??! Erna??"
"Gue belom cerita ya? Iya si Erna. Heran kan lo?"
"Bangeeet....," saya masih melongo.
"Ketauan lagi, sama suaminya. Sampe ditongkrongin tuh si Erna sama suaminya. Makan siang dijemput, pulang kantor dijemput. Alhamdulillah sih gak cere'."
"...."
"Kalo dulu Andri sempet selingkuh juga, gue udah cerita belom?" Andri suami Nia.
"Yang sama pembantu itu?"
"Bukaaan....., itu sih waktu belom nikah. Ini yang sesudah nikah."
"Ya ampun, .........lagi? Jadi dua kali?"
"Yoi. Fotonya cewek itu ditemuin Nia di file-file kerjanya Andri. Kasusnya panjang tuh, gue sampe lupa gimana detailnya, saking seringnya Nia ngupdate gue. Tapi akhirnya Nia memutuskan untuk memaafkan Andri."

Sampai malam hari saya dan kakak masih memikirkan dan membicarakan perkara perselingkuhannya Tommy.

Kok ya kebetulan. Sehari sebelumnya, seorang sahabat saya baru saja cerita, bahwa suami teman kami ketahuan selingkuh juga. Ketika dikonfrontasi, sang suami justru balik marah dan malah menyalahkan sang istri, karena jadi penyebab berakhirnya hubungan dia dengan sang kekasih gelap.

Too much information in one vacation!
...

Comments

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?