Skip to main content

Menikah

Lazy Sunday, cloudy after the rain..
Song: Satu Bintang di langit Kelam - RSD

Tadi sore saya menyaksikan acara Nikah Gratis di televisi. Tontonan tentang sebuah keinginan sederhana (atau justru rumit?), tapi besar maknanya. Mudah-mudahan, besar pula pahalanya. Menyaksikan pasangan yang terpilih untuk dibiayai pernikahannya oleh si empunya acara, siapa pun yang mengaku manusia pasti akan tersentuh. Mereka begitu tidak percaya, bahwa kendala uang untuk menikah akhirnya bisa teratasi. Seperti kedatangan malaikat dari langit.

Keinginan sederhana,"..yang penting bisa ijab kabul, sah secara agama dan hukum negara, menjadi suami istri..."

Pernahkah mereka menginginkan hadiah pernikahan kapal pesiar seperti yang dihadiahkan Tiger Woods pada istri barunya? Atau resepsi pernikahan senilai 1,5 juta dollar di Barbados? Dengan hiburan Hootie & The Blowfish, Rod Stewart dan Elton John, sebagai pengganti penyanyi dangdut yang memeriahkan perkawinan mereka?
Tahukah mereka bahwa pernikahan seperti itu ada di dunia?
Lebih berpahala yang mana, nikah berbiaya pas-pasan atau 1,5 juta dollar?

Kakak saya yang nomor tiga juga akan menikah minggu depan. Undangan sebanyak 300 buah tentu saja terhitung sedikit untuk ukuran Indonesia, terutama karena kami berasal dari keluarga besar, Sumatera lagi. Karena itu kakak saya dan calon istrinya berminggu-minggu bergumul dengan persoalan berat: mana kerabat dan kenalan yang harus dikirimi undangan, mana yang tidak. Kakak saya dengan sangat mengecewakannya, nyeplos dengan perkataan,"..yang mana yang kira-kira bakal ngasih angpau gede aja.."
Mudah-mudahan dia tidak serius, walaupun kakak perempuan saya berpendapat ia serius dan sekarang bersedih hati dengan kenyataan itu (wanita memang terlalu banyak khawatir).

Betulkah kita bisa menilai bahwa orang ini bakal gede angpaunya, dan orang itu pasti kecil angpaunya? Kalaupun bisa, besar mana antara nilai angpau dengan doa yang tulus? Besar mana antara nilai angpau dengan hubungan baik?

Ketika saya nikah dulu, semuanya serba 'ngoboy'. Kalau bukan karena menuruti keinginan orang tua, saya maunya gak pake segala macem tetek bengek yang gak perlu. Hantaran lah, souvenir lah, pelangkah lah. Saya beruntung, karena Ayah saya adalah orang yang hanya dan hanya berpegang pada prinsip agama: tidak menjalankan tradisi kedaerahan jika di agama kami tidak diperintahkan. Jadi saya berhasil mengadakan pernikahan yang sangat simpel, nyaris bersih dari segala tradisi yang tidak perlu dan memakan biaya besar (kecuali adat tarik-tarikan ayam yang dengan mata berkaca-kaca diminta oleh ibu kedua saya untuk dilaksanakan, dan saya setujui karena biayanya tidak besar. Walaupun ngilu sendiri waktu melakukannya, berasa diri bodoh dan gak masuk akal. Demi menyenangkan beliau lah..)

Hantaran dari keluarga suami saya bukan benda-benda bermerk. Tapi barang-barang unik yang saya sukai, berasal dari koleksi lama suami saya: bendera Inggris ukuran kecil, buku Hard Days Write: The Story Behind Every Beatles' Song karya Steve Turner, dasi bergambar kolase foto-foto The Beatles.
Benda-benda hantaran yang saya beli di Mangga Dua hanyalah sepatu pesta seharga 60 ribu, tas pesta 50 ribu, baju dalam 50 ribuan, mukena 125 ribu. Semua barang itu masih saya pakai hingga sekarang.

Ada satu rahasia yang saya sembunyikan sampai sekarang, bahkan dari kakak-kakak saya. Ketika saya membeli cincin kawin, saya memperlihatkannya kepada kakak perempuan saya. Terbuat dari emas putih. Tanpa mata, apalagi berlian. Berhias semacam ukiran antik. Cantik dan sangat unik. Kakak saya mengaguminya dengan hati senang.
Cincin itu kemudian saya dan suami saling pasangkan di jari seusai ijab kabul.

Yang mereka tidak tahu adalah, saya tidak pernah punya cincin kawin. Cincin itu bukan emas putih. Terbuat dari logam murahan entah apa, saya beli seharga 5000 rupiah di toko Valu$!

Setelah acara selesai, kami mencopot cincin itu dan menyimpannya di tempat yang aman. Sekarang, entah di mana keberadaan cincin itu!

..

Comments

  1. jadi ingat pas nikah dulu, dengan sunting yang beratnya bikin syl harus minum paramex ;) belum jamannya menulis note bahwa kita lebih senang menerima angpao, jadi hadiah kawinan setrikaan, jam dinding, cangkir, menduduki urutan tertinggi ;)

    ingat juga ttg cincin kawin yang sekarang duduk manis di dalam kotak cantik, tidak lagi bertengger menghiasi jari manis kami berdua. since they don't fit us anymore :(. dengan berjalannya waktu, kami juga tumbuh alias jadi gendut and the wedding rings becoming too small he..he..he..

    SyL
    http://keluargacemara.net/emak

    ReplyDelete
  2. mudah2an ketika aku menikah nanti, dengan cara yang sederhana, tanpa acara adat dan tradisi, hanya dengan tata cara agama yang benar. mengundang semua orang di sekeliling rumah dan juga semua kenalan dengan sebuah walimah yang sederhana juga. berbagi kebahagiaan dengan sesama..

    ReplyDelete
  3. qiqiqiq .... samaan kyak nikahan aku & suami, mbak. cuma punya modal 3jt rencananya akad aja, ternyata banyak tetangga yg baik hati, ada yg menyediakan catering 100porsi (dibayar klo acara selesai), Ibu Lurah yg meminjamkan tenda,riasan,pelaminan & semuanya cuma minta dibayar 600rb, hantaran nikah disiapkan oleh teman2 (hasil saweran meraka)
    jadilah 1000 undangan yg hadir & alhamdulillah semua bisa terbayar dg uang angpao yg kuterima, dg sisa uang cuma 40rb ditangan dan harus menunggu 1 minggu lg hingga gajian tiba.
    Alhamdulillah gak nyusahin orang tua he..he....

    ReplyDelete
  4. entah kenapa, saya ikut terharu juga membaca cerita pernikahan simpel seperti yang anda alami...

    salam kenal.

    ReplyDelete
  5. jadi inget pas acara batal nikah dulu...hehehe....kalau aja semua perempuan kaya' elo riana...

    ReplyDelete
  6. 1. Adat atau bukan adat, selama uangnya ada tidak salah juga menyenangkan hati orang tua, apalagi untuk anak semata wayang (saya bukan anak semata wayang, juga nikahnya sederhana dg uang di tabungan BCA 50 rb rupiah tahun 2001)

    2. Kenapa sih dalam melakukan sesuatu, orang Indonesia yg paling rasional pun selalu mempertimbangkan soal "pahala". Seakan2 semua berdagang dg Tuhan. Do what you really want to do, a good one, without thinking whether you will obtain a "pahala" or not, God is a merciful one, He always knows if we do a good or a bad thing and always pleased if we do a good one. (saya Islam)

    salam, :)

    ReplyDelete
  7. saya juga dulu ga pake adat tetek bengek.. persiapan berdua aja ga ada panitia2an, tapi seru banget, duh kalau ingat kita pasti senyum2, semua kreativitas dikeluarkan demi menjaga cost yang minim.. oo tiger woods itu udah married ya? *patah hati*..

    ReplyDelete
  8. setelah ditulis di sini, berarti bukan rahasia lagi dong ya Ri.. ;)

    ReplyDelete
  9. Jadi inget 6 th yg ll, semua serba diluar rencana, dari hasil pembicaraan para sesepuh malah sblm hari H acara yg direncanakan cuman acara pertunangan jadi ada ijab kabul. Tenda dipasang pagi2 subuh, Kakek ngundang temen2 pengajiannya malam itu jg. Tanteku menghubungi Tukang sate langganan yg emang rumahnya tetanggan. Es Puter yg biasa lewat jg dah di "booking", Siomay langganan jg berhasil di"bajak". Semuanya serba spontan. Dan Alhamdulilah ijab kabul sukses, cuman temen2 pada shock aja kok jadi ada ijab kabul huehehehehehe. Oh yah psssstttt..aku jg udah gak make cincin kawin kok Mbak, punya suamiku hilang sdgkan punyaku udah "dikecilin" dulu pas lagi BU. ;) tenang...you're not alone!!!

    ReplyDelete
  10. Salam kenal sebelumnya.

    Gak sengaja saya kesasar di sini dan jelas2 tersentuh dengan postingan anda ini.

    Untuk menghindari tetek bengek urusan adat dan pernikahan, saya dan suami melakukan pernikahan di negeri Paman Sam dengan hanya di hadiri segelintir teman. Di karena kebetulan saja waktu suami ada tugas ke sana jadi sambil menyelam kami menikah.

    ReplyDelete
  11. Iya Ri aku juga terharu kalau nonton acara itu, tp Ri sebetulnya kalo dipikir asal ijab qobul mah gak perlu dana toh, asal ada wali dan saksi. Wali dah jelas ortu yg cewek (kalau syaratnya terpenuhi) dan saksi juga gak harus orang lain, tetangga atau sodara juga gpp.

    ReplyDelete
  12. Betul sekali, mbak ! Tiap kali nonton tayangan itu terus meliat sekeliling tempat tinggal, sambil jalan di jalan raya dsbnya, kok hati terasa bahagia sekaligus tragis. How can be so difficult to get married in here ?! hiks :((

    Jangan pernah menuding atau menyalahkan jika terjadi kumpul kebo ataupun free sex yg dah jelas2 ada & nyata di sektiar kita saat ini. Bagaimana tidak ?! Menikah saja jadi komoditi yg luar biasa mahal melebihi apapun...hiks...

    Ingat satu cerita. Saat ada teman yg rela menggadaikan apapun yg dipunya (hingga pekerjaannya!), padahal ia bukan dari golongan yg serba berkecukupan. Tapi hanya krn keinginannya utk "menyenangkan" memenuhi keinginan kedua ortunya. Padahal ia sendiri jadi tulang punggung keluarga itu. Walhasil jadilah pesta meriah yg diinginkan keluarga. Tiba saatnya kini saat ia sudah masuk dalam bahtera rumah tangga yg sesungguhnya, ia harus membayar tiap hutang dan apapun yg digadaikannya. Hingga keluarga pun menuding dan mencaci makinya. Jika sudah begini, maka yg paling sengsara jelas temanku ini yg hingga kini masih dikejar2 debt collector..hiks...tragis!

    Dulu sekali saat belum menemukan pasangan hidup (baca: bapake alyssa hehehe) ingin sekali menikah di luar negeri aja. BUkan mengikuti trend atau apapun. Tapi lebih ke krn aku gak punya cukup uang utk melakukan pernikahan yg sederhana saja. Juga krn i do really love my privacy and this special moment will be our (me-my hubbie) unforgetable moment. Meksi akhirnya jodohku adalah wong indonesia asli dan keluarganya gak terima samsek kalo anak bungsunya menikah sederhana spt org kere (melas ya..)

    Anyhow...my summary of beyond the story is kita harus sama2 merubah pola pikir kita, temans ! Kita harus ubah budidaya menikah dg acara besar2an (kata temenku yg dtg dari amrik "What ?! 500?! Are you a famous person or what?!"...hihi padahal seleb kelas dapur hehehe).
    Kita sama2 mulai mengubah miskonsepsi yg dah mendarahdaging ini. Aku yakin mbak, sooner or later kalo tiap kita aja mikir spt itu, maka generasi yg akan datang akan much much better. Insya Allah.

    Kembali ke fitrahnya. Kembali ke jalan semula. Bahwa pernikahan bukanlah utk bermegah2an spt yg dicontohkan Rasulllah SAW. Amin ya Allah.

    Luluk

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? …

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…