Skip to main content

The Land of a Thousand Mosques!

Kuta Lombok

Bagaimana menceritakan Lombok dengan sederhana?
Pulau cantik nan perawan

[membuat Bali tak ubahnya
janda sembab bermulut bising,
 dengan makeup norak dan renda kumuh].

pasir merica bulat

Pantai sunyi,
berpasir merica bulat,
berlaut biru tosca.

Lombok yang tenang,
Lombok yang sepi.

Tanah seribu mesjid!


The land of a thousand mosques!

penyu dan ikan


Hiu
kecil,

penyu-penyu bermata sayu,
berwajah ramah,

ikan warna-warni
berombong-rombong.



kerang-kerang, mutiara-mutiara


Kilau mutiara,

kilau kerang-kerang,

pendar Putri Nyale.





Jalan berliku menyusur tebing,
di atas punggung bukit.

Tahi kuda,
rumput gersang,
sapi kurus.
Busung lapar.

jalan panas

Lombok yang tenang, Lombok yang sepi.
Bagaimana menceritakanmu dengan sederhana?

..

Comments

  1. Jadi ini toh, hasilnya? Tutup dapur buat menikmati smuwa ini? Wuah.... asyiknya.

    ReplyDelete
  2. dear mba ri, i love this quote "membuat Bali tak ubahnya janda sembab bermulut bising, dengan makeup norak dan renda kumuh"
    sejak tinggal di bali, area kuta dan sekitarnya adl area yg paling menyebalkan and its hard to say the answer setiap ditanya hubby... akhirnya ketemu jg jawaban yg melengkapi semuanya...tks anyway...

    ReplyDelete
  3. subhanallah...
    baru tau kalo mba Riana pernah ke lombok.
    a nice words to appreciated the land of lombok.

    ReplyDelete
  4. @ Windy & Anonymous: thank you. it is a beautiful island. i miss it so much. *rindu Gili*

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?